| main article site » |
Published in
Situs Ristek (10 December 2012)
Asisten Deputi Data dan Informasi Iptek bekerja sama dengan ASEAN Secretariat, mengadakan ASEAN Seminar tentang Science & Technology Data Information Interoperability Using Open Source Software dengan tema: Building Synergies & Dissemination. Salah satu tujuan kegiatan ini untuk mengembalikan semangat pemanfaatan Open Source (OS) di lingkungan negara-negara ASEAN, dimana Indonesia menjadi penanggung jawab pengembangan dan pemanfaatan OS pada flagship kerjasama ASEAN. Sementara itu, diharapkan juga dapat terjalinnya sharing data dan informasi iptek antar instansi hingga lingkup ASEAN.
Acara dibuka oleh Agus Sediadi, Asisten Deputi Data & Informasi Iptek Kementerian Riset & Teknologi. Pada kesempatan ini, dihadirkan Zainal A. Hasibuan (Wakil Ketua Pelaksana-DETIKNAS) yang memaparkan:-Y¡Perkembangan Terkini Berbagi Data dan Informasi Iptek Melalui Interoperabilitas Menggunakan Open Source Software (OSS)¡; Agus Subekti (Direktur Penelitian dan Pengembangan Masyarakat. P2M-DIKTI) dengan topik:¡Kesiapan dan Kesediaan Portal Garuda (DIKTI) Dalam Melakukan Kerjasama Interoperabilitas Data dan Informasi Iptek¡. Sesi ini dimoderatori oleh Alvini Pranoto, (Asdep KIS Iptek-Ristek).
Selanjutnya paparan disampaikan oleh L.T. Handoko (Kepala Pusat Penelitian Informatik%Gâ%@LIPI dan Koordinator Representasi ASEAN COST Subcommittee on ICMT) berjudul:¡Konsep dan Teknis Interoperabilitas Data dan Informasi Iptek antar Instansi¡. Paparan terakhir disampaikan oleh Kamthorn Krairaksa (Assistant Researcher, Open Source Software Laboratory, National Electronics and Computer Technology Center-NECTEC), Thailand. Perwakilan ASEAN yang dapat hadir, dengan topik:¡The Policy and The Practical of Thailand in Developing of Data and Information System Trough Interoperability¡, sebagai moderator Nada Darmiyanti (Asdep JII-Ristek). Peserta hadir tercatat lebih dari 100 orang, dari berbagai institusi pusat/daerah.
Hal utama hasil seminar ini, adalah: (1) Kesiapan dan kesediaan Portal GARUDA (DIKTI-Kemendikbud) melakukan kerjasama interoperabilitas dengan Kemenristek dan (2) Interoperabilitas data dan informasi iptek diantara negara-negara ASEAN secara teknis sangat mungkin dilakukan. (ad4-dep2/ humasristek)
Published in
Situs Ristek (24 Oktober 2012)
Penguasaan ilmu murni, ilmu terapan dan rekayasa di bidang teknologi informatika dan komunikasi (TIK) merupakan faktor strategis dan vital dalam upaya meningkatkan daya saing nasional ditengah era persaingan perdagangan bebas dunia saat ini. Oleh karena itu, upaya-upaya peningkatan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia (P3EI) menjadi perhatian sangat serius bagi Indonesia. Salah satu bidang TIK yang seyogyanya mendapat perhatian secara khusus agar Indonesia mampu mandiri dan mengambil manfaat sebesar-besarnya atas terbukanya peluang pasar yang sangat lebar di bidang industri TIK nasional saat ini dan mendatang, maka pengembangan kemampuan nasional dalam rancang bangun dan pendayagunaan riset "Sistem Tertanam" (Embedded System) mutlak harus dibangun dan dikawal.
Penggunaan âSistem Tertanamâ ini sudah sangat luas dan terus berkembang dalam kehidupan masyarakat dan industry, diantaranya dimanfaatkan pada peralatan-peralatan: 1). Elektronika konsumen (consumer electronics) seperti telepon genggam handphone, peralatan global positioning system (GPS), pemutar MP3 (MP3 Player), serta alat rumah tangga microwave dan rice cooker; 2). Peralatan Industri (industrial electronic devices), dimana sistem tertanam menjadi komponen penting untuk tugas-tugas komplek dalam produksi dan otomasi fabrikasi, programmable logic controller (PLC) dan sensor cerdas; 3). Alat-alat elektromedis (medical electronic devices) seperti peralatan Ultrasonography (USG), detektor denyut jantung,dan alat pengukur gula darah elektronis, maupun alat pencitraan medis (medical imaging); 4). Jaringan komputer (computer networks), routers, switches dan wireless access points.
Kementerian Riset dan Teknologi bersama dengan Kementerian Kominfo dalam Seminar Nasional Embedded System pada tanggal 20 September 2012 di Bandung telah berkoordinasi untuk mengusung kapasitas lembaga penelitian dan pengembangan dalam negeri untuk mengembangkan dan mempercepat aplikasi kemampuan rancang bangun dan pemanfaatan teknologi sistim tertanam dalam produk-produk teknologi yang dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat, diantaranya adalah pemanfaatan produk sistim tertanam berupa software Bandros hasil rekayasa dari Pusat Penelitian Informatika LIPI sebagai operating system pada perangkat handphone yang akan dibuat oleh PT INTI.
Kemudian dalam diskusi terbatas yang dihadiri Hari Purwanto-Staf Ahli Menristek Bidang ICT dan Transportasi, LT Handoko-Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI, Kemal Prihatman-Asdep Pendayagunaan Iptek Industri Strategis yang mewakili Deputi Pendayaguanaan Iptek, bersama para peneliti dan perekayasa sistim tertanam pada tanggal 22 Oktober 2012 di Bandung telah membahas beberapa produk sistim tertanam lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, diantaranya adalah batterey management system yang diaplikasikan pada Bus Listrik, Bandros yang diaplikasikan pada Handphone, scrambler komunikasi telepon, yang kemudian dilanjutkan peninjauan sistim tertanam yang diaplikasikan pada stasiun pengamat cuaca di Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung.
Penguasaan teknologi sistim tertanam dirancang untuk tujuan khusus baik untuk melakukan satu atau banyak tugas dalam komputasi yang real-time dan pemanfaatannya mempunyai pangsa pasar yang sangat besar di dalam negeri, dimana saat ini sistem tertanam menjadi basis hampir seluruh peralatan mutakhir, baik alat rumah tangga, alat komunikasi, maupun alat industri. Untuk mampu bersaing maka melalui MP3EI melalui upaya sinergis, komprehensif dan integral para ilmuwan, teknolog, dan pelaku industri secara kontinu berkonsorsium bekerja sama melakukan pengembangan rancang bangun dan pendayagunaan Embedded System (Sistim Tertanam) melalui proses akuisi pengetahuan dan akuisisi teknologi, sebagai bagian dalam upaya peningkatan tingkat kandungan teknologi dalam negeri, berkerangka sistim inovasi nasional (SINas). (sa-tikt/ humasristek)
Published in
Situs Lapan (11 Oktober 2012)
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat. Teknologi ini tentunya mempermudah komunikasi di berbagai instansi begitu pula di Lapan. Hal tersebut dijelaskan oleh Sekretaris Utama Lapan, Sri Kaloka Prabotosari, saat Konsolidasi Pedoman Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Lapan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Rabu (10/10).
Dalam kegiatan tersebut, Lapan menyusun pedoman tata kelola TIK. Sekretaris Utama Lapan mengatakan bahwa tata kelola merupakan sekumpulan aturan, kebijakan, proses, dan mekanisme yang dilakukan secara profesional.
Kepala Biro Kerjasama dan Humas Lapan memaparkan mengenai kondisi teknologi informasi dan komunikasi Lapan
Dengan adanya tata kelola TIK, ia berharap agar instansi pemerintah dapat segera memanfaatkannya teknologi ini untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Terdapat tiga hal yang dibahas dalam tata kelola TIK yaitu sistem e-mail, konten, dan jaringan. Sri mengatakan bahwa sistem jaringan di Lapan perlu dikembangkan guna mendukung kelancaran kegiatan Lapan.
TIK sangat mendukung pelaksanaan UU No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam undang-undang tersebut, pemerintah wajib menyampaikan informasi kepada publik. -YŽLapan sebagai lembaga penelitian perlu memberikan pelayanan informasi yang dapat digunakan oleh masyarakat. Namun, sebelum disampaikan kepada masyarakat, informasi tersebut perlu diolah terlebih dahulu. Untuk itu, kita perlu membangun sistem dan aturan serta pemanfaatan TIK yang disesuaikan dengan kondisi Lapan,¡ ujar Sekretaris Utama.
Konsolidasi ini berlangsung pada 10-12 Oktober 2012. Konsolidasi diikuti oleh pejabat struktural dan staf perwakilan dari berbagai unit kerja Lapan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membuat tata kelola TIK Lapan. Hal ini guna mendukung program e-government instansi pemerintah yang transparan, efisien, efektif, dan akuntabel.
Dalam kegiatan ini, juga dihadirkan pakar jaringan IT dari LIPI, Dr. LT Handoko yang memaparkan mengenai strategi penerapan tata kelola TIK LIPI dalam mendukung pengembangan e-government dan pakar TIK nasional Prof. I Wayan Simri Wicaksana, Ph.D, yang menjelaskan tentang tata kelola TIK instansi pemerintah dalam mendukung pengembangan e-government.
Published in
Situs LIPI (Humas LIPI, 26 September 2012)
(Jakarta, 26 September 2012 - Humas LIPI) Kemajuan signifikan atas proses pengajuan remunerasi serta kenaikan tunjangan penelitian merupakan berita baik yang telah lama ditunggu. Namun pengakuan ini hendaknya tidak membuat lengah dan berbangga diri. -YŽAdalah tugas kita bersama untuk menbuktikan bahwa kita layak menerimanya dan selalu kita jaga amanah serta tugas ini untuk tetap berada di garda penelitian dengan sistem pendukung tepat yang terdepan,¡ ujar Kepala LIPI Prof.Dr.Lukman Hakim di Pelantikan Pejabat Struktural Eselon II, III, dan IV LIPI di Widya Graha Lt. 1, Kampus LIPI Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (26/9) lalu.
Pada kesempatan tersebut, Kepala LIPI melantik 34 pejabat baru di lingkungan LIPI. Masing-masing adalah :.
