| main article site » |
Published in
Koran Bogor (3 November 2015)
Pangan merupakan kebutuhan dasar dan pemenuhannya adalah merupakan hak asasi setiap orang. Hal itu penting dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Seperti disampaikan Hardi Julendra, S.Pt, MSc, Kepala UPT BPPTK LIPI, Indonesia memiliki berbagai macam makanan tradisional yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Misalnya gudeg, rendang, tempe, kecap dan saos. “Permasalahannya, pangan tradisional tidak dapat disimpan lama,” terang Hardi Julendra, Selasa (3/11/2015), bersama Deputi Bidang IPT LIPI Dr Laksana Tri Handoko.
Menurut Hardi, teknologi pengemasan dan pengawetan dapat meningkatkan daya simpan makanan tradisional. Pada umumnya, UKM (Usaha Kecil dan Menengah) tidak memiliki investasi untuk menggunakan teknologi itu.
Sejalan dengan tugas pokok dan fungsinya, UPT BPPTK LIPI memiliki pengalaman yang panjang dalam proses pengawetan makanan tradisional dan khas daerah seperti gudeg Bu Tjitro, gudeg Bu Lies, gudeg Kusumawicitra dan olahan hasil ternak daging puyuh Bu Jayus, sambel pecel dan rendang daging “Minang Ria”.
Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPT BPPTK LIPI) yang terletak di Jl Jogja-Wonosari km 31,5 Gading, Playen, Gunungkidul, satu-satunya institusi yang memiliki laboratorium olahan pangan berupa pengalengan dan pengawetan makanan.
Hasil diseminasi itu, seperti dikatakan Hardi Julendra, ternyata dapat menaikkan pangsa pasar dan memberikan kontribusi sebesar 25 persen dari total PNBP. Selain itu, UPT BPPTK LIPI menyediakan layanan riset pengembangan dan pengawetan makanan tradisional dalam kemasan kaleng dan pouch. (affan)
Published in PP Iptek (22 Desember 2015)
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) melalui Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) bekerja sama dengan PT Kalbe Tbk menyelenggarakan kegiatan Penyerahan Alat Peraga Pemenang Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2015 kepada PP-IPTEK.
Kegiatan ini dilaksanakan di PP-IPTEK Taman Mini Indonesia Indah pada Selasa, 15 Desember 2015. Setiap tahunnya PP-IPTEK terus bekerja sama dengan PT Kalbe Tbk dalam kegiatan KJSA, dari penjurian maupun pembuatan alat peraga interaktif yang nantinya dipamerkan di PP-IPTEK. KJSA 2015 diselenggarakan ke-5 kalinya sejak tahun 2011 merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap perkembangan sains di Indonesia, khususnya untuk anak-anak sekolah dasar. Pelaksanaan KJSA dari tahun ke tahun mengalami perkembangan, untuk tahun ini terdapat 811 karya dari 237 sekolah yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia. Jumlah karya ini meningkat dibanding jumlah tahun sebelumnya. Bidang yang dilombakan meliputi sains, baik IPA, Matematika, Teknologi, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan sains. Dalam kegiatan ini terdapat 9 alat peraga yang diserahkan pihak PT Kalbe Tbk kepada PP-IPTEK. Alat-alat peraga ini berasal dari karya para pemenang KJSA 2015. Serah terima alat peraga dilakukan oleh Direktur Stem Cell & Cancer Institute Kalbe, Sandy Qlintang kepada PP-IPTEK yang diwakili oleh Karya Subarman selaku Kepala Sub Divisi Administrasi PP-IPTEK.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan juri KJSA 2015 LT. Handoko (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI) dan Nurul Taufiqu Rochman (Ketua Masyarakat Nano Teknologi Indonesia LIPI), Arief Nugroho Ketua KJSA 2015, serta perwakilan pemenang KJSA 2015.
Dengan seleksi yang cukup ketat, terpilihlah 9 karya sains terbaik. Kesembilan karya sains alat peraga itu ialah sebagai berikut:
Dari kesembilan karya sains tersebut, Bag Overweight Sensor (BOS) terpilih sebagai Pemenang Favorit KJSA 2015. ''Mudah-mudahan dengan adanya alat peraga ini dapat menarik anak-anak untuk belajar sehingga menghasilkan suatu karya. Kami juga ingin mengajak perusahaan lainnya untuk turut peduli dengan pendidikan, serta dengan alat peraga ini dapat meningkatkan pengunjung PP-IPTEK ke depannya,'' ucap Karya Subarman dalam sambutannya.
Direktur Stem Cell & Cancer Institute Kalbe, Sandy Qlintang mengatakan, ''Kegiatan KJSA 2015 ini tentunya tidak lepas dari dukungan pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, khususnya Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) yang telah membuat alat peraga pemenang KJSA 2015. Kalbe dan PP-IPTEK terus bekerja sama di bidang iptek berbasis alat peraga yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak terhadap sains dan ilmu pengetahuan. Dengan ini saya atas nama PT Kalbe menyerahkan kepada PP-IPTEK 9 karya dari pemenang KJSA 2015.''
Kesembilan alat peraga ini pun menambah koleksi di PP-IPTEK sehingga diharapkan memberikan pembelajaran baru untuk para pengunjung.
Published in
Waktoe.com (Ch. Dewi Ratih, 4 November 2015)
UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan kegiatan Pekan Teknologi Tahun 2015, bertemakan “Sinergi AGBC (Academic Government Business and Community) Untuk Mendukung Hilirisasi Hasil Riset” , kegiatan ini dimotori oleh Seksi Program dan Kerjasama UPT BPPTK LIP yang bertugas dalam melaksanakan layanan kerjasama jasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) melalui pengembangan produk, kerjasama penelitian, jasa teknologi, konsultasi pakar dan ahli, maupun pendidikan, dan pelatihan.
“Sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia, LIPI memiliki sejumlah hasil penelitian di bidang iptek yang berpotensi untuk dikembangkan, dan hasil penelitiannya agar bisa diketahui oleh masyarakat, sehingga manfaatnya sebuah penelitian dapat dikatakan berhasil apabila dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dapat dirasakan,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Tehnik LIPI, L.T Handoko, Selasa (03/11) di Kantor UPT BPPTK LIPI, Jl. Raya Yogya-Wonosari Km 31, Gading, Playen, Gunungkidul.
Ditambahakan Handoko, salah satu tujuan pemasyarakatan dan sosialisasi iptek adalah meningkatkan peluang kerjasama, baik kerjasama penelitian maupun implementasi hasil riset oleh industri, pemerintah, dan akademisi. “Beberapa temuan teknologi LIPI telah disenergikan dengan dunia industri terutama yang berkaitan dengan teknologi pangan,” tambahnya.
Sementara Kepala UPT BPPTK LIPI, Hardi Julendra mengatakan kegiatan pameran yang dilakukan oleh UPT BPPTK LIPI ini sebagai sarana untuk melakukan pemasyarakatan iptek dan sosialisasi layanan teknologi iptek kepada masyarakat luas, agar masyarakat dapat memperoleh gambaran jelas dan nyata tentang potensi ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di UPT BPPTK.
“Kegiatan ini diharapkan juga dapat menjadi wahana pengenalan iptek dan sosialisasi hasi-hasil penelitian dan pengembangan iptek bagi masyarakat luas, UKM, industri, lembaga pemerintah dan kalangan akademisi sehingga meningkatkan peluang kerjasama baik kerjasama penelitian maupun implementasi hasil risetnya,” jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 2 hingga 13 November 2015, ini diikuti oleh para pemangku kebijakan, lembaga pemerintah, pemerintah daerah, dinas terkait, mitra kerjasama, stakeholders, sektor usaha kecil dan menengah, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat umum, akan diisi oleh berbagai kegiatan, diantaranya Launching e-GMS, pameran produk UKM binaan, kunjungan sekolah-sekolah, demo produk, praktek pembuatan olahan, workshop, forum diskusi, dan seminar kerjasama BAPPEDA.
Published in Pikiran Rakyat (Agus Ibnudin, 2 November 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) akan mengadakan Pekan Teknologi 2015, dijadwalkan berlangsung di Kantor UPT BPPTK LIPI, Gunungkidul, Provinsi DI Yogyakarta, 3 s.d. 13 November 2015. Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi AGBC-Academic Government Business and Community untuk Mendukung Hilirisasi Hasil Riset“.
Sebagaimana keterangan yang diperoleh PR Online, sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia, LIPI memiliki sejumlah hasil penelitian pada bidang iptek yang berpotensi untuk dikembangkan. Selain itu, hasil penelitian selayaknya diketahui, sehingga masyarakat dan “stakeholders” dapat merasakan manfaatnya.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI L.T. Handoko menuturkan, untuk menginformasikannya, diperlukan kegiatan sosialisasi iptek yang merupakan sarana bagi masyarakat dan dunia industri untuk memperoleh gambaran jelas dan nyata tentang potensi ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Salah satu tujuan pemasyarakatan dan sosialisasi iptek adalah meningkatkan peluang kerja sama, baik kerja sama penelitian maupun implementasi hasil riset antara industri, pemerintah, dan akademisi,” ujarnya.
Dijelaskan, UPT BPPTK LIPI telah menghasilkan sejumlah penelitian di bidang iptek, di antaranya produk pangan seperti gudeg kaleng, tempe, jamu herbal, dan susu kambing.
“Beberapa temuan teknologi LIPI telah disinergikan dengan dunia industri, terutama yang berkaitan dengan teknologi pangan,” katanya.
Menurut dia, sinergitas antara temuan hasil riset dengan dunia industri sangatlah penting sebagai upaya untuk hilirisasi hasil riset.
Rencananya, dalam kegiatan ini juga akan diselenggarakan “launching” sistem layanan e-GMS (electronic-good manufacturing services), forum Iptekda (program penerapan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah LIPI), bedah Buku Kumpulan Iptekda UPT BPPTK LIPI, pameran produk-produk UPT BPPTK LIPI dan UKM-UKM binaan. LIPI juga akan menyelenggarakan “open house” di bidang energi alternatif.
Handoko menuturkan, Pekan Teknologi 2015 dapat sebagai wadah untuk bertemunya para “stakeholders”, penyedia jasa teknologi, dan masyarakat untuk “sharing knowledge”.
Menurut Handoko, salah satu target yang juga ingin dicapai adalah kerja sama antara jasa teknologi dengan industri pengembangan produk. “Kerja sama antara penyedia jasa teknologi dengan industri di Indonesia harus ditingkatkan agar manfaat hasil riset dapat dirasakan langsung oleh pengguna dan masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan Pekan Teknologi 2015 ini merupakan momentum tepat untuk mempertemukan dunia industri dengan bisnis yang dapat menjadi inkubator perkembangan teknologi.