Eselon II
1. Dr.Laksana Tri Handoko,M.Sc. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Pusat Penelitian Informatika
Eselon III
1. Rr. Widhya Yusi Samirahayu, S.E., M.T. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Bagian Tata Usaha, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI
2. Drs. Edward H. Lumbantoruan, M.M. sebagai Kepala Bagian Rumah Tangga, Biro Umum dan Perlengkapan LIPI
3. Dra. Iroh Siti Zahroh, M.Si. sebagai Kepala Bagian Tata Usaha, Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI
4. Bawono Mulyono, S.H., M.Si. sebagai Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan, Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI
5. Pudji Irasari, M.Sc. rer. nat sebagai Kepala Bidang Mekatronik, Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI
6. Irine Hiraswari Gayatri, S.Sos. M.A. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Bidang Perkembangan Politik Nasional, Pusat Penelitian Politik LIPI
7. Dr. Purwowibowo, M.T. sebagai Kepala Bidang Jasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi LIPI
8. Prof. Dr. Sulaeman Yusuf, M.Agr. sebagai Kepala UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial
Eselon IV
1. Yudho Utomo, S.Kom. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Dokumentasi dan Informasi, Bidang Tata Operasional, Pusat Penelitian Sumber Daya Regional LIPI
2. Rianty Hardyani, S.Sos. sebagai Kepala Subbagian Peningkatan Peranan Organisasi Profesi Ilmiah, Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah, Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI
3. Sri Rachmi Fitrianti, S.E. sebagai Kepala Subbagian Protokol dan Perjalanan Dinas, Bagian Rumah Tangga, Biro Umum dan Perlengkapan
4. Melinda Sinaga, S.Sos. sebagai Kepala Subbagian Persuratan dan Penggandaan, Bagian Tata Usaha dan Kearsipan, Biro Umum dan Perlengkapan LIPI
5. Hari Kurniatmadji, S.Kom sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Sub Bagian Arsip dan Dokumentasi, Bagian Tata Usaha dan Kearsipan, Biro Umum dan Perlengkapan LIPI
6. Rini Wijayanti, S.Kom, M.Kom sebagai Kepala Subbidang Pangkalan Data dan Pengukuran Parameter Iptek, Bidang Sistem Informasi Manajemen, Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI
7. Indri Juwita Asmara, S.Kom., M.T.I. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Aplikasi Sistem Informasi dan Kontrol, Bidang Sistem Informasi Manajemen Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI
8. Ika Susanti, S.E., M.M. sebagai Kepala Subbidang Pendidikan dan Pelatihan Teknis Kedinasan, Bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan, Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI
9. Indra Riswadinata, S.H., M.H.sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Peneliti, Bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan, Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI
10.Sri Ayuni, S.I.P sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Penyuluhan dan Informasi, Bidang Penilaian dan Akreditasi, Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Peneliti LIPI
11.Mahmud Bugis, S.E. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala UPT Loka Konservasi Biota Laut Tual, Maluku Tenggara
12.Achmad Praptijanto, S.T. sebagai Kepala Sub Bidang Sarana Peralatan Transportasi, Bidang Sarana Penelitian, Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI
13.Dadan Ridwan Saleh, S.T. sebagai Kepala Sub Bagian Jasa dan Informasi, Bagian Tata Usaha, Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI
14.Emil Kristanti, S.E sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Sub Bagian Kepegawaian, Bagian Tata Usaha, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI
15.Ulin Herlina, S.T. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Seksi Jasa dan Informasi UPT Balai Pengolahan Mineral Lampung LIPI
16.Fajar Nurjaman, S.T. sebagai Kepala Seksi Penambangan dan Pengolahan Mineral Logam, UPT Balai Pengolahan Mineral Lampung LIPI
17.Rr. Emilia Yustiningrum, S.IP. M.A. sebagai Kepala Subbidang Kerja Sama Penelitian, Bidang Tata Operasional, Pusat Penelitian Politik LIPI
18.Dini Rahmiati, S.Sos. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Dokumentasi dan Informasi, Bidang Tata Operasional, Pusat Penelitian Politik LIPI
19.Dwi Untari, S.Sos., M.I.Kom. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Dokumentasi dan Informasi, Bidang Tata Operasional, Pusat Penelitian Ekonomi LIPI
20.Aditya Achmadi, S.Si. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbidang Metrologi Suhu, Bidang Metrologi, Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi LIPI
21.Harini Yaniar, S.Si. M.Kom. sebagai Kepala Subbidang Identifikasi dan Sosialisasi HKI, Bidang Pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual, Pusat Inovasi LIPI
22.Amsanih, S.H. sebagai Kepala Subbagian Kepegawaian, Bagian Tata Usaha, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI
23.Dr. Ir. Tri Margono, M.IS. sebagai Kepala Subbidang Akuisisi dan Koleksi Literatur, Bidang Dokumentasi, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI
24.Teguh Heri Pranowo, S.Sn. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Seksi Pemasyarakatan dan Kerja Sama, UPT Balai Informasi Teknologi LIPI
25.Ismed Dharmawan, S.IP. sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Subbagian Penyusunan Anggaran Pembangunan, Bagian Penyusunan Anggaran, Biro Perencanaan dan Keuangan LIPI
Published in
Solo Pos (28 September 2012)
Kabar gembira datang dari kalangan pelajar Indonesia. Ada seorang siswa dari SMAN 6 Yogyakarta yang berhasil menciptakan bra khusus penampung dan pensteril ASI. Salut!
Siswa tersebut juara I dalam ajang National Young Inventor Award (NYIA) yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Atas prestasinya, dia diganjar hadiah Rp 8 juta dan medali, serta tiket ke lomba sejenis tingkat ASEAN di Malaysia pada tahun 2013 mendatang.
Menurut salah seorang juri, Handoko, karya siswa tersebut dipilih karena paling orisinil, unik, dan fungsional. Idenya berasal dari sang ibunda yang kerap mengalami ~kebocoran~ ASI saat bekerja.
-YŽJadi dia mengkombinasikan karet lateks, lalu ditaruh di bra dan dihubungkan dengan selang. Ada juga lapisan alumunium foil,¡ ujar Handoko saat berbincang dengan detikcom, Kamis (27/9/2012).
ŽJadi alat itu menampung susu yang keluar berlebih dan mensterilkannya di suhu yang sesuai,¡ sambungnya.
Selain karya di atas, ada sejumlah karya lain yang dipamerkan dalam pameran penemu LIPI pada 25 September lalu, di antaranya -F~Pelampung anti tsunami yang dapat disiapkan massal waktu kurang dari 5 menit-Y¡ karya siswa SMPN 1 Bogor dan -F~Sepatu Anti kekerasan seksual~ karya siswa SMPN 1 Bogor.
Tidak hanya itu, ada 36 karya ilmiah dan guru yang mendapat penghargaan LIPI dan Bumiputera. Mereka terbagi dalam empat kategori yakni Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-44, Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) Ke-20, Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) Ke-11 dan National Young Inventor Awards (NYIA) Ke-5.
Yusuar, SH, Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah BKPI-LIPI mengungkapkan, setiap kompetisi menghasilkan tiga juara, yakni Juara I, II dan III untuk masing-masing bidang. Hadiah untuk tiga kompetisi (LKIR, LKIG serta PPRI) berupa piala dan uang tunai Juara I sebesar Rp 12 juta, Juara II Rp 10 juta dan Juara III Rp 8 juta.
Berikut daftar para juaranya:
Juara I LKIR bidang IPSK adalah -YŽTingkat Keberhasilan Kartu Terumbu Karang terhadap Meningkatnya Pengetahuan tentang Ekosistem Terumbu Karang¡ (SMA Tarsisius 1, Jakarta), bidang IPA yakni ŽMagic Telang Paper Test : Pemanfaatan Ekstrak Citorea Ternatea (Bunga Telang) Berpigmen Antosianin Sebagai Bahan Indikator Penguji Zat Formalin Dan Boraks Dalam Makanan¡ (SMAN 63 Jakarta), bidang IPTR adalah ŽPengaruh Variasi Jumlah Lapisan dan Orientasi Sudut Anyaman Bambu Komposit sebagai Alternatif Bahan Sungkup Helm Kendaraan Bermotor Roda Dua¡ (SMA Santa Laurensia Serpong).
Juara I LKIG tingkat SD adalah ŽPeningkatan Kemampuan Membaca dan Membuat Denah melalui Media Block Card pada Siswa Tunanetra Kelas I SD di SLB N Semarang Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012¡ (SLBN Semarang), tingkat SMP bidang IPSK adalah ŽPenggunaan Kardus dan Bangku Panjang sebagai Media Pembelajaran Melalui Penerapan Metode Inklusi dalam Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Lompat Jauh Gaya Menggantung Siswa Kelas IX-H SMP Negeri 4 Balikpapan¡ (SMP Negeri 14 Balikpapan), tingkat SMP bidang MIPATEK yakni ¡Penggunaan Media ŽPagertormaku¡ dengan Metode TAI Teknik ŽCocacola¡ untuk Meningkatkan Karakter Kreatif dan Prestasi Belajar Siswa pada Materi Pemfaktoran Persamaan Kuadrat Kelas VIII.B SMPN 2 Karangkobar¡ (SMP Negeri 2 Karangkobar, Banjarnegara), tingkat SMA bidang IPSK adalah ŽPembelajaran Al-Qur-F~an dengan Multimedia Interaktif Melalui Strategi PAIKEM untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik elas XI IPA 2 SMAN 1 Karangrengah Demak Tahun Pelajaran 2012/2013-Y¡ (SMAN 1 Karangtengah, Demak), tingkat SMA bidang MIPATEK adalah ŽKIT-Elektrolit Tester sebagai Model Moving Lab. untuk Menyajikan Pembelajaran Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit secara Efektif dan Efisien di Kelas X SMA Negeri 1 Ponorogo¡ (SMA Negeri 1 Ponorogo).
Juara I PPRI bidang IPSK adalah ŽDiskriminasi Pelayanan Publik di Rumah Sakit S¡ (Universitas Gadjah Mada), bidang IPA yaitu ŽPenggunaan Ekstrak Daun Sirih Hijau dalam Desain Ag Nanopartikel¡ (Universitas Gadjah Mada), bidang IPT adalah ŽTeknik Ekstraksi Zat Antikanker Buah Leunca (S. nigrum) dengan Fluida Superkritis Karbondioksida untuk Produk Kosmetika sebagai Aditif Tabir Surya Alami¡ (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya).
Published in
Tempo (Liputan Khusus : Tokoh Penemu, 19 Agustus 2012)
Published in Kompas (Laporan Iptek : Salomo Simanungkalit, 15 Agustus 2012)
Bongkar dahulu misteri Alam Semesta sampai kepedalamannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu. Janji baru ini, terhitung per 31 Juli 2012, bolehlah dipegang kaum fisikawan yang kesukaannya ialah hukum-hukum dasar alam, dan yang merenungkan hukum-hukum itu siang dan malam.
Pada hari itu Yayasan Milner yang bermarkas di Rusia mengawali kiprahnya membagi 3 juta dollar AS - sekitar Rp. 29 milyar - kepada fisikawan yang dinilai berhasil membuka mata pengetahuan anak manusia menyelami jagat raya hingga tingkat paling dalam dan mampu pula menjangkitkan gairah dalam fisika fundamental itu kepada publik.
Dalam kesempatan perdana ini Fundamental Physics Prize, demikian nama penghargaan itu, diberikan kepada sembilan fisikawan yang boleh jadi - karena besarnya nilai uang hadiah ini - menenung mereka mendadak menjadi fisikawan kaya raya.
Alan H Guth, guru besar fisika di Massachusetts Institute of Technology, yang memperoleh kusala itu untuk gagasannya mengenai inflasi kosmik semula mengira 3 juta dollar dibagi sembilan. Begitu melihat rekeningnya yang sehari sebelumnya hanya 200 dollar bertambah dan menjadi gendut, ia terkaget-kaget.
"Tiba-tiba tabungan saya 3.000.200 dollar," katanya kepada The New York Times. "Memang ada potongan 12 dollar untuk biaya transfer, tapi itu gampang sekali diabaikan."
Fundamental Physics Prize, dengan demikian, merupakan penghargaan akademik yang paling tinggi nilai uangnya untuk saat ini. Ia menumbangkan Hadiah Nobel yang 1,2 juta dollar, kadang-kadang dibagi untuk dua atau tiga pemenang dalam satu kategori, bahkan Hadiah Templeton bagi mereka yang menyumbangkan pemahaman baru akan dimensi spiritual kehidupan yang didaku sebelumnya setinggi paling tinggi: 1,7 juta dollar AS.