Published in Siaran Pers LIPI (Humas LIPI, 3 November 2015)
Jakarta, 3 November 2015. Sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia, LIPI memiliki sejumlah hasil penelitian di bidang iptek yang berpotensi untuk dikembangkan. Selain itu, hasil penelitian selayaknya diketahui sehingga masyarakat dan stakeholders dapat merasakan manfaatnya. Untuk menginformasikannya, diperlukan kegiatan sosialisasi iptek yang merupakan sarana bagi masyarakat dan dunia industri untuk memperoleh gambaran jelas dan nyata tentang potensi ilmu pengetahuan dan teknologi. “Salah satu tujuan pemasyarakatan dan sosialisasi iptek adalah meningkatkan peluang kerjasama, baik kerjasama penelitian maupun implementasi hasil riset antara industri, pemerintah dan akademisi,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Tehnik LIPI, Dr. Ir. L.T Handoko.
UPT BPPTK LIPI telah menghasilkan sejumlah penelitian di bidang iptek di antaranya produk pangan seperti gudeg kaleng, tempe, jamu herbal, dan susu kambing. “Beberapa temuan teknologi LIPI telah disinergikan dengan dunia industri terutama yang berkaitan dengan teknologi pangan,” jelas Handoko. Sinergitas antara temuan hasil riset dengan dunia industri sangatlah penting sebagai upaya untuk hilirisasi hasil riset.
Dalam kegiatan ini juga akan diselenggarakan launching sistem layanan electronic-good manufacturing services) (e-GMS), forum Iptekda (program penerapan dan pemanfaatan ilmu Pengetahuan dan teknologi di daerah LIPI), bedah Buku Kumpulan Iptekda UPT BPPTK LIPI, pameran produk – produk UPT BPPTK LIPI dan UKM – UKM binaan. “Kami juga akan melakukan demo teknologi pada produk pangan seperti gudeg kaleng, tempe, jamu herbal, sabun herbal dan susu kambing,” jelas Handoko. Selain itu, LIPI juga akan menyelenggarakan open house di bidang energi alternatif.
Handoko menambahkan, sasaran kegiatan pekan teknologi tahun 2015 diikuti oleh para pemangku kebijakan, mitra kerjasama, stakeholders, sektor usaha kecil dan menengah, perguruan tinggi, sekolah dan masyarakat umum. “Pekan Teknologi tahun 2015 dapat sebagai wadah untuk bertemunya para stakeholders, penyedia jasa teknologi dan masyarakat untuk sharing knowledge,” kata Handoko.
Menurut Handoko, sebagai salah satu target yang juga ingin dicapai adalah kerjasama antara jasa teknologi dengan industri pengembangan produk. “Kerjasama antara penyedia jasa teknologi dengan industri di Indonesia harus ditingkatkan agar manfaat hasil riset dapat dirasakan langsung oleh pengguna dan masyarakat,” katanya. Kegiatan pekan teknologi 2015 ini merupakan momentum tepat untuk mempertemukan dunia industri dengan bisnis yang dapat menjadi inkubator perkembangan teknologi. “Diharapkan dengan kegiatan ini dapat meningkatkan hubungan kerjasama antara pemerintah, akademisi, bisnis dan masyarakat,” jelas Handoko.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan di antaranya Launching sistem layanan e-GMS dan Pembukaan Pekan Teknologi serta Forum IPTEKDA dan Bedah Buku Kumpulan IPTEKDA UPT BPPTK LIPI (3 November 2015), Workshop Teknologi Olahan Hasil Perikanan kerjasama dengan Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan (BP2HP) Jakarta (5 November 2015), workshop spray dryer kerjasama dengan PT Buchi Indonesia (9 November 2015), FGD Komunitas Pemerhati Biogas yang dimotori oleh Kelompok Peneliti Proses Teknologi Bahan Alam (10 November 2015), FGD Konsorsium Mikotoksin kerjasama UPT BPPTK LIPI dengan Universitas Gadjah Mada (11 November 2015), Seminar Hasil Penelitian kerjasama UPT BPPTK LIPI dengan BAPPEDA Kab. Gunungkidul dan Universitas Gunungkidul (12 November 2015) dan Kunjungan Terbuka, Demo Mini olahan Produk Hasil Penelitian dan Kunjungan Teknologi UPT BPPTK LIPI.
“Kegiatan pekan teknologi diselenggarakan untuk mewujudkan LIPI sebagai lembaga riset yang berkontribusi bagi masyarakat Indonesia yang berilmu pengetahuan,” pungkas Handoko.
Keterangan Lebih Lanjut:
- Dr.Laksana Tri Handoko (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT)LIPI)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A. (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI)
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri acara Pekan Teknologi Tahun 2015, yang bertema: “Sinergi AGBC – Academic Government Business and Community untuk Mendukung Hilirisasi Hasil Riset“ pada 3 sd 13 November 2015 bertempat di Kantor UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI Gunungkidul, Jln. Raya Yogya – Wonosari, Km. 31,5, Desa Gading, Kec. Playen, Kab. Gunungkidul – Yogyakarta.
Penulis: UPT. BPPTK LIPI, lyr
Editor: yos&isr
Published in
Kedaulatan Rakyat (3 November 2015)
Unit Pelaksana Tugas (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK)- LIPI Yogyakarta di Gading, Playen Gunungkisul menggelar pekan teknologi 2015. Kegiatan dengan tema “Sinergi Academic Government Business adan Community (AGBC) untuk mendukung hilirisasi hasil riset” dibuka oleh Deputi IPT LIPI Dr Laksana Tri Handoko, di Gading, Playen, Selasa (03/11/2015).
Menurut Kepala UPT BPPTK LIPI Gunungkidul Hardi Julendra SPl MSc bahwa pekan teknologi yang berlangsung hingga 13 November 2015 untuk mengenalkan iptek dan keberadaan UPT BPPTK LIPI Yogyakarta di Gunungkidul sebagai lembaga ilmu pengetahuan (iptek) tentang penerapan teknologi. Selama ini UPT BPPTK LIPI melakukan pembinaan dan kemitraan dengan usaha kecil menengah (UKM) dan ekonomi kreatif baik yang ada di Gunungkidul maupun DIY dan luar daerah.
Selama berlangsung pekan teknologi ditargetkan dikunjungi 1.000 orang baik pelaku UKM, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Adapun pekan teknologi tersebut meliputi kegiatan iptek bidang pangan, pakan, teknologi kimia dan lingkungan dan demo tentang produk pangan dalam kaleng, olahan hasil perikanan dan kelautan, produk olahan, jamu herbal, pembuatan dan pengolahan susu kaleng dan pembuatan BMC tempe dan open house energy alternatif.
Sementara itu menurut Deputi IPT Dr Laksana Tri Handoko sangat mendukung langkah UPT BPPTK LIPI Yogya yang menggelar pekan teknologi yang merupakan inisai pertama kalinya. Pihaknya menilai bahwa UPT BPPTK Yogya dinilai berhasil dari seluruh program 80 persen dinilai berhasil.
Pihaknya minta agar UPT BPPTK Yogya ini mejadi kampus teknologi yang menjadi mitra UKM, usaha ekonomi kreatif maupun menjadi mitra bagi perguruan tinggi dalam melakukan penelitian.
Selain itu Handoko minta kepada UPT untuk proaktif dalam mendampingi UKM dan usaha ekonomi kreatif terutama bagi masyarakat Gunungkidul yang perlu pendampingan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Awa)
Published in Pikiran Rakyat (3 November 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) akan mengadakan Pekan Teknologi 2015 di Kantor UPT BPPTK LIPI. Gunungkidul. Yogyakarta.3-13 November 2015. Kegiatan ini mengusung tema Sinergi AGBC Academic Government Business and Community untuk Mendukung Hilirisasi Hasil Riset". Sebagaimana keterangan yang diperoleh. Senin (2/11/2015) . disebutkan, sebagai lembaga riset terbesar di Indonesia. UPI memiliki sejumlah hasil penelitian pada bidang iptek yang berpotensi untuk dikembangkan. Selain itu. hasil penelitian selayaknya diketahui sehingga masyarakat dan stakeholder dapat merasakan manfaatnya. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI LT Handoko menuturkan, sosialisasi iptek merupakan sarana bagi masyarakat dan dunia industri untuk memperoleh gambaran tentang potensi ilmu pengetahuan dan teknologi. "Salah satu tujuan sosialisasi iptek adalah meningkatkan peluang keija sama, baik kerja sama penelitian maupun implementasi hasil riset antara industri, pemerintah, dan akademisi." ujarnya. Dijelaskan, UPT BPPTK LIPI telah menghasilkan sejumlah penelitian di bidang iptek, di antaranya produk pangan seperti gudeg kaleng, tempe, jamu herbal, dan susu kambing. (Al)* *
Published in Pikiran Rakyat (Dewiyatini, 30 October 2015)
Untuk melepaskan ketergantungan terhadap produk alat medis luar negeri, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama melakukan penelitian strategis dengan sejumlah pihak guna meningkatkan sumber daya lokal dibidang medis. Ketergantungan terhadap luar negeri ini menghabiskan dana yang sangat tinggi. Ditambah lagi, pengadaannya juga sulit.
Wakil Kepala LIPI Akmadi Abbas mengatakan, di bidang medis Indonesia masih tergantung pada produk luar negeri. Padahal proses pengadaannya cukup sulit, serta harganya sangat tinggi. Apalagi pemahaman sumber daya manusia lokal juga cenderung rendah.
"Memandang kebutuhan yang besar, peningkatan sumber daya lokal sangat diperlukan untuk mengisi kebutuhan tersebut," kata Akmadi seusai kegiatan International Conference on Automation, Cognitive Science, Optics, Micro Electro-Mechanical System, and Information Technology (ICACOMIT), di Hotel Aston Tropicana Jalan Cihampelas, Kamis (29/10/2015).
LIPI kini tengah memperluas jaringan dan komunitas peneliti di bidang instrumentasi terkait dengan pengukuran dan sistem pengendalian (control system). Penelitian terkait dengan teknologi instrumentasi seperti brain engineering, sistem suspensi, pengolahan air, kontrol, ilmu kognitif, optik, sistem mikro elektromekanis, dan teknologi informasi harus terus didukung karena dapat memberikan manfaat terutama kepada pemerintah untuk memantau dan mengamankan wilayah Indonesia.
Kepala UPT Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) Demi Soetraprawata mengakui, meneliti produk strategis itu cukup rumit. Menurut dia, dibutuhkan banyak personel dari multidisiplin ilmu yang terlibat dalam penelitian. "Dengan demikian, pembangunan dapat ditingkatkan dan mempercepat berdirinya kerja sama nasional dan internasional dengan berbagai lembaga penelitian, universitas, serta swasta," ujarnya.
Oleh karena itu, LIPI kini telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga penelitian dan universitas, baik negeri maupun swasta. LIPI sedang mempersiapkan kerja sama dengan Universitas Nasional Pusan, Korea Selatan. Selain itu, LIPI akan melakukan kerja sama pengembangan SDM bersama ahli-ahli dari ITB, UGM, Unpad, dan UI. Dalam program ini, UPI sebagai lembaga penelitian menyediakan fasilitas untuk melakukan penelitian dalam teknologi instrumentasi.
Dalam kegiatan ICACOMIT yang diselenggarakan selama dua hari tersebut dihadirkan sejumlah pembicara kunci yang akan mengupas perkembangan bidang instrumentasi. Di antaranya Keum Shik Hong (Head of Department of Cogno-Mechatronics Engineering and School of Mechanical Engineering Pusan National University, Korea), Parsaoran Hutapea (Associate Professor in the Department of Mechanical Engineering, Tample Univ, USA), Pola Chen (Electronic and Computer Engineering National Taiwan University of Science and Technology), Bambang Subiyanto (Deputi Bidang Jasil LIPI), Laksana Tri Handoko (Deputi Bidang IPT UPI). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para ilmuwan dari sem-bilan negara yaitu Indonesia, Korea, Amerika Serikat, Taiwan, Czechoslovakia, Malaysia. India, Sudan, dan Tiongkok.
Berbasiskan otak
Tahun ini, peneliti LIPI Arjon Turnip telah berhasil mengembangkan sistem kontrol berbasis brain-computer interface dengan sinyal biofeedback. Temuan ini merupakan penyempurnaan pengembangan alat yang membuat otak mampu mengendalikan gerakan kursi roda elektrik lewat penerjemahan sinyal-sinyal listrik dari otak.
"Alat ini membantu penyandang disabilitas yang tak bisa menggerakkan anggota badan, dan pengguna bisa menggerakkan dan mengendalikan kursi roda hanya dengan memikirkan perintah. Ini merupakan bukti nyata pentingnya pengembangan riset instrumentasi," kata Arjon.
Menurut Arjon alat itu merupakan alat bantu ketika otak tidak berfungsi akurat Ia menyebutkan alat itu adalah pengembangan sistem intelijen asistif berbasis sinyal bio feedback. Sistem ini dikendalikan langsung oleh otak manusia dengan menggunakan informasi dari sinyal bio feedback seperti pancaindra.
Namun, alat ini, kata Arjon, memang belum diusulkan untuk digunakan pasien karena ia belum menguji pada pasien. Arjon masih akan mengembangkan sistem kontrolnya terutama saat dipakai subjek ataupun autokontrol.
Teknologi yang dipakainya itu, menurut Arjon, akan mampu meningkatkan efektivitas dan kemampuan aplikasi sistem biomedis (intelijen asistif untuk penyandang cacat, robot rehabilitasi, diagnosis penyakit), aplikasi militer dan kepolisian {silent talk technology dan driving licence test), hiburan, serta transportasi.
Published in Bisnis Indonesia (29 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar International Conference on Automation, Cognitive Science, Optics, Micro Electro-Mechanical System, and Information Technology (ICACOMIT) di Bandung pada Kamis (29/10/2015).
Pengembangan riset nasional yang kuat diperlukan untuk mendukung aktivitas industri nasional yang mampu menciptakan kegiatan ekonomi, terutama di bidang pengembangan instrumentasi.
LIPI mengungkapkan selama ini, untuk sensor, teknik pengukuran, dan kalibrasi yang popular digunakan di dunia industri, Indonesia masih cenderung bergantung terhadap suplai asing.
Wakil Kepala LIPI Akmadi Abbas mengatakan LIPI selaku lembaga penelitian memiliki komitmen untuk memperluas jaringan serta komunitas peneliti, salah satunya di bidang instrumentasi terkait pengukuran (measurement) dan sistem pengendalian (control system).
"Penelitian terkait teknologi instrumentasi seperti brain engineering, sistem suspensi, pengolahan air, kontrol, ilmu kognitif, optik, sistem mikro elektromekanis, dan teknologi informasi harus terus didukung karena dapat memberikan manfaat terutama kepada pemerintah untuk memantau dan mengamankan wilayah Indonesia," ujar Akmadi.
Menurut Akmadi, terdapat beberapa penelitian strategis yang sangat penting untuk dikembangkan, contohnya pengembangan alat medis.
"Selama ini, kita masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap produk-produk luar negeri. Padahal biaya produknya sangat tinggi, proses pengadaannya sulit, dan pemahaman Sumber Daya Manusia (SDM) lokal terhadap produk luar juga cenderung rendah, sehingga peningkatan SDM lokal sangat diperlukan untuk mengisi kebutuhan tersebut," ujarnya.
ICACOMIT ini merupakan kerjasama LIPI dengan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Indonesia Control System Society, Robotics and Automation Society and System (CSS/RAS) Joint Chapter serta didukung oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
ICACOMIT didukung oleh beberapa keynote speakers dan invited speakers dari dalam dan luar negeri yang akan mengupas perkembangan bidang instrumentasi.
Adapun para pembicara tersebut yaitu Keum Shik Hong dari Pusan National University, Korea, Parsaoran Hutapea dari Tample University, Amerika Serikat, Poki Chen dari National Taiwan University of Science and Technology, Deputi Bidang Jasa llmiah (Jasil) LIPI Bambang Subiyanto, Deputi Bidang IPT LIPI Laksana Tri Handoko.
ICACOMIT 2015 ini juga dihadiri oleh para ilmuwan dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Korea, Amerika Serikat, Taiwan, Czechoslovakia, Malaysia, India, Sudan, dan China. Adapun ICACOMIT ini akan digelar selama 2 hari pada Kamis-Jumat, 29-30 Oktober 2015. (K5)
Published in Siaran Pers LIPI (Humas LIPI, 28 October 2015)
Bandung, 28 Oktober 2015. LIPI selaku lembaga penelitian memiliki komitmen untuk memperluas jaringan serta komunitas peneliti, salah satunya di bidang instrumentasi terkait pengukuran (measurement) dan sistem pengendalian (control system). “Penelitian terkait teknologi instrumentasi seperti brain engineering, sistem suspensi, pengolahan air, kontrol, ilmu kognitif, optik, sistem mikro elektromekanis, dan teknologi informasi harus terus didukung karena dapat memberikan manfaat terutama kepada pemerintah untuk memantau dan mengamankan wilayah Indonesia,” ujar Wakil Kepala LIPI, Dr. Akmadi Abbas.
Menurut Akmadi, terdapat beberapa penelitian strategis yang sangat penting untuk dikembangkan, sebagai contoh yaitu pengembangan alat medis. “Selama ini, kita masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap produk-produk luar negeri. Padahal biaya produknya sangat tinggi, proses pengadaannya sulit, dan pemahaman Sumber Daya Manusia (SDM) lokal terhadap produk luar juga cenderung rendah,” ungkapnya. Memandang kebutuhan yang besar, peningkatan sumber daya lokal sangat diperlukan untuk mengisi kebutuhan tersebut, sambung Akmadi.
Tahun ini, peneliti LIPI Dr. Arjon Turnip telah berhasil mengembangkan sistem kontrol berbasis brain-computer interface dengan sinyal biofeedback. Temuan ini merupakan penyempurnaan pengembangan alat yang membuat otak mampu mengendalikan gerakan kursi roda elektrik lewat penerjemahan sinyal-sinyal listrik dari otak. “Alat ini membantu penyandang disabilitas yang tak bisa menggerakkan anggota badan, dan pengguna bisa menggerakkan dan mengendalikan kursi roda hanya dengan memikirkan perintah. Ini merupakan bukti nyata pentingnya pengembangan riset instrumentasi” jelas Kepala UPT BPI, Demi Soetraprawata, MT.
Menyadari fakta bahwa melakukan penelitian pada produk strategis cukup rumit, Demi mengatakan bahwa dibutuhkan sejumlah besar personil dari multi-disiplin yang terlibat dalam penelitian, sehingga pembangunan dapat ditingkatkan dan mempercepat berdirinya kerjasama nasional dan internasional dengan berbagai lembaga penelitian, universitas, serta swasta.”Saat ini, LIPI sedang mempersiapkan kerjasama dengan Universitas Nasional Pusan, Korea Selatan. Selain itu, LIPI akan melakukan kerja sama pengembangan SDM bersama ahli-ahli dari ITB, UGM, UNPAD, dan UI,” imbuh Demi. Dalam program ini, LIPI, sebagai lembaga penelitian, menyediakan fasilitas untuk melakukan penelitian dalam teknologi instrumentasi.
ICACOMIT didukung oleh beberapa keynote speakers dan invited speakers dari dalam dan luar negeri yang akan mengupas perkembangan bidang instrumentasi. Keynote dan invited speakers tersebut antara lain: (1) Prof. Keum Shik Hong (Head of Department of Cogno-Mechatronics Engineering and School of Mechanical Engineering Pusan National University, Korea); (2) Dr. Parsaoran Hutapea (Associate Professor in the Department of Mechanical Engineering, Tample Univ, USA); (3) Prof. Poki Chen (Electronic and Computer Engineering National Taiwan University of Science and Technology); (4) Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr. (Deputi Bidang Jasil LIPI); (5) Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc. (Deputi Bidang IPT LIPI). Sebagai informasi, ICACOMIT 2015 ini akan dihadiri oleh para ilmuwan dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Korea, Amerika Serikat, Taiwan, Czechoslovakia, Malaysia, India, Sudan, dan Cina dan akan diselenggarakan pada Kamis-Jum’at, 29-30 Oktober 2015 di Hotel Aston Tropicana, Jl. Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Indonesia pada pukul 08.30 WIB.
Keterangan Lebih Lanjut:
- Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr. (Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI)
- Demi Soetraprawata, MT. (Kepala UPT Balai Pengembangan Instrumentasi)
- Dr. Arjon Turnip (General Chair ICACOMIT 2015)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri International Conference on Automation, Cognitive Science, Optics, Micro Electro-Mechanical System, and Information Technology (ICACOMIT) yang akan diselenggarakan pada Kamis, 29 Oktober 2015 di Hotel Aston Tropicana, Jl. Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Indonesia pada pukul 08.30 WIB – selesai.