Adalah Yuri Milner pendiri yayasan yang dipersembahkan untuk memajukan pemahaman anak manusia mengenai Alam Semesta sampai pada level terdalam itu dengan menganugerahkan hadiah tahunan bagi karya-karya yang membuat terobosan-terobosan saintifik. Yayasan Milner juga mewajibkan para penerima kusala mengomunikasikan subyek keahlian mereka kepada masyarakat seluas-luasnya melalui ceramah publik.
Berusia 50 tahun, Yuri Milner pengusaha sukses Rusia. Ia mendirikan perusahaan investasi Digital Sky Technologies (DST) serta menanamkan modal pada perusahaan Facebook, Zynga, Twitter, Sportify, ZocDoc, dan Groupon. Majalah Fortune menempatkan Milner pada urutan ke-46 daftar 50 pengusaha terkemuka dunia sepanjang 2010 dan merupakan satu-satunya dari Rusia.
Pengusaha yang fisikawan
Pada tahun yang sama majalah bisnis Rusia, Vedomosti, menabalkannya sebagai Tokoh Bisnis 2010. Bahwa ia terpanggil membagi kekayaannya kepada fisikawan fundamental (khusus mempelajari asal-usul Alam Semesta, partikel elementer, inovasi matematika untuk merumuskan hukum-hukum alam), itu tak terlepas dari riwayat hukum sekolahnya.
Milner menyelesaikan sarjana dalam fisika teori pada 1985 di Universitas Negeri Moskwa. Kemudian ia bekerja di Institut Fisika Lebedev, yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, dan satu departemen dengan fisikawan penerima Nobel. Vitaly Ginzburg. Sempat jadi kandidat doktor fisika partikel, tapi ini tak diselesaikannya. Milner bersahabat baik dengan fisikawan nuklir Soviet dan pejuang hak asasi manusia, Andrei Sakharov.
Latar sebagai fisikawan teori ini pula yang menjelaskan mengapa karya-karya yang mendapat Fundamental Physics Prize tidak harus terbukti secara eksperimental. Itu yang membedakan kusala ini dengan Hadiah Nobel untuk Fisika yang memprasyaratkan "terbukti secara eksperimental". [Itu sebabnya Einstein tidak mendapat Nobel karena Teori Relativitas, melainkan memperolehnya melalui Efek Fotolistrik.]
Gagasan-gagasan fisika yang indah dan menakjubkan, seperti mahakarya seni, tetapi belum dapat dipertanggungjawabkan secara eksperimental mendapat tempat leluasa dalam Fundamental Physics Prize sebab, kata Milner, "this intellectual quest to understand the universe really defines us as human beings."
Empat fisikawan yang bekerja di Institute of Advanced Studies di Princeton - Nima Arkani-Hamed, Juan Maldacena, Nathan Seiberg, dan Edward Witten - mendapat kusalah ini untuk teori-teori mereka memadukan partikel elementer dan interaksi yang ada di Alam Semesta dengan perangkat matematika yang dikenal sebagai "teori string". Inipun belum ada pertanggungjawaban eskperimentalnya.
Pemenang lain adalah Andrei Linde, fisikawan Universitas Stanford yang berkutat dalam inflasi kosmik; Alexei Kitaev, fisikawab California Institute of Technology yang bertungkus-lumus dalam komputer kuantum; Maxim Kontsevich yang temuan matematika abstraknya berguna bagi fisikawan membongkar kekusutan teori string; dan Ashoke Sen, ahli teori string dari Institut Riset Harish-Chandra di India.
Kesembilan penerima Fundamental Physics Prize perdana ini dipilih sendiri oleh Milner. Namun untuk tahun depan para penerima kusala itu akan menjadi komite seleksi. Demikian seterusnya untuk tahun-tahun mendatang; penerima di masa lalu diundang anggota komite penyeleksi.
Di Indonesia Penghargaan Ahmad Bakrie untuk Sains tercatat telah dianugerahkan kepada tiga fisikawan fundamental dan seorang matematikawan fundamental dalam lima tahun terakhir: Jorga Ibrahim, LT Handoko, Pantur Silaban, dan Tjia May On.
Fisikawan fundamental mendadak kaya raya ?
"Saya pikir hadiah seperti (Fundamental Physics Prize) sangat membantu memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa fisika fundamental itu penting. Tidak hanya tinju kelas berat yang layak mendapat hadiah sebesar ini," kata Alan H Guth kepada The New York Times. "Namun, tentu saja, tidaklah sehat apabila Anda memasuki fisika demi uang."
Published in Kompas (L. Wilardjo, 3 Agustus 2012)
Dalam tulisannya yang bagus, "Perburuan Asal Alam Semesta", di Kompas (9/7), fisikawan LT Handoko mengatakan, "sering ... popularitas mengalahkan realitas sejarah sehingga ... hanya nama Higgs yang dipakai, (dan boson itu) tidak dinamai 'partikel Higgs-Englert-Brout'."
Padahal, yang mengembangkan hipotesis tentang munculnya partikel itu sebagai akibat kerusakan simetri secara spontan bukan hanya Peter Higgs, melainkan juga Francois Englert dan Robert Brout (1964). Mekanisme serupa diusulkan Gerald Guralnik, Richard Hagen, dan Tom Kibble.
Boson itu dijuluki ¡partikel Tuhan¡ sebab ia merupakan awal terciptanya semua partikel masif, bermassa tak nol, di jagat raya. Higgs merasa tak nyaman dengan julukan ilahi ini. Ia memerlukan waktu lama sebelum mulai terbiasa dengan sebutan itu.
Higgs memang rendah hati. Lagi pula, tentulah ia tahu bahwa gagasan tentang perusakan simetri itu, seperti dikatakan LT Handoko, telah dikemukakan Yuichiro Nambu pada awal 1960-an. Nambu bersama Han di Universitas Chicago merintis kromodinamika dengan memperkenalkan tiga warna yang memberi ciri tambahan kepada quark.
Masih Gelap
Munculnya massa itu bukan sulapan. Itu bukan penciptaan dari ketiadaan, creatio ex nihilo, tetapi dari energi yang terkandung dalam medan sesuai dengan E>mc2 Albert Einstein. Selain ini, kalaupun partikel yang ditemukan dua tim peneliti, ATLAS dan CMS, di Pusat Penelitian Riset Nuklir Eropa (CERN), Geneva, dalam benturan hebat di dalam pemercepat yang disebut Pembentur Hadron Besar (LHC) ini ternyata memang partikel Higgs, massa yang mekanisme pembentukannya terungkap baru 4 persen dari seluruh massa (di) jagat raya.
Keberadaan yang 96 persen diyakini dari efeknya yang tampak pada meningkatnya laju pemuaian jagat raya dan pada agihan benda langit. Karena yang teramati hanya efeknya, sedangkan ¡dia¡ sendiri tak kelihatan dan asal muasal serta hakikatnya masih gelap, muncullah julukan energi gelap dan materi gelap. Inilah yang masih diteliti terus, baik dengan alam raya sebagai laboratorium maupun dengan pemercepat besar seperti LHC di CERN, Geneva, dan Tevatron di Fermilab, Batavia, Illinois, sebagai sarananya.
Teori terciptanya partikel bermassa tak nol itu sudah ada jauh sebelum teori Guralnik-Hagen-Kibble dan Higgs-Englert-Brout dipublikasikan tahun 1964. Pada 1939, Hans Bethe mengemukakan teori fusi dalam lingkungan yang teramat sangat panas di bagian dalam bintang. Proton berfusi menjadi deutron, lalu helium-3, kemudian muncul inti helium (atau partikel alfa).
Bethe juga mengemukakan mekanisme fusi proton lain yang disebut daur karbon sebab dalam daur ini karbon berperan sebagai katalis. Pada 1948, George Gamov dan Ralph Alpher memublikasikan teori tentang pembentukan unsur-unsur. Gamov dengan persetujuan Alpher menyisipkan nama Bethe sebagai pengarang. Padahal, pengarang makalah itu hanya dia dan Alpher. Itu dilakukannya mungkin untuk menghormati Bethe.
Jelas tak ada maksud Gamov mendongkrak namanya dengan menggandeng nama besar Bethe sebab dia sudah diakui komunitas ilmuwan sebagai fisikawan cemerlang. Memperoleh restu Stalin ¡magang¡ pada Ernest Rutherford di Laboratorium Cavendish, Inggris, setelah kembali ke Rusia, ia yang minggat dan membelot ke Barat ini memang jenakawan. Dengan sisipan nama Bethe, pengarang makalah itu: Alpher, Bethe, dan Gamov, rangkaian tiga abjad pertama Yunani: alfa, beta, gamma.
Teori fusi Bethe dipublikasikan dengan judul "Produksi Energi di Bintang", sedangkan teori "Alfa-Beta-Gamma" dituangkan Alpher dan Gamov dalam makalah "Asal-usul Unsur-unsur Kimia". Menurut teori "Alfa-Beta-Gamma", helium, litium, dan unsur yang lebih besar lain terbentuk ketika jagat raya masih berupa ¡bintik¡ energi yang teramat-sangat dahsyat dan luar biasa padat sesaat setelah Dentuman Besar, Big Bang.
Istilah Big Bang diciptakan Fred Hoyle. Oleh Hoyle, nama itu untuk jagat raya terdini yang ultrapanas tersebut dimaksudkan sebagai ejekan. Karena disebarkan pers, istilah itu dipakai orang sampai kini. Hoyle mengecam teori Alpher dan Gamov. Yang tercipta beberapa saat setelah Dentuman Besar hanya proton, deuteron, helium-3, dan helium. Unsur selanjutnya tercipta setelah lahir bintang-bintang. Mekanismenya seperti yang dijelaskan Bethe: fusi termonuklir di pusat bintang.
Setelah proses pembentukan unsur di saat-saat pertama pasca- Dentuman Besar sampai ke nomor massa 4 (helium), jagat raya ultradini sudah memuai cukup ¡besar¡ sehingga suhunya sudah tak lagi cukup tinggi memungkinkan fusi proton-proton. Gamov galau dan jengkel karena ada dua mekanisme pembentukan unsur yang berbeda. Namun, dasar jenakawan, kejengkelannya disalurkannya menjadi sajak ¡parodi Alkitabiah¡ berjudul ¡Kejadian Baru¡ (New Genesis). Sajak itu di baris pertamanya dimulai dengan ¡Pada mulanya Tuhan menciptakan energi dan yelm....¡
Yelm ialah materi primordial. Selanjutnya dalam sajak itu dibayangkan bahwa Tuhan menciptakan unsur-unsur cukup hanya dengan menyabdakan nomor massanya. Nomor massa ialah jumlah nukleon, yang bisa berupa proton bermuatan positif atau neutron yang netral. Celakanya, Tuhan 'lupa' akan nomor massa lima sehingga nyaris menggagalkan berlanjutnya proses penciptaan-Nya. Daripada mulai lagi dari awal, Dia mereka-cipta pemecahan alternatif. "Dan Tuhan pun bersabda: "Jadilah Hoyle~, lalu Hoyle diperintah-Nya menciptakan unsur-unsur berat seenaknya sendiri."
Waktu itu Gamov, pembelot dari Rusia tersebut, dosen dan peneliti di Universitas George Washington. Dalam bahasa Inggris, Hoyle dilafalkan seperti hole, lubang, bolong. Ya, bolong setelah hitungan ¡jadilah¡ keempat yang dititahkan Tuhan untuk membuat unsur dengan nomor massa lebih besar dari empat.
Lelucon
Kisah di atas sekadar humor fisika seputar asal usul materi di jagat raya. Jangan diterima serius, apalagi dianggap menyebarkan isu SARA! Partikel yang dijuluki 'partikel Tuhan' dan didaku ditemukan di LHC-CERN pada 4 Juli lalu juga disebut boson Higgs. Ini bukan kemauan Higgs. Namun, nama itu bisa juga dianggap lelucon. Soalnya, penggagas kelahiran massa sebagai akibat kerusakan simetri spontan bukan cuma Higgs.
'Lelucon' serupa terjadi ketika Edwin Powell Hubble (astronom Inggris) dinobatkan sebagai ¡penemu¡ pemuaian jagat raya (1929). Padahal, 15 tahun sebelumnya pemuaian jagat raya itu dikemukakan Vesto Melvin Slipher di kongres Sosietas Astronomi Amerika. Semua peserta kongres itu serentak berdiri sambil bertepuk tangan menyambut pengumuman Slipher yang didasarkannya pada efek Doppler itu. Celetuk Stephen Hawking kemudian: "Hubble mendengar (gemuruh standing ovation itu)."
Celetukan Hawking yang mencemoohkan ilmuwan sesama-bangsanya ini entah tepat entah tidak sebab menjelang merampungkan Relativitas Umum (1916), Einstein merasa kekurangan data eksperimen menambahkan suku yang mengandung tetapan kosmologis pada persamaan medan gravitasinya atau tidak. Mungkin Einstein tidak mengetahui temuan Slipher?
Published in
okezone (Margaret Puspitarini, 20 July 2012)
Geger penemuan Partikel Tuhan (God Particle) menjadi perbincangan banyak kalangan. Apa gerangan hubungan partikel Tuhan dengan Tuhan? Mencoba menjawabnya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan seminar setengah hari bertajuk "Partikel Tuhan dan Nasib Jagad Raya."
Dua pakar fisika teori, Handoko dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan dosen Jurusan Fisika ITS Agus Purwanto, didapuk sebagai pembicara dalam acara tersebut. Beragam peserta mulai dari dosen, mahasiswa, hingga guru SMA tampak antusias mengikuti seminar itu. Agus mengungkap, Partikel Tuhan tidak berkaitan dengan Tuhan. ''Tidak ada hubungannya antara Tuhan dan Partikel Tuhan. Partikel Tuhan hanya sebutan untuk partikel dengan nama asli Higss Boson," tandas Agus, seperti disitat dari ITS Online, Jumat (20/7/2012).
Penulis buku Ayat-Ayat Semesta ini menyebut, istilah Partikel Tuhan pertama kali muncul dari buku yang ditulis oleh peraih penghargaan nobel, Leon Lederman pada 1994. Leon menerbitkan buku yang berjudul God Particle: If The Universe Is The Answer, What Is The Question? Bahkan, menurut Handoko, penemuan sebuah partikel di dunia fisika adalah sesuatu yang biasa. ''Penemuan ini heboh karena namanya yang fenomenal, serta penelitiannya membutuhkan dana triliunan," ungkap Handoko.
Jalan untuk menemukan partikel tersebut tergolong rumit. Setiap tahunnya, observasi Partikel Tuhan membutuhkan dana sekira USD10 triliun. Biaya sebesar itu diperlukan untuk pengoperasian sebuah alat yang bernama Large Hadron Collider (LHC). Alat tersebut berbentuk melingkar sepanjang 27 kilometer dan berada di bawah tanah di antara wilayah Swiss dan Perancis.
Meski hanya seberkas partikel, untuk mencari keberadaannya, ilmuwan harus merancang proses tumbukan antar partikel yang memiliki muatan berlawanan. Tumbukan tersebut membutuhkan energi sangat besar. ''Ibarat mematahkan tusuk gigi, semakin kecil ukuran tusuk gigi semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk mematahkannya. Begitu juga dengan Partikel Tuhan ini,'' katanya menerangkan.
Partikel Tuhan atau Higss Boson, lanjut Handoko, diperoleh dari serpihan partikel hasil tumbukan tersebut. Namun sebenarnya, wujud Partikel Tuhan sendiri belum tampak. ''Penanda keberadaan Partikel Tuhan adalah jejak dari Higgs yang ada di proton,'' paparnya.
Lantas, kenapa sebuah partikel memerlukan Partikel Tuhan atau Higgs Boson? Menurut Handoko, Higgs Boson merupakan partikel yang memberi massa kepada partikel lain. Tanpanya, sebuah partikel tidak akan memiliki massa. ''Namun sebenarnya, secara teori terdapat mekanisme lain dalam membentuk massa dan tidak harus menggunakan Higgs. Sayangnya alasan kenapa perbedaan mekanisme ini dapat terjadi masih belum terungkap,"'imbuhnya.(mrg)
Published in ITS (anl/nir, 19 July 2012)
Penemuan Partikel Tuhan menimbulkan pertanyaan, apa gerangan hubungan antara partikel Tuhan dengan Tuhan? Untuk menjawabnya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS menghadirkan seminar setengah hari bertajuk Partikel Tuhan dan Nasib Jagad Raya, Kamis(19/7).
Dua pakar fisika teori Dr LT Handoko dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Drs Agus Purwanto MSc DSc dosen Jurusan Fisika ITS hadir sebagai pembicara. Beragam peserta mulai dari dosen, mahasiswa, hingga guru SMA hadir dalam seminar.
''Tidak ada hubungannya antara Tuhan dan Partikel Tuhan,'' tandas Agus, dosen sekaligus penulis buku Ayat-Ayat Semesta ini. Partikel Tuhan hanya sebutan untuk partikel dengan nama asli Higss Boson.
Istilah Partikel Tuhan pertama kali muncul dari buku yang ditulis oleh peraih penghargaan nobel, Leon Lederman pada tahun 1994. Leon menerbitkan buku yang berjudul God Particle: If The Universe Is The Answer, What Is The Question?
Bahkan menurut Handoko, penemuan sebuah partikel di dunia fisika adalah sesuatu yang biasa. ''Penemuan ini heboh karena namanya yang fenomenal, serta penelitiannya membutuhkan dana triliunan," ungkap Handoko.
Jalan untuk menemukan partikel tersebut tergolong rumit. Setiap tahunnya observasi Partikel Tuhan membutuhkan dana sebesar kurang lebih 10 triliun dollar AS. Biaya sebesar itu diperlukan untuk pengoperasian sebuah alat yang bernama Large Hadron Collider (LHC). Alat tersebut berbentuk melingkar sepanjang 27 kilometer. Alat mahal tersebut berada di bawah tanah di antara wilayah Swiss dan Perancis.
Meski ia hanya seberkas partikel, untuk mencari keberadaannya, ilmuwan harus merancang proses tumbukan antar partikel yang memiliki muatan berlawanan. Tumbukan tersebut membutuhkan energi sangat besar. ''Ibarat mematahkan tusuk gigi, semakin kecil ukuran tusuk gigi semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk mematahkannya. Begitu juga dengan Partikel Tuhan ini,'' terang Handoko.
Selanjutnya Partikel Tuhan atau Higss Boson diperoleh dari serpihan partikel hasil tumbukan tersebut. Namun sebenarnya, wujud Partikel Tuhan sendiri belum tampak. ''Penanda keberadaan Partikel Tuhan adalah jejak dari Higgs yang ada di proton,'' kata Handoko.
Lantas, kenapa sebuah partikel memerlukan Partikel Tuhan atau Higgs Boson? Menurut Handoko, Higgs Boson merupakan partikel yang memberi massa kepada partikel lain. Tanpanya, sebuah partikel tidak akan memiliki massa.
''Namun sebenarnya secara teori terdapat mekanisme lain dalam membentuk massa dan tidak harus menggunakan Higgs,'' terang Handoko. Sayangnya alasan kenapa perbedaan mekanisme ini dapat terjadi masih belum terungkap.
Melalui seminar tersebut Handoko dan Agus menerangkan ihwal Partikel Tuhan dengan penjelasan lugas dan sederhana. ''Seminar ini sebagai forum pencerahan dari kehebohan yang sempat terjadi di milis ITS sejak penemuan Partikel Tuhan,'' ungkap Prof Dr Drs Surya Rosa Putra MS, Ketua Pusat Studi Sains LPPM ITS.
Published in
Kompas (Ninok Leksono, 12 July 2012)
Dua kemungkinan tak mengenakkan dari hasil Large Hadron Collider: pertama, banyak fitur alam semesta kita, termasuk eksistensi kita, boleh jadi merupakan konsekuensi aksidental dari kondisi yang terkait dengan kelahiran semesta; yang kedua, bahwa menciptakan "benda" dari "nonbenda" tampaknya bukan masalah sama sekali... (Lawrence M Krauss, Direktur Origins Project, Arizona State University, "Newsweek", 16 Juli 2012).
KOMPAS.com - Di antara sedikit peneliti ilmu fisika partikel di Tanah Air adalah Dr LT Handoko dari LIPI yang Senin (9/7/2012) lalu menulis di Harian Kompas tentang penemuan partikel subatomik oleh lembaga penelitian CERN (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire/Pusat Riset Nuklir Eropa).
Semata berangkat dari temuan itu saja, terkesan betapa rumitnya topik fisika partikel yang membahas zarah kecil yang menyusun materi di alam semesta. Yang dibahas tak lagi pada dimensi atom, tetapi lebih kecil lagi.
Di masa silam, perihal atom jatuh sebagai wacana filosofis. Filsuf Yunani yang hidup di abad kelima SM sudah menyinggung bahwa materi disusun dari partikel komponen berukuran amat kecil. Teori pertama tentang atom dicetuskan filsuf Yunani lain, Leucippus. Dia menyebut bahwa semua hal terbentuk dari unsur tak bisa dibelah lagi yang disebut "atom", yang dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai tak bisa dipotong~.
Karena itu, tatkala fisikawan dan kimiawan Inggris, John Dalton, menerbitkan teori atom dalam bukunya New System of Chemical Philosophy, sebenarnya ide dasarnya bukan baru. Yang membedakannya dengan apa yang dikemukakan oleh filsuf Yunani adalah bahwa apa yang dikemukakan Dalton didasarkan pada observasi dan pengukuran saksama, dan bukan atas debat filosofi ("The Big Idea", National Geographic).
Partikel subatomik
Dari riset pendahulu seperti itulah, tahun 1920-an diketahui bahwa inti atom tersusun dari dua partikel, proton dan elektron. Tahun 1932, fisikawan James Chadwick menemukan neutron, partikel bermassa sama dengan proton, tetapi tidak memiliki muatan listrik. Semula dikira itulah semua partikel elementer, yakni proton, neutron, dan elektron.
Berikutnya, ilmuwan mengetahui bahwa elektron merupakan partikel fundamental, jadi tidak ada lagi penyusun lain. Akan tetapi, proton dan neutron terbuat dari partikel lebih kecil, yakni kuark. Ada enam tipe kuark, dan hanya dua yang terkait dengan proton dan neutron.
Selain itu, juga ada penemuan neutrino dari proses peluruhan. Ada pula penemuan positron (atau antielektron) oleh Carl Anderson tahun 1932. Partikel eksotik lain juga ditemukan dalam sinar kosmik, termasuk muon dan pion.