Siaran Pers ini dibuat oleh Humas LIPI
Penulis: BPI, msa
Editor: yos,isr
Published in
DAAI TV (22 October 2015)
Talk Show program acara "Halo Indonesia" DAAI TV bersama peraih LYSA 2015, Dr. Ratih Pangestuti. Jadwal pk. 09:00-10:00 WIB, dipandu oleh Ryan Fernando dan Astia Dika. Siaran ulang tanggal 22 Oktober 2015 pk. 16:00-17:00 WIB dan pk. 22:00-23:00 WIB.
Published in
LIPI (Humas LIPI, 8 October 2015)
Dinamika sosial, politik dan perkembangan ilmu pengetahuan selalu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) sejak dilaksanakan pertama kali pada tahun 1958 sampai saat ini. Sebagai wadah penguatan ilmu pengetahuan di Indonesia, KIPNAS XI tahun 2015 diharapkan menghasilkan luaran yang fokus, strategis, dan implementatif. Setelah melalui berbagai tahapan pembahasan para ilmuwan, kegiatan empat tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan menghasilkan deklarasi ilmuwan Indonesia. Deklarasi ini tertuang dalam Deklarasi KIPNAS XI yang akan disampaikan di Auditorium LIPI, Jum’at 9 Oktober 2015.
Jakarta, 8 Oktober 2015. Perjalanan panjang penyelenggaraan KIPNAS belum sepenuhnya berdampak besar terhadap perbaikan permasalahan bangsa. Hal ini dikarenakan luaran berupa rekomendasi KIPNAS cenderung masih terabaikan. Namun tahun ini, LIPI bekerjasama dengan Kemenristekdikti ingin menekankan kembali pentingnya pemikiran ilmuwan untuk membangun Indonesia sejahtera melalui penyelenggaraan KIPNAS XI. KIPNAS diikuti 700 peserta dari seluruh Indonesia.
Menurut Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, seyogyanya kontribusi ilmu pengetahuan difokuskan sebagai motor utama dalam peningkatan daya saing bangsa. “Kita tentu tidak menginginkan adanya kerancuan pemahaman di negara seperti Indonesia. Seperti yang kita lihat, pemegang kebijakan cenderung memilih jalan pintas dengan mereduksi aktifitas ilmu pengetahuan untuk penguatan industri dan ekonomi tanpa melihat 'proses' yang harus dilalui,” tegas Iskandar.
Sejak KIPNAS pertama tahun 1958, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menempatkan kedudukan ilmu pengetahuan menurut kebutuhan zaman, dan menjadi dasar segala usaha negara dan masyarakat. Tantangan ini tidaklah tanpa dasar, jika merujuk keberhasilan banyak negara. “Indonesia ke depan adalah Indonesia yang maju, sejahtera, berdaya saing dan mandiri. Pencapaian tujuan pembangunan nasional tersebut, dalam konteks kekinian dan masa depan, mensyaratkan sebuah pendekatan pembangunan yang visioner didukung oleh penguasaaan ilmu pengetahuan,” lanjut Iskandar.
KIPNAS XI merupakan momen penting untuk terus memacu perkembangan ilmu pengetahuan di tanah air dan mendorong kontribusi ilmu pengetahuan terhadap pemecahan masalah bangsa. “Rekomendasi hasil pelaksanaan KIPNAS ke-XI diharapkan dapat terintegrasi dengan kebijakan pemerintah baru yang meletakkan sembilan program unggulan (Nawacita) Presiden Joko Widodo,” imbuh Iskandar yang mengharapkan peran masyarakat dan media untuk turut mengawali implementasi rekomendasi ini di tataran penyusunan kebijakan pemerintah.
Dengan mengambil tema ‘Signifikansi dan Kontribusi Ilmu Pengetahuan bagi Indonesia Sejahtera’, KIPNAS diharapkan dapat memecahkan isu-isu strategis abad 21 melalui pendekatan ilmu pengetahuan yang integratif, kooperatif dan lintas disiplin. “Melalui empat komisi yakni Ilmu Pengetahuan Alam dan Maritim, Ilmu Pengetahuan Teknik, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, serta Kesehatan dan Obat, diharapkan menghasilkan rumusan yang implementatif dan mendukung upaya mengejar ketertinggalan dengan negara lain”, jelas Deputi Ilmu Pengetahuan Bidang Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko.
Hadir sebagai pembicara kunci pada Jum’at pagi, Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan dengan tema Kebijakan Penganggaran untuk Mendorong Perkembangan Iptek, dan Deputi Bidang SDM Aparatur KemenPAN-RB dengan tema Peluang Implementasi UU ASN. Selain itu, hadir pula Sekretaris Menteri Bappenas dengan tema Peran Iptek dalam Kebijakan Pembangunan Nasional dan berbagai pembicara ahli lainnya. Sebelum deklarasi, akan digelar sidang lintas komisi dengan pembicara kunci Mr. Anshul Sonak, Direktur Intel Regional Asia Pasific dengan tema Science, Technology & Innovation – Looking Ahead. Sebagai informasi, Deklarasi KIPNAS XI akan disampaikan pada Jum’at, 9 Oktober 2015 di Auditorium LIPI pada pukul 15.30 WIB.
Keterangan Lebih Lanjut:
-Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi IPT LIPI )
-Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri Deklarasi Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional XI pada Jum’at, 9 Oktober 2015 di Auditorium LIPI, Jl. Gatot Subroto Kav. 10, Jakarta, pukul 15.30 WIB s.d. selesai.
Published in
LIPI (Humas LIPI, 8 October 2015)
Penguasaan sains dapat menjadi salah satu tolok ukur kemajuan pembangunan Oleh karena itu, apresiasi tinggi patut diberikan kepada ilmuwan muda dan remaja yang mampu berkomitmen mengembangkan sains dan memiliki temuan penelitian yang berskala internasional. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memberikan penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) dan bekerjasama dengan Intel akan memberikan anugerah Peneliti Remaja Berprestasi Internasional. Penghargaan tersebut akan diberikan pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) Kamis, 8 Oktober 2015, di Kampus LIPI Jakarta.
Jakarta, 8 Oktober 2015, LIPI berkomitmen untuk mendorong minat generasi muda pada riset dan sains. Bersama dengan Intel, LIPI bekerjasama untuk memberikan apresiasi kepada peneliti remaja yang berprestasi. “Pemberian penghargaan ini seharusnya menjadi tradisi untuk memotivasi calon-calon ilmuwan muda untuk berprestasi di ajang internasional,” kata Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain.
Iskandar menambahkan, kerjasama melalui pemberian penghargaan ini merupakan salah satu contoh partnership lembaga riset dengan industri untuk mencetak peneliti dan inovator muda handal. Menurutnya riset dan dunia industri adalah dua bidang yang seharusnya memiliki keterikatan yang kuat agar keduanya dapat saling berkontribusi untuk kemajuan bangsa.
Peraih penghargaan tersebut adalah pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan LIPI pada tahun 2014 yaitu Luca Cada Lora (ITB) dan Galih Ramadhan (UGM) serta pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya, I Kadek Sudiarsana (UGM) dan I Dewa Gede A (IPB). Mereka telah memenangkan Intel ISEF 2015 di Pittsburgh Pennsylvania Amerika Serikat 10-15 Mei 2015 lalu masing-masing dalam kategori Material Sciences dan Mathematical Sciences. Sebagai informasi judul penelitian Luca dan Galih adalah Penyaring Logam Berat dengan Menggunakan Materi Abu Vulkanik sedangkan Kadek dan Dewa berhasil mengembangkan Motif Sarung dengan Fraktal Matematika.
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, LIPI bekerjasama dengan dunia industri seperti Intel untuk mencetak generasi muda Indonesia handal agar menjadi ilmuwan yang berkelas dunia. Kerjasama tersebut diwujudkan dengan mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI pada Intel Internasional Science Engineering Fair (ISEF) di Amerika Serikat. “LKIR dan OPSI merupakan dua kompetisi sains di Indonesia yang sudah terafiliasi dengan Intel ISEF dan berstandar internasional,” kata Nur.
Indonesia sejak tahun 2013 telah rutin mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI mengikuti ajang Intel ISEF “Yang membanggakan adalah Indonesia selalu menjadi pemenang pada ajang tersebut. Bayangkan mereka harus bersaing dengan 7500 peserta dari seluruh dunia,” ujar Education Manager Intel Indonesia Corporation, Widyasari Listyowulan.
Lebih lanjut, LIPI juga memberikan penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) kepada peneliti muda berbakat dan berprestasi yang telah memiliki banyak publikasi internasional dan sitasi di Jurnal Internasional (SCOPUS dan Google Scholar Profile). “Pemenang dari LYSA akan mendapatkan hadiah sebesar lima puluh juta rupiah,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Dr. L.T. Handoko selaku Ketua Dewan Juri. Pemenang LYSA adalah Dr. Ratih Pangestuti peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi kelahiran Grobogan, 27 Oktober 1983.
Handoko menambahkan, salah satu kriteria pemenang LYSA adalah yang memiliki paten pada usia muda dan hasil penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat. “Ratih telah terseleksi dari puluhan peneliti muda dari berbagai instansi, intitusi dan universitas di seluruh Indonesia,” ungkapnya. Handoko berharap dengan berbagai apresiasi yang diberikan kepada peneliti muda dapat mendorong mereka untuk meningkatkan temuan ilmiah yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.
Keterangan Lebih Lanjut:
-Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI)
-Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
-Widyasari Listyowulan (Education Manager Intel Indonesia Corporation)
Published in
LIPI (Humas LIPI, 8 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahan Indonesia (LIPI) berkomitmen untuk terus membina masyarakat, khususnya generasi muda di bidang penelitian. Sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada peneliti muda (Young Scientist), LIPI menyelenggarakan LIPI Young Scientist Award (LYSA) 2015. LYSA merupakan penghargaan kepada Young Scientist Indonesia yang berusia >35 tahun, atas prestasi, konsistensi dan manfaat hasil penelitiannya bagi masyarakat luas mau pun bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Dr. Ratih Pangestuti, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI terpilih untuk menerima penghargaan ini.
Jakarta, 8 Oktober 2015. Tahun 2015 merupakan penyelenggaraan pertama LYSA dan akan menjadi agenda tahunan dalam kegiatan LIPI.. “Penghargaan ini diberikan kepada warga negara Indonesia, berusia di bawah 35 tahun dan aktif melakukan penelitian setidak-tidaknya dalam 2 tahun terakhir, serta diusulkan oleh institusi tempat bekerja,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang juga ketua tim juri LYSA, Dr. Laksana Tri Handoko.