Satu hal yang dipahami adalah semua partikel subatomik di atas tak bersifat fundamental, dan para ahli fisika yang meneliti ini mencoba mengembangkan model standar antara tahun 1960 dan 1980. Akhirnya disimpulkan, ada dua kelas partikel elementer yang menyusun semua materi di alam semesta, yakni lepton (termasuk elektron, muon, dan neutrino) dan kuark (ada enam tipe dan bergabung dua, tiga untuk membentuk partikel lebih berat seperti proton, neutron, dan pion).
Lalu, menurut perilaku statistiknya, semua partikel di atas jatuh ke dalam dua kategori, fermion dan boson. Fermion (dari nama fisikawan Italia, Enrico Fermi) adalah kuark dan lepton yang membentuk materi, sedangkan boson (dari nama fisikawan India, Satyendra Nath Bose) seperti halnya foton dikaitkan dengan gaya. (Lihat, misalnya, The Story of Science "From Antiquity to the Present, RR Subramanyam dkk, 2010, untuk rincian.)
Akhir misteri
Keberadaan partikel Higgs - dari nama pencetusnya, fisikawan Inggris, Peter Higgs - sudah diramalkan pada tahun 1960-an. Ia, seperti dituturkan dalam infografis Reuters yang menyertai artikel Dr Handoko, penting untuk menjelaskan mengapa partikel lain memiliki massa, yang bila dirunut lebih jauh terkait dengan pembentukan alam semesta.
Ramalan menyebutkan adanya medan tak kasatmata%Gâ%@yang lalu disebut medan Higgs%Gâ%@ yang menembus seluruh angkasa, dan bahwa sifat-sifat materi dan gaya yang mengatur seluruh eksistensi kita berasal dari interaksi mereka dengan medan Higgs yang gaib tadi. Kalau saja besar, atau sifat medan Higgs beda, sifat alam semesta pun akan berbeda dengan yang ada sekarang, dan boleh jadi kita juga tidak ada untuk mengagumi semua itu (tulis Krauss dalam Newsweek, 16/7).
Atas dasar inilah CERN memburu partikel ini dengan memanfaatkan fasilitas (Large Hadron Collider (LHC) dalam naungan Proyek ATLAS yang dimulai musim semi 2009.
Oleh misterinya, juga oleh kedudukannya yang dipandang sentral dalam penciptaan alam semesta, partikel Higgs ini lalu "dalam bahasa kolokial" sering disebut ¡partikel Tuhan¡, dan muncul dalam buku fisikawan Leon Lederman yang terbit tahun 1994.
Penemuan boson Higgs seperti membenarkan revolusi dalam pemahaman manusia tentang fisika fundamental dan membawa sains lebih dekat dengan zat supernatural di awal alam semesta, tambah Krauss.
Medan Higgs juga dipandang mendukung anggapan bahwa angkasa yang kosong sebenarnya mengandung benih-benih eksistensi kita. Dalam teori inflasi semesta yang dicetuskan oleh Alan Guth, ada medan serupa yang tercipta pada saat paling awal setelah Dentuman Besar yang menyebabkan semesta mengembang luar biasa cepat dalam sepertriliunan detik, di mana setelah itu energi yang ada dalam angkasa yang sepertinya hampa itu diubah menjadi seluruh materi dan radiasi yang kita saksikan sekarang ini.
Penemuan partikel Higgs di satu sisi menambah wawasan tentang fisika partikel, tetapi juga lebih jauh tentang kondisi awal alam semesta, dan lebih jauh lagi tentang penciptaan alam semesta itu sendiri.
Dalam Science Illustrated (7-8/12) dikemukakan ¡10 Pertanyaan Sekitar Dentuman Besar¡, di antaranya (nomor 4) ¡apa yang menyusun semesta?¡. Penemuan partikel Higgs membantu menjawab pertanyaan itu.
Fisika berutang kepada sosok seperti Richard Feynman, yang 60 tahun lalu mengembangkan teknik kalkulasi untuk meramalkan luaran eksperimen (Scientific American, 5/12), atau pada Satyendra Bose yang partikel boson-nya kini populer, tetapi sosok penemunya jarang disebut (Newsweek, 16/7).
Semua upaya itu selain untuk memahami fisika juga ditujukan untuk meningkatkan derajat insani, yang senantiasa haus untuk mengetahui segala ihwal yang terkait dengan eksistensi dirinya. Dalam konteks ini bisa dipertanyakan, sejauh mana kontribusi ilmuwan Indonesia?
Published in
Kompas (L.T. Handoko, 9 July 2012)
Partikel Tuhan? Membayangkan saja sulit, termasuk bagi komunitas fisika partikel. Akhir pekan lalu, temuan partikel itu - subatom partikel Higgs - menghebohkan dunia. Disebut "partikel Tuhan" karena disebut-sebut sebagai kunci terbentuknya alam semesta. Benarkah?
Leon M Lederman, peraih Nobel Fisika 1988, penemu neutrino muon dan bottom quark, bersama grup eksperimennya adalah pencetus sebutan ¡partikel Tuhan¡ untuk partikel Higgs pada buku The God Particle: If the Universe is the Answer, What is the Question? terbitan tahun 1994. Penamaan ini mengundang kontroversi, ditambah kesalahpahaman publik.
Kehebohan bertambah menyusul eksperimen Large Hadron Collider (LHC) di Geneva, Swiss. LHC melakukan eksperimen fisika energi tinggi terbesar dan termahal di muka bumi. LHC di bawah naungan Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) berdiri tahun 1954, merupakan konsorsium negara-negara Eropa.
Meski ada kata nuklir, CERN sama sekali tak terkait pengembangan teknologi nuklir, apalagi senjata nuklir.
LHC melingkar sepanjang 27 kilometer di terowongan berdiameter 4 meter pada kedalaman puluhan meter di bawah tanah. Di sana, proton dan antiproton dipercepat, lalu ditumbukkan dari arah berlawanan dengan energi super-tinggi, masing-masing mencapai 7-8 trillion electronvolt (TeV) atau total 14-16 TeV.
Untuk eksperimen itu dibutuhkan medan magnet dengan kuat medan superbesar. Tak mengherankan jika LHC butuh daya listrik dari dua pembangkit berbeda untuk menjamin eksperimen berlangsung sesuai jadwal (bisa berbulan-bulan) tanpa jeda. Anggaran tahunan CERN sekitar Rp 10 triliun. Penyokongnya tak hanya negara adidaya bidang sains, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan China, tetapi juga merangkul negara ¡kecil¡, seperti Israel, Iran, Tunisia, bahkan Thailand dan Vietnam.
Model standar
Pada konteks tuntutan serba super ini, partikel terakhir yang diprediksi dalam Model Standar Fisika Partikel (MSFP) dan disebut "partikel Tuhan" dikejar. Partikel Higgs adalah partikel terakhir yang belum ditemukan dalam kerangka teori MSFP.
Model standar mengacu pada bangunan teori yang disusun puluhan tahun oleh para fisikawan. Hal itu menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk dari bahan-bahan dasarnya.
Sebelumnya, partikel terakhir yang ditemukan adalah top quark (1998) oleh kolaborasi CDF di Tevatron, Fermilab, AS. Beda dengan quark yang adalah fermion, partikel Higgs dikategorikan sebagai boson.
Boson Higgs dipercaya berperan penting memberi massa partikel-partikel lain semiliar detik pertama seusai Dentuman Besar (Big Bang). Dan, terbentuklah benda-benda langit, termasuk galaksi yang dikenal saat ini.
Pada MSFP ada 17 partikel elementer pembentuk materi terkecil, yaitu 12 fermion yang terdiri dari masing-masing 6 jenis quark dan lepton (salah satunya adalah elektron) serta 4 jenis boson pembawa interaksi. Salah satu boson adalah foton, yang di alam dikenal sebagai berkas cahaya. Sisanya adalah boson Z dan W sebagai mediator interaksi lemah serta gluon sebagai mediator interaksi kuat.
Namun, MSFP belum mampu mengakomodasi interaksi gravitasi. Kekurangan ini memicu para peneliti teori fisika partikel mengembangkan aneka teori baru untuk menyatukan keempat interaksi di alam semesta, tetapi tetap mengandung MSFP di dalamnya. Salah satu teori yang banyak dikaji karena "keindahan matematis"-nya adalah supersimetri. Ada juga teori penyatuan agung (grand unified theory/GUT) lain, seperti SU(5) dan SU(6) GUT yang dikembangkan grup penulis sejak 2005.
Di luar masalah penyatuan interaksi, MSFP tak mampu menjelaskan mengapa 12 partikel fermion punya massa dengan besaran bervariasi. Salah satu hipotesis yang dikembangkan Peter Higgs, Francois Englert, dan Robert Brout (1964) adalah mekanisme Higgs. Mekanisme ini memerlukan partikel hipotetik yang lalu disebut partikel Higgs.
Pada komunitas ilmiah sekalipun sering terjadi popularitas mengalahkan realitas sejarah sehingga saat ini hanya nama Higgs yang dipakai, tidak dinamai "partikel Higgs-Englert-Brout". Pada mekanisme Higgs, massa merupakan konsekuensi perusakan simetri di alam semesta yang dipicu keberadaan partikel Higgs. Hal ini lalu berperan menimbulkan fenomena ketidakseimbangan materi dan antimateri.
Sebenarnya mekanisme Higgs saat itu bukan hal baru karena ide itu telah dikemukan Yuichiro Nambu pada awal tahun 1960-an. Nambu dianugerahi Nobel Fisika tahun 2008 untuk penelitiannya terkait perusakan simetri.
Sulit ditemukan
Partikel Higgs masuk kategori boson, bukan pembawa interaksi tertentu seperti foton. Karakteristik ini yang menyebabkan Higgs sulit ditemukan di antara miliaran hamburan hasil tumbukan partikel yang dihasilkan pada eksperimen. Masalah yang lebih pelik adalah terlalu banyak skenario yang mungkin bagi mekanisme Higgs itu sendiri.
Yang banyak dikenal selama ini hanyalah skenario minimal dari MSFP dengan hanya satu jenis partikel Higgs.
Diberitakan, 4 Juli 2012, kolaborasi CMS dan ATLAS melaporkan hasil sementara dari data tahun 2011. Data tahun ini masih dianalisis. Mereka mengklaim menemukan sinyal adanya partikel boson baru pada rentang massa 125-126 GeV dengan akurasi memadai (5 sigma).
Perlu ditekankan, sinyal ini belum diklaim sebagai penemuan partikel Higgs! Untuk menentukan sinyal itu sebagai produksi partikel Higgs dibutuhkan statistik yang jauh lebih baik. Data saat ini belum cukup.
Hasil sementara itu belum menjelaskan, apalagi menentukan, jenis partikel Higgs, apakah sesuai MSFP minimal atau skenario lain. Jika dilihat dari rentang massa yang dilaporkan, jelas massa yang diamati jauh lebih tinggi dari prediksi MSFP.
Secara umum dan norma dalam kaidah riset fisika energi tinggi, pengakuan atas penemuan partikel baru harus didasarkan pada dua eksperimen independen. Contohnya, kolaborasi CDF dan D0 pada cincin (ring) akselerator Tevatron yang mencari partikel top quark. Saat itu, kolaborasi D0 mengumumkan lebih dulu temuannya. Belakangan, kolaborasi CDF mengumumkan hasil dengan besar massa jauh berbeda. Belakangan diakui bahwa D0 salah analisis.
Prosedur semacam ini menjelaskan mengapa pada cincin akselerator LHC dibuat dua kolaborasi, CMS dan ATLAS (seperti D0 dan CDF di Tevatron), dengan tujuan sama untuk mencari partikel Higgs. Pertanyaannya, mengapa keduanya memaparkan bersamaan? Kecurigaan semacam ini lama dikenal di kalangan komunitas fisika partikel.
Karena eksperimen fisika energi tinggi selalu butuh dana (publik) super, eksperimentalis mengalami tekanan psikologis luar biasa demi menghasilkan ¡sesuatu¡. Khususnya LHC, yang kemungkinan besar akan menjadi fasilitas super terakhir dengan teknologi akselerator karena besarnya biaya.
Tidak akan ada lagi pendanaan untuk fasilitas sekelas LHC, kecuali ditemukan teknologi pemercepat partikel baru yang lebih murah. Apa yang terjadi jika LHC mengumumkan tak menemukan partikel Higgs? Padahal, eksperimen diharapkan menentukan "nasib" dari aneka jenis teori yang telah diusulkan.
Dampak hasil sementara
Secara umum, komunitas fisika partikel teori terbelah dua menanggapi eksperimen di LHC, khususnya yang terkait dengan pencarian partikel Higgs. Golongan pertama berharap partikel Higgs ditemukan. Umumnya komunitas yang aktif mengkaji supersimetri.
Golongan kedua adalah komunitas yang berharap partikel Higgs tak ditemukan. Sebab, akan terbuka lebar peluang untuk mengkaji aneka alternatif lain, seperti dimensi ekstra SU(6) GUT yang diusung penulis dan lain-lain. Namun, secara umum, kedua golongan komunitas fisikawan partikel berharap mendapat informasi baru sebagai landasan mengembangkan lebih jauh teori yang ada.
Yang pasti, hasil sementara LHC kali ini hanya titik awal perjalanan panjang pencarian partikel baru bermassa besar dalam 10-20 tahun mendatang. Salah satunya bisa jadi partikel Higgs atau mungkin partikel yang sama sekali baru.
LT HANDOKO, Peneliti pada Grup Fisika Teoritik dan Komputasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Published in Seputar Indonesia (Anton C., 9 July 2012)
PT Kalbe Farma Tbk meloloskan 18 finalis Kalbe Junior Scientific Award (KJSA), program berkala yang diselenggarakan untuk menjaring siswa SD berprestasi di bidang sains.
"Kami sangat gembira dengan antusias peserta yang begitu tinggi,mengingat bahwa pada 2012 ini baru yang kedua kalinya acara diselenggarakan," ujar Sales & Marketing Director PT Kalbe Farma Tbk yang juga Ketua Panitia Kalbe Science Awards Widjanarko Loka Djaja dalam keterangan tertulisnya. Widjanarko mengatakan, KJSAkali ini menerima 446 karya di bidang sains yang dikirimkan oleh anak-anak tingkat sekolah dasar kelas IV%Gâ%@VI,dari 190 sekolah di 59 kota yang berasal dari 18 provinsi di seluruh Indonesia.
ŽKami berharap kegiatan yang mengusung tema "Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik" ini dapat terus memupuk generasi penerus yang lebih baik untuk membangun bangsa ini melalui kecintaan kepada ilmu pengetahuan yang ditanamkan sejak dini.KJSAkali ini sangat menarik karena jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya, kata Widjanarko.
Fisikawan LIPI dan Dosen Universitas Indonesia yang juga Ketua Dewan Juri Kalbe Junior Scientist Award Dr LT Handoko mengatakan,antusias sekolah sangat tinggi mengikuti kegiatan ini dapat dilihat peningkatan yang cukup banyak,baik dari peserta maupun hasil karyanya. ŽSecara umum,karya yang masuk sangat bagus dan menarik. Materi karya yang dikirimkan juga lebih meningkat dan beragam.
Sangat sulit bagi para juri untuk memilih 18 finalis yang akan diundang ke Jakarta untuk melakukan presentasi,¡ujar Widjanarko. Selanjutnya,ke-18 finalis tersebut dalam waktu dekat akan diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan Dewan Juri yang terdiri atas Dr LT Handoko (fisikawan LIPI dan Dosen Universitas Indonesia), Prof Yohanes Surya PhD (Direktur Yayasan Surya Institute),
Dr Karnadi MSi (Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta), Dr Puspita Lisdiyanti (peneliti LIPI),Dra Mayke S Tedjasaputra MSi (psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia). Dalam penjurian lomba yang memiliki kategori Teknologi Terapan, IPA,dan Matematika ini,juri memisahkan aspek penilaian menjadi tiga bagian,yaitu ide atau gagasan (60%),proses (40%),dan output (10%)."
Published in
TV BeritaSatu (8 July 2012)
Tayangan langsung di program Jurnal Utama pk 19:00-19:30 WIB sebagai narasumber tunggal dengan pembawa acara Winda.
Published in
Koran Jakarta (7 July 2012)
Perusahaan yang bergerak dalam industri farmasi, PT Kalbe Farma meneruskan komitmen kepedulian pada dunia pendidikan. Perseroan menggelar "Kalbe Junior Scientific Award" (KJSA) yang merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR).
Program berkala ini diselenggarakan untuk menjaring siswa Sekolah Dasar berprestasi di bidang science. "Kami sangat gembira dengan antusias peserta yang begitu tinggi, mengingat bahwa tahun 2012 ini baru yang ke dua kalinya acara diselenggarakan," ujar Widjanarko Loka Djaja, Sales & Marketing Director Kalbe Farma.
Widjanarko mengatakan, KJSA kali ini menerima 446 karya dibidang science yang dikirimkan oleh anak-anak tingkat Sekolah Dasar kelas IV%Gâ%@VI, dari 190 sekolah di 59 kota yang berasal dari 18 provinsi di seluruh Indonesia. Sampai kemarin, panitia telah meloloskan 18 finalis.
LT Handoko, Fisikawan LIPI dan Dosen Universitas Indonesia yang juga Ketua Dewan Juri Kalbe Junior Scientist Award mengatakan, antusisas sekolah sangat tinggi mengikuti kegiatan ini dapat dilihat peningkatan yang cukup banyak, baik dari peserta maupun hasil karyanya.
"Secara umum karya yang masuk sangat bagus dan menarik, materi karya yang dikirimkan juga lebih meningkat dan beragam. Sangat sulit bagi kami para juri untuk memilih 18 finalis yang akan di undang ke Jakarta untuk melakukan presentasi," tuturnya. suh/E-3
Published in
Kompas (Yunanto Wiji Utomo, 5 July 2012)
Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN), Rabu (4/7/2012), mengumumkan keberhasilan menemukan partikel yang konsisten dengan Higgs Boson.
Partikel yang ditemukan memiliki massa sekitar 125 gigaelectrovolts (GeV), sesuai massa Higgs Boson yang diprediksi oleh fisikawan. Partikel tersebut juga memiliki perilaku yang mirip dengan Higgs Boson seperti yang diteorikan para ilmuwan.
Situs jurnal Nature melaporkan, hasil riset menunjukkan bahwa kesalahan kalau partikel yang ditemukan itu bukan Higgs Boson hanya 1 dibanding jutaan.
Penelitian masih akan dilakukan oleh dua eksperimen CERN lewat eksperimen Compact Muon Solenoid (CMS) dan A Toroidal LHC Apparatus (ATLAS). Riset lebih lanjut akan menganalisis karakteristik partikel yang ditemukan untuk bisa menyatakan apakah memang merupakan Higgs Boson.
Peneliti fisika partikel Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko, mengungkapkan bahwa jika partikel yang ditemukan memang Higgs Boson, maka akan menyempurnakan model standar fisika partikel.
"Penemuan Higgs Boson akan melengkapi model standar dalam fisika partikel. Ilmuwan memprediksi ada 16 partikel elementer. Semua sudah ditemukan, tinggal satu yang belum, yaitu Higgs Boson ini," ungkap Laksana saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/7/2012).
Model Standar adalah teori yang menggambarkan partikel penyusun suatu materi dan interaksi antara energi dan materi. Fisika partikel sejauh ini mendeskripsikan adanya dua golongan partikel elementer, yaitu fermion dan boson. Fermion memiliki spin pecahan, sementara boson memiliki spin bilangan bulat.
Fermion terdiri dari Quarks dan Lepton. Masing-masing beranggotakan 6 partikel elementer dengan nama aneh, seperti elektron neutrino, muon neutrino, dan sebagainya. Sementara itu, boson terdiri dari 4 partikel elementer, antara lain foton dan gluon. Boson terdiri dari gaya elektromagnetisme, gaya inti kuat, dan gaya inti lemah.
Higgs Boson merupakan penentu untuk menerangkan mengapa suatu partikel memiliki massa. Jika Higgs Boson ditemukan, maka misteri tersebut akan terurai.
Pada masa awal alam semesta setelah Big Bang, terbentuk medan Higgs dan Higgs Boson. Interaksi dengan medan Higgs tersebutlah yang membuat partikel bisa memiliki massa. Proses ini menentukan bagaimana planet, bintang, galaksi, dan sebagainya terbentuk.
Tanpa adanya medan Higgs dan Higgs Boson, atom yang tersusun atas partikel-partikel tak mungkin terbentuk. Demikian juga ikatan kimia dan obyek-obyek semesta.
"Penemuan Higgs Boson akan memperkaya pemahaman kita tentang alam semesta," kata Laksana.
Published in
Ristek (Humas Ristek, 4 July 2012)
Riset ilmu dasar sangat penting bagi kesinambungan ekonomi. CERN adalah laboratorium iptek terbesar di dunia yang senantiasa berhasil mengembangkan aplikasi teknologi vital bagi segala peradaban.
Contohnya adalah teknologi internet. CERN (the European Organization for Nuclear Research) awalnya menciptakan teknologi ini semata untuk keperluan jaringan komunikasi di antara penelitinya yang tersebar di seluruh dunia, kini seluruh masyarakat modern tak mungkin hidup tanpa internet.
Bergelut di dalam riset fisika partikel yang jadi fokus utamanya, ribuan peneliti CERN senantiasa berhasil mengembangkan berbagai pengetahuan teknik sangat berharga untuk berbagai bidang di luar fisika. Mereka terlibat pada pengembangan peralatan detektor dan terapi kanker, penciptaan teknologi superkonduktor yang menjadi inti sistem transportasi kereta api super cepat, penyempurnaan sistem pembangkit energi, dan banyak aplikasi lainnya.
Sebagai komoditas, pelbagai teknologi canggih tersebut memiliki nilai yang sangat mahal. Ini tidak mengherankan bilamana mengingat setiap peneliti yang terlibat harus bekerja ekstra keras sebelum berhasil merampungkan pengetahuan dan teknik yang diperlukan.
Tanpa riset dasar, suatu negara akhirnya akan bergantung pada impor teknologi dari negara lain.
Mengenal CERN
Pemahaman atas kiprah CERN yang erat manfaatnya dengan kemajuan dan ketangguhan perekonomian bangsa, tumbuh saat salah seorang pejabat seniornya berkunjung ke Indonesia (26-28 Juni 2012). Profesor Emmanuel Tsesmelis, penasihat internasional CERN bertandang untuk mengembangkan jaringan kerjasama dengan lembaga dan kelompok peneliti di Indonesia.
Dengan jadwal kunjungan singkat, agenda kerja Prof. Tsesmelis sangat padat, demi menyemai benih jaringan tangguh dengan Indonesia. Dalam dukungan koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Prof. Tsesmelis sukses berdialog dengan berbagai unsur dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan instansi pemerintahan, dan tak lupa, mahasiswa Indonesia.