Sebagai informasi, Ratih Pangestuti merupakan peneliti muda kelahiran Grobogan, 27 Oktober 1983. Ratih menamatkan pendidikan sarjananya di Universitas Diponegoro, dan magisternya di Universitas Kristen Satya Wacana, dan University of Glasgow, Inggris. Ia merupakan Doktor lulusan Pukyong National University, Korea. Berbagai publikasinya baik nasional maupun internasional telah banyak digunakan sebagai referensi.
Sebagai informasi, publikasi Ratih mendapatkan indeks dari Scopus dan Google Scholar Profile, serta memiliki paten/hak cipta terdaftar. Adapun publikasi dari Scopus tercatat sebanyak 16, Indeks H 8, dan Sitasi 364. Sedangkan dari Google Scholar Profile sebanyak 31, Indeks H 8, dan Sitasi 508. Ratih melakukan penelitian tentang biota laut. Menurutnya, selama ini produk biota laut Indonesia diperjualbelikan masih dalam bentuk raw material, sehingga perlu meningkatkan value added perekonomian masyarakat Indonesia.
Keterangan Lebih Lanjut:
-Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi IPT LIPI)
-Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Published in
LIPI (Humas LIPI, 7 October 2015)
Sebagai momentum bagi ilmuwan Indonesia untuk menyumbangkan buah pikirannya dalam era globalisasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kembali menyelenggarakan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) XI pada Kamis (8/10) hingga Jum’at (9/10) mendatang. Selain itu, untuk menggugah pemahaman masyarakat akan pentingnya peran edukasi, riset, teknologi dan inovasi dalam pembangunan bangsa juga akan diselenggarakan Indonesia Science Expo (ISE). Kedua kegiatan tersebut akan dilakukan di Kampus LIPI Gatot Subroto, Jl. Jendral Gatot Subroto 10, Jakarta Selatan.
Jakarta, 7 Oktober 2015. KIPNAS merupakan forum pertemuan para ilmuwan Indonesia untuk mendiskusikan khasanah kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia, serta peran sertanya dalam membangun peradaban bangsa. “Penyelenggaraan KIPNAS digagas sebagai wadah bertukar pikiran para ilmuwan untuk memecahkan permasalahan bangsa melalui sains”, jelas Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain.
Dengan tema “Signifikansi dan Kontribusi Ilmu Pengetahuan bagi Indonesia Sejahtera”, KIPNAS diharapkan dapat memecahkan isu-isu strategis abad 21 melalui pendekatan ilmu pengetahuan yang integratif, kooperatif dan lintas disiplin. Bersamaan dengan pembukaan KIPNAS pada Kamis (8/10), akan diberikan penghargaan LIPI Young Scientist Award dan Peneliti Remaja Berprestasi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani.
Hadir memberikan sambutan dan arahan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. M. Nasir Ph.D; Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Dr. Rizal Ramli (dalam konfirmasi); Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc,; Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K). Sebagai pembicara kunci President of National Graduate Institute for Policy Studies, Jepang, Prof. Dr. Takashi Shiraishi; Prof. Dr. Atta ur Rahman dari University of Karachi, Pakistan; dan President of the World Federation for Culture Collection, Dr. Philippe Desmeth.
KIPNAS pertama kali diselenggarakan pada tahun 1958 di Malang. Pada waktu penyelenggaraan KIPNAS III (1981) LIPI diberi kepercayaan sebagai penyelenggara. Sesuai dengan dinamika serta kemajuan pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan, mulai KIPNAS -IV sampai dengan KIPNAS X (2011), dalam penyelenggaraannya LIPI bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Iskandar menjelaskan, KIPNAS kali ini akan merumuskan landasan kebijakan pembangunan iptek nasional melalui empat komisi yakni Ilmu Pengetahuan Alam dan Maritim, Ilmu Pengetahuan Tehnik, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, serta Kesehatan dan Obat. “Keempat bidang tadi akan yang bersinergi untuk menghasilkan rumusan yang implementatif sebagai masukan kebijakan pemerintah” terang Iskandar.
Menurut Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Dr. L.T. Handoko, Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan di era globalisasi dan kawasan pasar bebas ASEAN. “KIPNAS juga akan melihat posisi pembangunan iptek Indonesia saat ini dan upaya mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” papar Handoko. Dirinya juga menambahkan keluaran KIPNAS akan bersinergi dengan kebijakan pemerintah khususnya pada program Nawacita.
KIPNAS ini juga akan diisi dengan pemberian penghargaan remaja berprestasi internasional dan LIPI Young Scientist Award. Sedangkan ISE akan menampilkan hasil-hasil riset LIPI, kementerian dan lembaga negara, perguruan tinggi, serta industri yang diisi dengan berbagai kegiatan pendukung. Beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan diantaranya Workshop Indonesia – Jepang: Lesson Learned from Japan pada Kamis (8/10); Bedah Buku Sistem Pembiayaan Nelayan pada Jum’at (9/10); dan Talkshow Peneliti Inspiratif yang menghadirkan Dr. Suharyo Sumowidagdo, peneliti riset Partikel Tuhan yang kini dan aktif di Pusat Penelitian Informatika LIPI, dan Luca Cada Lora, pemenang 4th Place Grand Award The Intel International Science and Engineering Fair di Amerika Serikat, pada Minggu (11/10).
Keterangan Lebih Lanjut:
-Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi IPT LIPI)
-Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional XI pada Kamis, 8 Oktober 2015 di Auditorium LIPI, Jl. Gatot Subroto Kav. 10, Jakarta, pukul 08.30 WIB s.d. selesai.
Published in
LIPI (Humas LIPI, 5 October 2015)
Sekitar 300 orang peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang teknik berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada 5 hingga 7 Oktober 2015. Mereka bertemu dalam gelaran kegiatan bertajuk Science & Technology Festival 2015 yang merupakan ajang pertemuan ilmiah untuk saling bertukar pengalaman dan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik. Dalam ajang Science & Technology Festival yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, digelar berbagai macam kegiatan seperti konferensi internasional, pameran produk riset, pertemuan bisnis, dan sejumlah kunjungan.
Jakarta, 5 Oktober 2015. Science & Technology Festival merupakan kegiatan enam konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara pararel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi yang berbeda-beda. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko mengatakan, bidang-bidang konferensi tersebut meliputi Fisika, Elektronika, Kimia, Telekomunikasi, Radar, Mekatronika dan Teknologi Tepat Guna.
“Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan seminar diselenggarakan oleh masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Dan, sekarang seminar kita gabung dalam satu rangkaian kegiatan yang disebut Science & Technology Festival,” ungkap Handoko.
Adapun keenam konferensi internasional yang dilaksanakan secara bersamaan tersebut adalah The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA 2015); The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry (ISAC 2015); The International Symposium on Frontier of Applied Physics (ISFAP 2015); The International Conference on Appropriate Technology Development (ICATDev 2015); The 2015 International Conference on Computer, Control, Informatics & It’s Applications (IC3INA 2015); dan The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics &Telecommunications (ICRAMET 2015).
Ketua Panitia Science & Technology Festival 2015, Dr. Eng. Nino Rinaldi menambahkan, penyelenggaraan kegiatan Science & Technology Festival sendiri selain dilaksanakan oleh LIPI juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan The Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). “Output yang diharapkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah bertambahnya informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi/kerjasama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain,” kata Nino.
Dia melanjutkan, kegiatan Science & Technology Festival ini baru pertama kali dilakukan pada tahun ini dan direncanakan akan dilakukan setiap tahun. Festival ini akan dibuka oleh Kepala LIPI dan dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara Asia, Australia bahkan Eropa yang sebagian besar merupakan peneliti dan akademisi. Kegiatan ini juga menghadirkan 20 pembicara tamu dari negara luar yang akan membagikan pengalaman dan informasi perkembangan penelitian khususnya di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Para pembicara tersebut seperti Dr. Alan Owen (Inggris), Prof. Nico Voelcker (Australia), Dr. Paolo Guibellino (Swiss), Dr. rer. Nat. Guenther G. Scherer (Singapura), dan Prof. Shogo Shimadzu (Jepang).
Nino menyambung, kegiatan festival ini juga akan melaksanakan penandatangan Nota Kesepahaman antara Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN). Science & Technology Festival 2015 ini termasuk pula dalam rangkaian kegiatan KIPNAS 2015, tutupnya.
Keterangan Lebih Lanjut:
- Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI)
- Dr. Eng. Nino Rinaldi (Ketua Science & Technology Festival 2015/Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A. (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI)
Published in
Bisnis.com (13 October 2015)
Untuk mendorong minat generasi muda pada riset dan sains, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan Intel memberikan apresiasi kepada peneliti remaja yang berprestasi.
Menurut Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain, Penguasaan sains dapat menjadi salah satu tolok ukur kemajuan pembangunan Oleh karena itu, apresiasi tinggi patut diberikan kepada ilmuwan muda dan remaja yang mampu berkomitmen mengembangkan sains dan memiliki temuan penelitian yang berskala internasional.
“Pemberian penghargaan ini seharusnya menjadi tradisi untuk memotivasi calon-calon ilmuwan muda untuk berprestasi di ajang internasional,” kata dalam acara penghargaan Peneliti Remaja Berprestasi Internasional di Auditorium LIPI, Jakarta, Jumat (9/10/2015).
Iskandar menambahkan, kerjasama melalui pemberian penghargaan ini merupakan salah satu contoh partnership lembaga riset dengan industri untuk mencetak peneliti dan inovator muda handal. Menurutnya riset dan dunia industri adalah dua bidang yang seharusnya memiliki keterikatan yang kuat agar keduanya dapat saling berkontribusi untuk kemajuan bangsa.
Peraih penghargaan tersebut adalah pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan LIPI pada tahun 2014 yaitu Luca Cada Lora (ITB) dan Galih Ramadhan (UGM) serta pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya, I Kadek Sudiarsana (UGM) dan I Dewa Gede A (IPB). Mereka telah memenangkan Intel ISEF 2015 di Pittsburgh Pennsylvania Amerika Serikat 10-15 Mei 2015 lalu masing-masing dalam kategori Material Sciences dan Mathematical Sciences. Sebagai informasi judul penelitian Luca dan Galih adalah Penyaring Logam Berat dengan Menggunakan Materi Abu Vulkanik sedangkan Kadek dan Dewa berhasil mengembangkan Motif Sarung dengan Fraktal Matematika.
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, LIPI bekerjasama dengan dunia industri seperti Intel untuk mencetak generasi muda Indonesia handal agar menjadi ilmuwan yang berkelas dunia. Kerjasama tersebut diwujudkan dengan mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI pada Intel Internasional Science Engineering Fair (ISEF) di Amerika Serikat.
“LKIR dan OPSI merupakan dua kompetisi sains di Indonesia yang sudah terafiliasi dengan Intel ISEF dan berstandar internasional,” kata Nur.
Indonesia sejak tahun 2013 telah rutin mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI mengikuti ajang Intel ISEF.
“Yang membanggakan adalah Indonesia selalu menjadi pemenang pada ajang tersebut. Bayangkan mereka harus bersaing dengan 7500 peserta dari seluruh dunia,” ujar Education Manager Intel Indonesia Corporation, Widyasari Listyowulan.
Lebih lanjut, LIPI juga memberikan penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) kepada peneliti muda berbakat dan berprestasi yang telah memiliki banyak publikasi internasional dan sitasi di Jurnal Internasional (SCOPUS dan Google Scholar Profile).
“Pemenang dari LYSA akan mendapatkan hadiah sebesar lima puluh juta rupiah,” terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Handoko selaku Ketua Dewan Juri.
Handoko berharap dengan berbagai apresiasi yang diberikan kepada peneliti muda dapat mendorong mereka untuk meningkatkan temuan ilmiah yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.
Published in
Pikiran Rakyat (Satrio Widianto, 9 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkomitmen untuk terus mendorong minat generasi muda pada riset dan sains. Bersama dengan Intel, LIPI bekerja sama untuk memberikan apresiasi kepada peneliti remaja yang berprestasi.
"Pemberian penghargaan ini seharusnya menjadi tradisi untuk memotivasi calon-calon ilmuwan muda untuk berprestasi di ajang internasional," kata Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain dalam siaran pers yang diterima "PR" Online di Jakarta, Jumat (9/10/2015).
Iskandar menambahkan, kerja sama melalui pemberian penghargaan ini merupakan salah satu contoh partnership lembaga riset dengan industri untuk mencetak peneliti dan inovator muda andal. Menurutnya, riset dan dunia industri adalah dua bidang yang seharusnya memiliki keterikatan yang kuat agar keduanya dapat saling berkontribusi untuk kemajuan bangsa.
Peraih penghargaan tersebut adalah pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan LIPI pada tahun 2014, yaitu Luca Cada Lora (ITB) dan Galih Ramadhan (UGM), serta pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2014 oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya, I Kadek Sudiarsana (UGM) dan I Dewa Gede A (IPB).
Mereka telah memenangkan Intel ISEF 2015 di Pittsburgh Pennsylvania Amerika Serikat pada 10-15 Mei 2015 lalu, masing-masing dalam kategori Material Sciences dan Mathematical Sciences. Sebagai informasi judul penelitian Luca dan Galih adalah Penyaring Logam Berat dengan Menggunakan Materi Abu Vulkanik sedangkan Kadek dan Dewa berhasil mengembangkan Motif Sarung dengan Fraktal Matematika.
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, LIPI bekerja sama dengan dunia industri seperti Intel untuk mencetak generasi muda Indonesia andal agar menjadi ilmuwan yang berkelas dunia.
Kerja sama tersebut diwujudkan dengan mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI pada Intel Internasional Science Engineering Fair (ISEF) di Amerika Serikat. "LKIR dan OPSI merupakan dua kompetisi sains di Indonesia yang sudah terafiliasi dengan Intel ISEF dan berstandar internasional," kata Nur.
Indonesia selama lima tahun terakhir rutin mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI mengikuti ajang Intel ISEF "Yang membanggakan adalah Indonesia selalu menjadi pemenang pada ajang tersebut. Bayangkan mereka harus bersaing dengan 7.500 peserta dari seluruh dunia," ujar Country Manager Intel Indonesia Corporation, Harry K. Nugraha.
Harry menambahkan bahwa Intel berkomitmen untuk terus meningkatkan pendidikan di Indonesia melalui partisipasi aktif dalam program-program pendidikan dan menyediakan akses ke teknologi yang memungkinkan munculnya inovator masa depan, salah satunya adalah dengan mengirimkan pemenang LKIR dan OPSI untuk mengikuti ajang Intel ISEF.
"Intel telah bekerja sama dengan pemerintah, institusi pendidikan dan pihak swasta untuk membantu mendorong adopsi teknologi, mengintegrasikan teknologi ke dalam pendidikan, dan membuat teknologi lebih mudah diakses dan terjangkau untuk seluruh rakyat Indonesia," jelas Harry.
Lebih lanjut, LIPI juga memberikan penghargaan LIPI Young Scientist Awards (LYSA) kepada peneliti muda berbakat dan berprestasi yang telah memiliki banyak publikasi internasional dan sitasi di Jurnal Internasional (SCOPUS dan Google Scholar Profile). "Pemenang dari LYSA akan mendapatkan hadiah sebesar lima puluh juta rupiah," terang Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Dr. L.T. Handoko selaku Ketua Dewan Juri.
Handoko menambahkan, salah satu kriteria pemenang LYSA adalah yang memiliki paten pada usia muda dan hasil penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat. Pemenang LYSA telah terseleksi dari puluhan peneliti muda dari berbagai instansi, intitusi dan universitas di seluruh Indonesia. "Diharapkan dengan berbagai apresiasi yang diberikan kepada peneliti muda dapat mendorong mereka untuk meningkatkan temuan ilmiah yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara," tutup Handoko.
Published in
Antara (6 October 2015)
The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) has urged to develop technology-based creative industries in the country.
"The objective of the meeting held during the Festival of Science and Technology in Bandung for three days (October 5-7, 2015) is to achieve global collaboration. Of the six areas, we need advanced technology," Deputy for Engineering Sciences of LIPI Laksana Tri Handoko affirmed here on Tuesday.
According to Handoko, it is necessary to create technology-based creative industries.
"Culture-based creative economy is not wrong, but its lifetime is short. From now on, we will cooperate with relevant parties to develop technology-based creative industries," he emphasized.
Handoko pointed out that the LIPI has contemplated to cooperate with the Creative Economy Agency (Bekraf) to support the development of science and technology-based creative economy in Indonesia.
"It was too late to develop the manufacturing industry that can produce global products. New creative industries based on science and technology, with high product differentiation, will have the opportunity to be known globally," he remarked.
"It is difficult to compete with the existing global manufacturing companies, if we want to create computers, mobile phones, smart phones, chips, and televisions," he stated.
He pointed that the automotive industry was the only manufacturing sector that still has the opportunity to grow in Indonesia.
However, this situation will change once electric cars are developed, and small business units will be able to independently manufacture electric motors.
According to Handoko, the science and technology-based creative industry has been growing rapidly in the United States and China as the government has supported innovation and creativity.
In comparison, Indonesias creative industry had yet to utilize advanced science and technology.
"Startup companies, with their own unique strengths, could be known globally, and the government should assist them," he affirmed.
The LIPI has begun supporting startup companies that specialize in radars to be used in fishing activities and the food canning technology.(Uu.A063/INE/KR-BSR/F001)
Published in
bisnis.com (8 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) XI sebagai salah satu upaya bagi ilmuwan Indonesia menyumbangkan buah pikirannya.
“Penyelenggaraan KIPNAS digagas sebagai wadah bertukar pikiran para ilmuwan untuk memecahkan permasalahan bangsa melalui sains”, jelas Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain di Auditorium LIPI, Kamis (8/10/2015).
Dengan tema “Signifikansi dan Kontribusi Ilmu Pengetahuan bagi Indonesia Sejahtera”, KIPNAS diharapkan dapat memecahkan isu-isu strategis abad ke-21 melalui pendekatan ilmu pengetahuan yang integratif, kooperatif dan lintas disiplin.
Iskandar menjelaskan, KIPNAS kali ini akan merumuskan landasan kebijakan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional melalui empat komisi yakni Ilmu Pengetahuan Alam dan Maritim, Ilmu Pengetahuan Tehnik, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, serta Kesehatan dan Obat.
“Keempat bidang tadi akan yang bersinergi untuk menghasilkan rumusan yang implementatif sebagai masukan kebijakan pemerintah” tuturnya.
Dikesempatann yang sama, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik L.T. Handoko mengatakan, Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan di era globalisasi dan kawasan pasar bebas Asean.
“KIPNAS juga akan melihat posisi pembangunan iptek Indonesia saat ini dan upaya mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” papar Handoko.
Dirinya menambahkan, keluaran KIPNAS akan bersinergi dengan kebijakan pemerintah khususnya pada program Nawacita.
Published in
Kompas (6 October 2015)
Bisnis start-up dalam bidang sains dan rekayasa perlu dikembangkan. Pengembangan kreativitas sains dan rekayasa yang mampu menghasilkan uang seharusnya juga menjadi perhatian Badan Ekonomi Kreatif.
"Kreativitas tidak bisa hanya berbasis kultur. Kreativitas yang sustain adalah yang berbasis teknologi," kata Laksana Tri Handoko, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Dan juga pasti mampu menggerakkan ekonomi."
Handoko mengungkapkan, kreativitas berbasis teknologi mampu bertahan lama sebab bisa mengatasi masalah riil yang dihadapi masyarakat.
Menurut Handoko, kreativitas berbasis sains dan rekayasa sebenarnya sudah muncul. Misalnya, di Jakarta, muncul perusahaan yang memanfaatkan big data untuk memetakan banjir Jakarta.
Contoh lain yang banyak dikenal adalah layanan Go-Jek yang mampu memecahkan biaya transportasi yang mahal sekaligus bisa mengatasi kemacetan.
LIPI kini mendorong berdirinya perusahaan start-up yang punya muatan teknologi lebih banyak, bukan sekedar memanfaatkan teknologi informasi untuk kebutuhan konvensional.
"Konsep pengembangannya adalah jual beli lisensi," ungkap Handoko saat ditemui dalam Science and Technology Festival di Bandung, Senin (5/10/2015).
LIPI misalnya telah mengembangkan radar seharga 2-3 juta. Radar ini bisa berfungsi membantu nelayan dalam navigasi di laut mencari ikan. Selain itu LIPI juga mengembangkan telemetri untuk akuisisi dan pengiriman data.
Hasil-hasil rekayasa itulah yang nantinya ditawarkan ke perusahaan start-up teknologi yang berminat memproduksi. LIPI bertanggung jawab melakukan pemantauan pada produksi awal hingga perusahaan mampu menghasilkan produk sesuai target.
Handoko mengatakan, pihaknya juga berniat menjalin kerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif. Harapannya, lembaga baru itu bisa lebih concern pada industri kreatif bidang sains dan rekayasa.
Big Data
Selain mendorong berkembangnya start-up bidang sains dan rekayasa, LIPI kini juga terus meningkatkan kapasitas dalam pengolahan big data.
Senin kemarin, LIPI menandatangi kontrak kerjasama dengan Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) dengan commitment fee sebesar Rp 100 juta.
Handoko menuturkan, dengan kerjasama itu, Indonesia bisa mendapatkan akses pada data besar yang dimiliki CERN serta mengembangkan kemampuan penelitinya dalam pengolahan data besar.
"Targetnya kita bisa mampu kembangkan infrastruktur dan tools yang mendukung big data," ujar Handoko.
Saat ini, di Cibinong Science Center telah terdapat fasilitas kluster komputer yang memungkinkan untuk pengolahan data besar.
Infrastruktur pendukung big data itu sudah terkoneksi ke global grid. Kapasitas targetnya adalah 16 full rack sementara saat ini baru 8 full rack.
"Fasilitas ini terbuka bagi seluruh komunitas ilmiah se-Indonesia. Banyak data sudah terbuka walaupun ada data-data hasil penelitian yang masih kita lindungi untuk kepentingan ilmiah," jelas Handoko.
Tentang data besar yang dimiliki LIPI, selain data dari internasional sudah ada juga data tren cuaca dan iklim, data genom, serta data-data hasil penelitian serta survei dari ilmuwan Indonesia.
Fasilitas ini juga terbuka bagi start-up yang ingin bergerak di bidang teknologi dan data, seperti menghasilkan aplikasi-aplikasi pengolahan data.
Published in
Kompas (Yunanto Wiji Utomo, 6 October 2015)
Masa depan Go-Jek mungkin akan suram. Layanan utamanya, ojek, mungkin tak akan bertahan lama. Masa depannya juga akan bergantung pada pesaingnya, seperti Grab Bike dan Blu-Jek.
Hal itu dikemukakan oleh Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko, yang ditemui Kompas.com dalam acara bertajuk "Science and Technology Festival" di Bandung, Senin (5/10/2015).
"Go-Jek, kalau mengandalkan user acquisition-nya, tidak mungkin sustain. Sebab, hal itu diperoleh dengan cara buang-buang uang," kata Handoko.
Menurut dia, dengan tarif promo yang kini Rp 15.000 di luar jam sibuk, Go-Jek mengeluarkan dana miliaran untuk mempertahankan pemakai. Hal itu tidak sehat.
Handoko yang juga peneliti fisika teori dan pemerhati teknologi informasi mengatakan, usaha Go-Jek yang justru akan bertahan adalah Go-Food. Menurut dia, Go-Food menjadi model bisnis baru dalam antar jemput sekaligus pemasaran makanan. Jumlahnya yang sedikit dan kecepatan antar menjadi keunggulan.
"Dengan Go-Food, orang bisa masak di rumah untuk dijual. Tinggal daftarkan ke Go-Food. Semua orang, ibu-ibu, bapak-bapak, di rumah bisa jualan," kata Handoko.
Saat ini Go-Food telah menyediakan banyak jenis makanan. Makanan itu tidak hanya yang dipasarkan di restoran mewah, tetapi juga makanan yang biasa dijual di kedai kecil atau malah di pinggir jalan.
"Go-Food akan menjadi ancaman buat rumah makan yang high cost. Ancaman luar biasa. Orang tidak akan ke restoran kalau tidak ada tujuan kongko-kongko-nya," jelas Handoko.
Handoko menuturkan, sifat Go-Food yang membuat mampu bertahan adalah dibutuhkan oleh dua pihak, yaitu konsumen dan produsen. "Kalau ojeknya kan hanya satu pihak," katanya.
Hal yang bisa menyelamatkan layanan Go-Jek mungkin adalah Grab Bike. "Kalau Grab Bike mati cepat, Go-Jek akan survive," kata Handoko.
Namun, bagi konsumen, jangan berharap banyak. Kalau Go-Jek bisa bertahan dan menjadi satu-satunya layanan, jangan harap tarifnya Rp 15.000 lagi. Siap-siap naik angkot lagi atau menjadi boros setiap kali naik ojek.
Published in
Bisnis.com (6 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengarahkan pemanfaatan teknologi sebagai dasar untuk menciptakan peluang ekonomi kreatif baru yang lebih berkelanjutan.
"Dari pertemuan dalam Festival Sains dan Teknologi yang diadakan di Bandung selama tiga hari (5--7 Oktober 2015) yang ingin dicapai sebenarnya kolaborasi global, tidak peduli bidangnya apa. Tapi dari enam bidang yang dibahas, teknologi tepat guna memang paling dibutuhkan, jika disesuaikan dengan kebutuhan kekinian," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko, Selasa (6/10/2015).
Sekarang ini, menurutnya, yang ingin lebih didorong LIPI adalah penciptaan ekonomi kreatif berbasis teknologi, karena selama ini lebih banyak berbasis kultur.
"Itu tidak salah, tapi 'lifetime'nya pendek. Makanya sekarang kita ingin bekerja sama mulai menciptakan industri kreatif berbasis iptek, dengan dasarnya teknik, itu jadi paling nyata," ujar Handoko.
Kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), menurut dia, menjadi pertimbangan yang akan dilakukan LIPI untuk mendukung berkembangnya ekonomi kreatif berbasis IPTEK di Indonesia.
Indonesia, lanjutnya, terlambat jika ingin mengembangkan manufaktur yang mampu menghasilkan produk global. Industri kreatif baru berbasis IPTEK dengan diferensiasi produk yang tinggi justru memiliki peluang untuk dikenal secara global.
"Mau bikin manufaktur apalagi? komputer, telepon genggam, telepon pintar, chip, televisi semua sudah ada dan akan sangat sulit bersaing dengan manufaktur global yang sudah ada," ujar dia.
Satu-satunya manufaktur yang masih memiliki peluang berkembang di Indonesia, menurutnya, adalah otomotif mengingat untuk memproduksi block mesin belum bisa juga dilakukan secara mandiri. Kondisi ini pun akan berubah ketika mobil listrik sudah berkembang dan unit usaha kecil sudah mampu membuat motor listrik secara mandiri.
Industri kreatif berbasis iptek, menurut dia, sangat berkembang pesat di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Kondisi ini terjadi karena dukungan penuh dari pemerintah yang memberikan kemudahan dalam berinovasi dan berkreasi.
Sedangkan di Indonesia, ia mengatakan industri-industri kreatif yang memanfaatkan teknologi masih sedikit dikembangkan.
"Start up-start up dengan kekhasan tersendiri bisa saja mendunia, dan ini yang harus dibantu untuk dikembangkan. LIPI mulai membina beberapa startup seperti radar untuk nelayan, teknologi pengalengan makanan yang tidak homogen juga dimanfaatkan untuk memulai bisnis 'food truck'," ujar dia.
Published in
beritasatu.com (6 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terlibat dalam kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan ilmuwan internasional dalam bidang fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, mekatronika dan teknologi tepat guna.
Dalam science and technology festival 2015 di Bandung, Senin (5/10) sekitar 300 peneliti dalam dan luar negeri asal Asia, Australia dan Eropa terlibat aktif dalam pertukaran iptek tersebut.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan science and technology festival merupakan enam konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara paralel dengan bidang kompetensi yang beragam.
Bidang-bidang konferensi tersebut meliputi bidang fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, mekatronika dan teknologi tepat guna.
"Semua bidang ini penting untuk peneliti dan semua ada kolaborasi globalnya. Science tidak akan bisa dilakukan sendirian," katanya di sela-sela science and technology festival, di Bandung, Senin (5/10).
Dalam kesempatan tersebut LIPI juga melakukan penandatangan nota kesepahaman antara Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN). Selain itu kegiatan festival ini juga merupakan rangkaian Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional 2015.
Terkait kerja sama menurut Handoko CERN memiliki kompetensi global dan perintis teknologi dasar. Sifat penelitiannya bersifat terbuka dan tidak untuk kepentingan militer dan politik.
"Kerja sama ini atau usia eksperimen ini 10-50 tahun untuk meneliti fisika energi tinggi yakni partikel paling elementer," katanya.
Ketua Panitia science and technology festival Nino Rinaldi mengungkapkan keluaran (output) yang diharapkan dari kegiatan ini adalah bertambahnya informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi/kerja sama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain.
"Science and technology festival baru pertama kali ini dilakukan pada tahun ini dan akan direncanakan digelar setiap tahun," ujarnya. [R-15/L-8]
Published in
Suara Pembaruan (Ari Supriyanti Rikin, 6 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terlibat dalam kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan ilmuwan internasional di sejumah bidang dalam "Science and Technology Festival 2015" yang digelar di Bandung, Senin (5/10). Ajang itu dihadiri sekitar 300 peneliti dalam dan luar negeri asal Asia, Australia dan Eropa.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan ajang ini merupakan konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara paralel dengan bidang kompetensi yang beragam. Bidang-bidang konferensi tersebut meliputi fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, mekatronika dan teknologi tepat guna.
"Semua bidang ini penting untuk peneliti dan semua ada kolaborasi globalnya. Science tidak akan bisa dilakukan sendirian," katanya di sela-sela "Science and Technology Festival" di Bandung, Senin (5/10).
Dalam kesempatan tersebut, LIPI juga melakukan penandatangan nota kesepahaman antara Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN). Selain itu, kegiatan festival ini juga merupakan rangkaian Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional 2015.
Terkait kerja sama Handoko menyatakan, CERN memiliki kompetensi global dan perintis teknologi dasar. Sifat penelitiannya terbuka dan tidak untuk kepentingan militer dan politik. "Kerja sama ini atau usia eksperimen ini berlangsung selama 10-50 tahun untuk meneliti fisika energi tinggi yakni partikel paling elementer," katanya.
Ketua Panitia Science and Technology Festival Nino Rinaldi mengungkapkan keluaran (output) yang diharapkan dari kegiatan ini adalah bertambahnya informasi seputar perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi/kerja sama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain. "Ajang ini baru pertama kali ini dilakukan pada tahun ini dan rencananya digelar setiap tahun," ujarnya.
Published in
Kompas (5 October 2015)
Lebih kurang 300 peneliti, praktisi, dan akademisi bidang teknik bertukar informasi dan pengalaman tentang ilmu pengetahuan teknik, Senin (5/10), di Bandung, Jawa Barat. Peserta datang antara lain dari Asia, Australia, dan Eropa serta menghadirkan 20 pembicara tamu dari luar negeri.
Kegiatan tersebut bertajuk "Science and Technology Festival 2015". Acara ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
"Harapannya, kegiatan ini menambah informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini dan menciptakan kerja sama riset dengan peneliti atau akademisi negara lain," ucap Ketua Panitia Nino Rinaldi.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, konferensi dalam "Science and Technology Festival 2015" meliputi bidang fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, radar, mekatronika, dan teknologi tepat guna. "Tahun-tahun sebelumnya, seminar diadakan masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Sekarang kita gabung dalam satu rangkaian kegiatan," ujar Laksana.
Sebanyak enam konferensi internasional berlangsung serentak dalam acara selama 5-7 Oktober ini, yaitu "The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application", "The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry", "The International Symposium on Frontier of Applied Physics", "The International Conference on Appropriate Technology Development", "The 2015 International Conference on Computer", "Control, Informatics and It's Applications"; dan "The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics and Telecommunications".
Pembicara tamu dari negara lain di antaranya Alan Owen dari Inggris, Prof Nico Voelcker dari Australia, Paolo Guibellino dari Swiss, dan Prof Shogo Shimadzu dari Jepang. Menurut Nino, "Science and Technology Festival 2015" direncanakan terselenggara setiap tahun.
Ia menambahkan, dalam kegiatan ini Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI juga menandatangani nota kesepahaman bersama dengan European Council for Nuclear Research (CERN).
Published in
Republika (5 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong pengembangan teknologi untuk startup atau perusahaan rintisan skala kecil. Hal itu, merupakan bagian dari mendorong ekonomi kreatif yang memiliki usia lebih panjang.
Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko, peluang startup company di bidang ekonomi kreatif cukup besar untuk menembus pasar global. Oleh karena itu, LIPI terus membantu para pelaku startup untuk mengembangkan teknologinya.
"Kami melihat di ekonomi kreatif ini banyak bidang yang dapat bertahan cukup panjang," ujar Handoko kepada wartawan, Senin (5/10).
Ketahanan mereka, kata dia, akan semakin berdaya bila dibantu dari sisi teknologinya. "Di situlah peran kami," katanya.
Setelah teknologinya diciptakan, kata dia, kerja sama antara LIPI dengan start up company hanya di tataran lisensi pemanfaatan teknologinya. Saat ini LIPI tengah membantu pembuatan radar seharga Rp 2-3 juta. Radar itu ukurannya cukup kecil dan nantinya akan digunakan oleh nelayan.
Jadi, kata dia, Kementrian Kelautan dan Perikanan dapat memantau keberadaan nelayan ilegal dari radar itu. Selain itu, kondisi nelayan selama di laut akan terpantau.
Handoko mengatakan, untuk membantu startup, LIPI membuka infrastruktur risetnya untuk diakses oleh semua orang. Peran LIPI sebagai penyedia infrastruktur dapat membantu mereka mengembangkan usahanya. Saat ini, kapasitas computing LIPI dapat mencapai 20 rak penuh. Tapi yang kini dipergunakan baru mencapai 8 rak atau setara dengan 60 terabita (TB).
Selain itu, kata dia, intuk keterampilan riset peneliti LIPI telah bekerja sama dengan sejumlah negara seperti Belanda, Taiwan, dan negara-negara Eropa lainnya. Handoko menyebutkan LIPI sebagai lembaga sains utama harus masuk ke dalam pergaulan global. Karena, kalau tidak mengikuti maka kita akan ketinggalan. "Para peneliti kita pun dapat belajar banyak dan mengembangkan kemampuannya," kata Handoko.
Kesepakatan kolaborasi global terbaru yang ditandatangani adalah European Council for Nuclear Research (CERN). LIPI berkontribusi sebesar Rp 100 juta dan mengirimkan 6-8 orang untuk meneliti selama 3 bulan. Hal itu memungkinkan peneliti di LIPI memperoleh akses teknologi terkini.
Riset yang dikerjasamakan berkaitan dengan bigdata, sensor, dan fisika. Ketiga bidang itu, membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan cepat. Karena ilmu di bidang tersebut berkembang dengan pesat. Jadi, diperlukan kemampuan untuk membangun infrastruktur dan mengembangkan perangkatnya.
Published in
Republika (5 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat ini mulai mengarahkan penggunaan teknologi tepat guna untuk mendukung ekonomi kreatif. Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko, pihaknya saat ini sedang mengarahkan engineering ke ekonomi kreatif.
"Tapi mind set kita ekonomi kreatif itu masih di culture, berbasis kuliner, seni, dan budaya. Padahal itu, life timenya pendek," ujar Handoko kepada wartawan, di acara Science and Technology Festival 2015, Senin (5/10).
Handoko mengatakan, untuk merealisasikan penggunaan teknologi di industri kreatif tersebut, LIPI bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif. Yakni, ekonomi kreatif berbasis teknik.
Bentuk kerja samanya, kata dia, bagaimana meningkatkan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan masif dengan berbasis teknologi. Kalau hanya mengandalkan potensi yang lain, masanya akan pendek. Handoko mencontohkan, saat ini LIPI sedang mengembangkan radar mini yang harganya bisa Rp 2 juta sampai 3 juta-an. Radar mini ini, bisa digunakan untuk nelayan agar lebih mudah saat melaut.
"Ya, LIPI yang mengembangkan, tapi nanti kami jual beli lisensi dengan swasta, mereka yang menjual," katanya.
Penelitian lainnya, kata dia, mengembangkan produk untuk telemetri akuisisi data dan pengiriman data, bekerja sama dengan BMKG. Alat tersebut, disimpan di stasiun cuaca dimana-mana. Handoko menilai, masa membangun manufacture saat ini sudah lewat. Sekarang, memang sudah seharusnya membuat start up ekonomi kreatif. Jadi, kalau membuat hand phone semua di yang memproduksi Cina. Indonesia, harus kreatif mengembangkan teknologinya.
Pembangunan ekonomi kreatif yang di dukung teknologi, kata dia, sudah menjadi keharusan dan tak bisa ditawar lagi. Karena, dengan start up ini kita bisa menciptakan produk baru. Bahkan, bisa jadi lebih murah dibandingkan yang sudah ada. Handoko mengakui, pemahaman bahwa ekonomi kreatif ada dalam ilmu science ini belum disadari bahkan oleh Kemenkeraf sendiri. Oleh karena itu, hampir semua industri kreatif berbasis culture.
Saat ini, kata dia, negara yang ekonomi kreatifnya sudah bagus di antaranya Amerika dan Cina. Karena, mereka telah memanfaatkan science untuk industri kreatifnya. Handoko mengatakan, LIPI sebagai provider infrastruktur penelitian telah menyiapkan infrastruktur untuk seluruh Indonesia. Yakni, dengan membangun layanan infrastruktur untuk penelitian. Nantinya, semua data dari mana-mana akan masuk ke LIPI.
Published in
Republika (5 October 2015)
Sekitar 300 orang peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang teknik berkumpul di Bandung, Jawa Barat pada 5 hingga 7 Oktober 2015.
Mereka, bertemu dalam kegiatan Science dan Technology Festival 2015. Yakni, sebuah ajang pertemuan ilmiah untuk saling bertukar pengalaman dan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik.
Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko, dalam ajang Science and Technology Festival tersebut, digelar berbagai macam kegiatan.
Seperti, konferensi internasional, pameran produk riset, pertemuan bisnis, dan sejumlah kunjungan.
Science and Technology Festival, kata dia, merupakan kegiatan enam konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara pararel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi yang berbeda-beda. Yakni, Fisika, Elektronika, Kimia, Telekomunikasi, Radar, Mekatronika dan Teknologi Tepat Guna.
Tahun sebelumnya, kegiatan seminar diselenggarakan oleh masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. "Sekarang, seminar kami gabung dalam satu rangkaian kegiatan yang disebut Science & Technology Festival,” kata Handoko.
Menurut Handoko, keenam konferensi internasional yang dilaksanakan secara bersamaan tersebut adalah, The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA 2015), The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry (ISAC 2015), The International Symposium on Frontier of Applied Physics (ISFAP 2015), The International Conference on Appropriate Technology Development (ICATDev 2015), The 2015 International Conference on Computer, Control, Informatics & It’s Applications (IC3INA 2015); dan The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics &Telecommunications (ICRAMET 2015).
Sementara menurut Ketua Panitia Science and Technology Festival 2015, Dr Eng Nino Rinaldi, penyelenggaraan kegiatan Science & Technology Festival sendiri selain dilaksanakan oleh LIPI juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan The Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE).
Output yang diharapkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah, bertambahnya informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi/kerjasama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain.
Menurut Nino, kegiatan Science and Technology Festival ini baru pertama kali dilakukan pada tahun ini. Nantinya rencananya, akan dilakukan setiap tahun.
Festival ini akan dibuka oleh Kepala LIPI dan dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara Asia, Australia bahkan Eropa yang sebagian besar merupakan peneliti dan akademisi.
Published in
Harian Terbit (5 October 2015)
Sekitar 300 peneliti, akademisi, praktisi Indonesia, Australia, Asia, dan Eropa bertemu dalam Festival Sains dan Teknologi (Science and Technology Festival) 2015 yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Bandung, Jawa Barat.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko, di Bandung, Senin (5/10), mengatakan Science and Technology Festival merupakan kegiatan enam konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara pararel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi yang berbeda-beda.
Bidang-bidang konferensi tersebut meliputi Fisika, Elektronika, Kimia, Telekomunikasi, Radar, Mekatronika dan Teknologi Tepat Guna.
"Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan seminar diselenggarakan oleh masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Dan, sekarang seminar kita gabung dalam satu rangkaian kegiatan yang disebut Science and Technology Festival," katanya.
Adapun keenam konferensi internasional yang dilaksanakan secara bersamaan tersebut adalah The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA 2015), The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry (ISAC 2015) dan The International Symposium on Frontier of Applied Physics (ISFAP 2015).
Selanjutnya, The International Conference on Appropriate Technology Development (ICATDev 2015), The 2015 International Conference on Computer, Control, Informatics & Its Applications (IC3INA 2015), dan The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics & Telecommunications (ICRAMET 2015).
Ketua Panitia Science and Technology Festival 2015 Nino Rinaldi mengatakan output penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan bertambahnya informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi atau kerja sama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain.
Festival Sains dan Teknologi yang baru pertama kali dilakukan ini, menurut dia, akan menjadi agenda rutin para peneliti, akademisi, dan praktisi bertemu untuk saling bertukar pengalaman dan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik.
Khusus pada festival kali ini, ia mengatakan selain dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara Asia, Australia bahkan Eropa yang sebagian besar merupakan peneliti dan akademisi, juga menghadirkan 20 pembicara tamu dari negara luar yang membagikan pengalaman dan informasi perkembangan penelitian khususnya di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.
Para pembicara tersebut antara lain Alan Owen dari Inggris, Nico Voelcker dari