Dalam kurang dari tiga hari, Prof. Tsesmelis memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia (UI) (Selasa, 26/06), berkunjung ke beberapa unit kerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di Puspiptek Serpong (Rabu, 27/06), serta bertemu dengan peneliti/akademisi dari berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi Indonesia (Rabu, 27/06). Tidak berhenti di situ, Prof. Tsesmelis juga mengadakan pertemuan kehormatan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek) (Kamis, 28/06), Kepala LIPI (Kamis, 28/06), serta Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Kerjasama Internasional (Kamis, 28/06).
Tak hanya mengelola sebuah laboratorium berukuran luar biasa, yang bangunan fisiknya memiliki lingkar luar panjang 27 kilometer, CERN juga menggalang jaringan kerja internasional berdimensi raksasa. Prof. Tsesmelis mengungkapkan sekitar 13.300 peneliti dan pengembang teknologi mancanegara terlibat langsung dalam riset CERN %Gâ%@ lima orang di antaranya berasal dari negara tetangga, Thailand.
Yang menarik, di samping urusan riset, CERN juga sangat memperhatikan masalah pendidikan fisika bagi mahasiswa, serta isu kapasitas dan wawasan guru sekolah menengah. Lembaga ini terus-menerus bekerjasama dengan berbagai negara, para ilmuwan kelas atas CERN telah sukses mendidik secara langsung lebih dari 5000 guru fisika (1998-2011).
Bila CERN memperlakukan guru sekolah menengah sebagai kelompok strategis untuk menyebarluaskan ilmu fisika, lembaga ini berupaya keras menyiapkan para mahasiswa/i sebagai calon pekerja penelitian dan pengembang teknologi berkualitas memadai. Di tahun 2011 saja, CERN mengadakan kursus singkat (summer school) bagi 242 mahasiswa yang berasal dari 69 negara di dunia.
Ilmuwan Muda
Saat menemui Prof. Tsesmelis (Kamis, 28/06), Menegristek Gusti Muhammad Hatta menyatakan kerjasama dengan CERN berpotensi besar dalam upaya mendorong munculnya ilmuwan muda. Tanpa kelompok ilmuwan muda, tak ada harapan dunia riset Indonesia akan tumbuh berkelanjutan, bahkan akan membahayakan daya saing bangsa.
Paradigma kolaborasi CERN kian terbuka lebar, mereka makin gencar menyebar kolaborasi pendidikan dengan negara di belahan Asia. Negara tetangga Indonesia -- Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam -- telah menangkap cepat kesan tersebut dan menggalang kolaborasi pendidikan bagi guru/mahasiswa dengan CERN.
Thailand memberikan contoh optimalisasi kerjasama dengan CERN, dengan membentang jaringan domestik untuk menyebarluaskan pengetahuan dari lembaga bergengsi tersebut. Seperti di Thailand, diproyeksikan, jangkauan jaringan CERN tidak akan berhenti di perguruan tinggi tertentu, namun disebar hingga di seluruh Indonesia.
Tentu saja ilmuwan Indonesia tidak akan berpangku tangan. Bermitra CERN, pemerintah akan merangkul para peneliti terkait bidang fisika dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi nasional, untuk saling bahu-membahu membimbing mahasiswa/i dari seluruh Nusantara.
Kelak, mahasiswa/i akan didorong untuk mengembangkan wawasan dan jaringannya secara langsung di markas CERN yang terletak di perbatasan Swiss dan Perancis.
Konsorsium Riset Fisika
Besarnya jumlah ilmuwan pada jaringannya, cakupan bidang penelitian, dan asal negara, menggembungkan kapasitas CERN untuk menjalankan kolaborasi riset dengan Indonesia. Menyikapi hal ini, Menegristek mengarahkan agar jajarannya menyiapkan dokumen proyeksi (road-map) agar Indonesia dapat memaksimalkan kerjasama bidang fisika dengan CERN.
Menyambut arahan tersebut, Anhar Antariksawan (Deputi Kepala Batan Bidang Penelitian Dasar dan Terapan) yang mendampingi Menegristek menyatakan langkah awal tersebut dapat dilaksanakan secara harmonis dengan upaya persiapan Indonesia berkolaborasi dengan lembaga riset fisika mancanegara lainnya, ICTP (the Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics). ICTP yang berbasis di Italia, lebih berfokus pada upaya pengembangan kapasitas peneliti dari negara berkembang.
Besarnya keragaman minat kerjasama lebih terkemuka saat Prof. Tsesmelis bertemu dengan akademisi, peneliti, dan pejabat dari berbagai lembaga calon mitra CERN (Rabu, 27/06). Prof. Tsesmelis sendiri membuka isyarat positif bahwa kerjasama berspektrum lebar tersebut bisa terjalin melalui unit-unit kerja CERN maupun para peneliti yang terlibat di dalamnya.
Input dari kalangan peneliti ini memperkuat pesan untuk menciptakan rencana kerjasama yang secara simultan melibatkan kontribusi dari berbagai lembaga sekaligus, membentuk konsorsium riset. Dengan demikian, pemerintah memanfaatkan jaringan dengan CERN sebagai langkah untuk mengharmonisasikan dan meratakan laju perkembangan ilmu fisika di seluruh Indonesia.
Tatap muka Prof. Tsesmelis dengan calon mitra CERN dihadiri oleh perwakilan dari kalangan pengembang bidang fisika perguruan tinggi dari ITB, UI, UGM. Sedangkan unsur lembaga riset yang hadir dari Batan, BPPT, dan LIPI.
Di ajang tersebut, Prof. Tsesmelis berkesempatan bertemu dengan tokoh kunci antara lain Amin Soebandrio (Deputi ad interim Jaringan Iptek), Dewi Kusumaastuti (Direktur Eropa Barat, Kemlu), Unggul Priyanto (Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi Energi dan Material), Totti Tjiptosumirat (Kepala Pusat Desiminasi Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional, Batan), Gunawan (Kepala Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir, Batan). Dari kalangan perguruan tinggi, fisikawan terkemuka yang hadir antara lain Terry Mart (UI), Mirza Satriawan (UGM), dan Zaki Su'ud (ITB).
Untuk kunjungan kehormatan dengan Menegristek (Kamis, 28/06), selain didampingi oleh Anhar Antariksawan, staf kunci yang ikut menerima adalah Agus R Hoetman (Staf Ahli Menegristek bid. Energi dan Material Maju, Ristek), Nada Marsudi (Asdep Bidang Jaringan Iptek Internasional, Ristek), Wawas Swathatafrijiah (Kepala Pusat Teknologi Material BPPT), serta Nyoman Y. Pravita Dewi (staf Direktorat Eropa Barat, Kemlu).
Di Indonesia, Prof. Tsesmelis didampingi oleh Suharyo Sumowidagdo, fisikawan asal Indonesia yang tengah bekerja di CERN. Selain Suharyo, turut mendampingi Prof. Tsesmelis adalah L.T. Handoko, fisikawan kenamaan dari LIPI yang menjadi penghubung CERN di Indonesia.
Kunjungan Prof. Emmanuel Tsesmelis di Indonesia dikoordinasikan dan tindaklanjutkan oleh Asisten Deputi Bidang Jaringan Iptek Internasional, Kementerian Riset dan Teknologi.
Published in Jurnal Nasional (Luther Kembaren, 4 July 2012)
PT Kalbe Farma, Tbk meloloskan 18 finalis Kalbe Junior Scientific Award (KJSA), program penghargaan berkala untuk menjaring siswa SD berprestasi di bidang sains.
"Kami sangat gembira dengan antusias peserta yang begitu tinggi, mengingat bahwa tahun 2012 baru yang kedua kalinya acara ini diselenggarakan," kata Sales & Marketing Director PT Kalbe Farma Tbk Widjanarko Loka Djaja yang juga Ketua Panitia Kalbe Science Awards dilansir Antara di Jakarta, Selasa (3/7).
KJSA menerima 446 karya di bidang sains yang dikirimkan oleh anak-anak tingkat sekolah dasar kelas IV-VI, dari 190 sekolah di 59 kota yang berasal dari 18 provinsi di seluruh Indonesia.
"Kami berharap kegiatan yang mengusung tema Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik ini dapat terus memupuk generasi penerus yang lebih baik untuk membangun bangsa ini melalui kecintaan akan ilmu pengetahuan yang ditanamkan sejak dini. KJSA kali ini sangat menarik karena jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya," katanya.
Ketua Dewan Juri Kalbe Junior Scientist Award L T Handoko mengatakan antusisas sekolah sangat tinggi mengikuti kegiatan ini dapat dilihat dari peningkatan yang cukup banyak, baik dari peserta maupun hasil karyanya.
"Secara umum karya yang masuk sangat bagus dan menarik, materi karya yang dikirimkan juga lebih meningkat dan beragam. Sangat sulit bagi kami para juri untuk memilih 18 finalis yang akan diundang ke Jakarta untuk melakukan presentasi," katanya. Luther
Published in Kalbe Science Award (4 July 2012)
PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) pada hari ini mengumumkan nama-nama 18 finalis Kalbe Junior Scientist Award dari 446 karya sains yang dikirimkan oleh anak-anak tingkat Sekolah Dasar kelas IV%Gâ%@VI, dari 190 sekolah di 59 kota yang berasal dari 18 provinsi di seluruh Indonesia.
"Kami sangat gembira dengan antusias peserta yang begitu tinggi, mengingat bahwa tahun ini baru yang ke dua kalinya kami adakan acara ini," ujar Widjanarko Loka Djaja, Sales & Marketing Director PT Kalbe Farma Tbk yang juga merupakan Ketua Panitia Kalbe Science Awards. ŽKami berharap kegiatan yang mengusung tema ŽInovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik¡ ini dapat terus memupuk generasi penerus yang lebih baik untuk membangun bangsa ini melalui kecintaan akan ilmu pengetahuan yang ditanamkan sejak dini. Kalbe Junior Scientist Award tahun ini sangat menarik karena jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.¡
ŽTahun ini Kalbe Junior Scientist Award mengalami peningkatan yang cukup banyak, baik dari peserta maupun hasil karyanya,¡ ujat Dr. L.T. Handoko, Fisikawan LIPI dan Dosen Universitas Indonesia yang juga Ketua Dewan Juri Kalbe Junior Scientist Award. ŽSecara umum karya yang masuk sangat bagus dan menarik, materi karya yang dikirimkan juga lebih meningkat dan beragam. Sangat sulit bagi kami para juri untuk memilih 18 finalis yang akan di undang ke Jakarta untuk melakukan presentasi.¡
Adapun ke-18 finalis tersebut adalah (1) Alberta Danabella Ratna Dewi & Regina Adnyana Nareswari (SDK Sang Timur, Yogyakarta), (2) Armansyah (SDN 018 Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur), (3) Averos Aulia Ananta Nur & Muh. Oktavian Dharma Setyawan (SD Muhammadiyah 1, Jember), (4) Balqis Nabilayeni Kusumawati & Muhammad Rafly Rahardian (SD Muhammadiyah Manyar, Gresik), (5) Benny Kusuma & Ahmad Salman Al Farisi (SDIT Cordova, Tangerang), (6) Ferris Prima Nugraha (SDK Immanuel, Pontianak), (7) Imaduddin Zanki (SDI Baabut Taubah Kemang Pratama, Bekasi), (8) Immanuel William Suryowidagdo & Oktamus Ruben Yondreas (Robotik Sains Club, Magelang), (9) Inosensia M Abelarda & Agnes Florista Mutiara (SD Marsudirini, Yogyakarta), (10) Jessica Nathalie (SD Santo Yusup, Bandung, (11) Johansyah Azzah Wirata & M. Paisal (SD Muhammadiyah 2, Denpasar), (12) Muthia Khansa (SDIT Ummul Quro, Bogor), (13) Prasidya Dhanurendra Zijlstra (Cendekia Leardership School, Bandung), (14) Queen Violita (SD Pangudi Luhur II, Solo), (15) Ratu Salsabila Astrakusuma (Aljabr Islamic School, DKI Jakarta), (16) Ridho Herdiansyah & Nabila Putri Andani (SDIT Buahati Islamic School, DKI Jakarta), (17) Salman Arbi & Faradita Rizqa (SD Islam Al Azhar 29 BSB, Semarang), (18) Syahandika Efendi & Solahudin Al Ayubi (SDIT Al-Utsmaniyah, Bogor).
Selanjutnya ke-18 finalis tersebut dalam waktu dekat akan diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan Dewan Juri yang terdiri dari Dr L.T. Handoko (Fisikawan LIPI dan Dosen Universitas Indonesia), Prof. Yohanes Surya, Ph.D (Direktur Yayasan Surya Institur), Dr. Karnadi, M.Si (Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta), , Dr. Puspita Lisdiyanti (Peneliti LIPI), Dra. Mayke S.Tedjasaputra, M.Si (Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia).
Dalam penjurian lomba yang memiliki kategori Teknologi Terapan, IPA dan Matematika ini, juri memisahkan aspek penilaian menjadi tiga bagian yaitu ide atau gagasan (60%), proses (40%) dan output (10%). Sedangkan penilaian yang mendapatkan perhatian paling besar dari dewan juri adalah bagaimana sumber ide, motivasi dan inovasi ditampilkan oleh anak-anak. Dari 18 finalis nantinya akan dipilih 9 pemenang yang hasil karyanya akan dipamerkan pada acara Kalbe Junior Science Fair di Jakarta Convention Center (JCC) pada 8-9 September 2012. Mereka akan memperebutkan hadiah uang tunai dan hadiah total senilai lebih dari Rp 200 juta. Selain itu ke sembilan pemenang bersama guru pendamping akan mendapat kesempatan untuk mengunjugi Science Center Singapore pada 10 September 2012. Informasi terkini mengenai lomba ini dapat di akses melalui website http://www.kalbescienceawards.com.
Published in Suara Karya (Novi, 4 July 2012)
PT Kalbe Farma Tbk meloloskan 18 finalis "Kalbe Junior Scientific Award" (KJSA), program berkala yang diselenggarakan untuk menjaring siswa sekolah dasar (SD) berprestasi di bidang ilmu pengetahuan.
"Kami mengapresiasi antusias peserta yang begitu tinggi. Pada 2012 ini baru yang kedua kalinya KJSA diselenggarakan," kata Sales and Marketing Director Kalbe Farma Widjanarko Loka Djaja di Jakarta, kemarin.
Ketua Panitia Kalbe Science Award ini mengatakan, KJSA kali ini menerima 446 karya di bidang ilmu pengetahuan yang dikirim siswa kelas IV-VI SD. Mereka berasal dari 190 sekolah di 59 kabupaten/kota di Indonesia.
Diharapkan kegiatan yang mengusung tema "Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik" ini dapat terus memupuk generasi penerus yang lebih baik untuk membangun bangsa, terutama melalui kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang ditanamkan sejak dini. KJSA kali ini tergolong menarik karena jumlah peserta meningkat dua kali lipat dari sebelumnya.
Sementara itu, fisikawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang juga dosen Universitas Indonesia dan Ketua Dewan Juri KJSA, LT Handoko mengatakan, antusias sekolah untuk mengikuti kegiatan dalam KJSA dapat dilihat dari peningkatan kepesertaan maupun hasil karya.
"Secara umum, karya yang ikut kompetisi bagus dan menarik. Materi karya yang dikirimkan juga lebih beragam dan meningkat. Sulit bagi juri memilih 18 finalis yang akan diundang ke Jakarta untuk melakukan presentasi," ujarnya.
Adapun ke-18 finalis, di antaranya Alberta Danabella Ratna Dewi dan Regina Adnyana Nareswari dari SDK Sang Timur, Yogyakarta, serta Armansyah dari SDN 018 Tanah Grogot-Paser, Kalimantan Timur.
Selain itu, Averos Aulia Ananta Nur dan M Oktavian Dharma Setyawan dari SD Muhammadiyah 1, Jember, serta Balqis Nabilayeni Kusumawati dan Muhammad Rafly Rahardian dari SD Muhammadiyah Manyar, Gresik.
Selanjutnya, ke-18 finalis itu akan diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri. Untuk lomba yang memiliki kategori teknologi terapan, IPA, dan matematika ini, juri memisahkan aspek penilaian menjadi tiga bagian, yaitu ide atau gagasan (60 persen), proses (40 persen), dan hasil (10 persen). Sedangkan penilaian yang mendapat perhatian paling besar dari dewan juri terkait sumber ide, motivasi, dan inovasi yang ditampilkan. (Novi)
Published in
LIPI Website (Humas BKPI LIPI, 29 Juni 2012)
Kepala LIPI didampingi Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Dr.Ir.Syahrul Aiman, Pelaksana Harian Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas M.A. dan Peneliti Pusat Penelitian Fisika Dr. L.T Handoko pada Kamis (28/6) menerima kunjungan Prof. Emmanuel Tsesmelis, pejabat senior Conseil Europpene Pur Le Recherche Nucleaire (CERN) di Sasana Widya Sarwono, Jakarta.
CERN merupakan lembaga yang berdiri sejak tahun 1954 dan menjadi pusat penelitian internasional untuk bidang ilmu dasar rekayasa terutama pada fisika partikel dasar, akselerator partikel, teknologi informasi serta komputasi paralel untuk bidang medis dan industri.
"LIPI mendorong masuknya Indonesia dalam keanggotaan CERN serta mempersiapkan proposal bagi peneliti-peneliti LIPI agar dapat magang pada program-program CERN," ujar Lukman.
Prof. Tsesmelis juga berkesempatan mengunjungi laboratorium P2 Fisika di Komplek Puspiptek Serpong, selain melakukan kunjungan ke Kementerinan Negaea Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan dan Kebubudayaan.
Published in Progresif Jaya News (12 Mei 2012)
Mohammad Nuh melepas keberangkatan Tim Indonesia dalam ajang International Science and Engineering (IISEF) yang akan diselenggarakan di Pittsburgh, Amerika Serikat, 13 - 18 Mei 2012.
Tim Indonesia yang merupakan pemenang lomba karya ilmiah remaja (LKIR) tahun 2011 diantaranya Muhammad Luthfi Nur Fakhri, siswa SMAN 1 Bogor, Efa Fazriyah Haryono dan Marwah Zairah siswa SMAN 1 Malingping, dan dari SMAN 1 Yogyakarta yakni Aulia Azka Januartrika, Anas Muhfid Nurrochman, dan Amelia Nugrahaningrum.
Mohammad Nuh dalam pertemuan yang dilaksanakan di gedung Kemdikbud, Jakarta, Kamis malam memberikan semangat sebagai duta bangsa untuk mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa, dan diharapkan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Tim dari SMAN1 Yogyakarta dengan karya ilmiahnya bagaimana membuat konstruksi dam penahan aliran lahar dingin yang secara efektif dapat mengurangi dampak negatif dari lahar dingin dan juga untuk mempermudah kegiatan penambangan pasir vulkanik oleh masyarakat sekitar.
Tim ini dipersiapkan oleh LIPI selama 3 bulan sejak diumumkan sebagai pemenang dan dengan dukungan perusahaan swasta yakni dari Intel Internasional
"Kami mohon dukungan dari semua, dan terima kasih kepada bapak Mendikbud yang telah memberikan pengarahan dan dukungan," kata Amelia, siswa SMAN 1 Yogyakarta.
Tim LKIR akan berangkat Jumat 11 Mei 2012 dan didampingi Dr LT Handoko, LIPI. Mereka akan bertemu dengan para pemenang hadiah Nobel.
Published in
Press Release No. 005/KFCP-DIR/PR/IV/12 (18 April 2012)
PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) hari ini melakukan kick off kegiatan Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2012 dengan mengadakan Seminar Pendidikan -YŽPraktek Pengembangan Kreativitas Anak Dalam Dunia Sains Di Sekolah Dasar¡ di Hotel Peninsula, Jakarta. Dengan mengusung tema ŽInovasi untuk Kehidupan Bangsa yang Lebih Baik,¡ kegiatan KJSA yang diselenggarakan untuk kedua kalinya sejak 2011 ini ditujukan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia kepada ilmu pengetahuan sejak dini, berfikir kritis terhadap ilmu pengetahuan dan tergerak untuk mengembangkan keativitas dalam bentuk penciptaan sebuah karya ilmu pengetahuan.
ŽKalbe berkomitmen untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sejak kecil melalui acara KJSA¡, ujar Irawati Setiady, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. ŽMelihat antusiasme anak-anak dan para guru pada acara serupa tahun lalu, membuat kami terpanggil untuk menyelenggarakan acara ini kembali. Diharapkan di masa depan, anak-anak pecinta ilmu pengetahuan dan teknologi bisa memajukan dan mengangkat derajat bangsa dan negara kita menjadi bangsa yang besar dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia.¡
ŽSuatu kehormatan bagi saya kembali di pilih menjadi dewan juri dalam acara KJSA tahun ini,¡ ujar Dr. L.T. Handoko, Ketua Dewan Juri KJSA 2012. ŽIni merupakan satu-satunya kegiatan kompetisi sains yang ditargetkan untuk siswa sekolah dasar. Potensi jumlah peserta juga sangatlah besar mengingat jumlah siswa sekolah dasar di Indonesia juga besar.¡
Kegiatan Kalbe Junior Scientist Award 2012 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak Indonesia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan sesuatu ilmu yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang menyenangkan, mengasyikan dan mudah (edutainment),¡ ujar Widjanarko Lokadjaja, Ketua Panitia Kalbe Science Award. Bidang ilmu pengetahuan yang dilombakan di sini adalah bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Teknologi terapan sederhana. Kegiatan ini ditujukan bagi anak-anak usia Sekolah Dasar kelas IV sampai VI, dengan skala nasional. Pendaftaran dimulai 18 April 2012 dan ditutup pada 25 Juni 2012. Syarat-syarat lomba dapat diakses melalui http://www.kalbescienceawards.com. Sebanyak delapan belas (18) finalis akan diundang ke Jakarta untuk menampllkan hasil karya mereka kepada Dewan Juri untuk kemudian dipilih sembilan (9) pemenang yang hasil karyanya akan dipamerkan pada acara Junior Science Fair di Jakarta Convention Center (JCC) pada 8-9 September 2012. Selain itu ke sembilan pemenang bersama guru pendamping akan mendapat kesempatan untuk mengunjugi Science Center Singapore pada 10 September 2012.
Tim juri Kalbe Junior Scientist Award 2012 terdiri dari beberapa tokoh yang ahli di bidangnya, diantaranya Prof. Yohanes Surya, Ph.D. (Direktur Yayasan Surya Institute), Dr. Karnadi, M.Si (Dewan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta), Dr. L.T. Handoko (PP-Fisika LIPI), Dr. Puspita Lisdiyanti (Peneliti LIPI), Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si (Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia).
Untuk keterangan lebih lanjut: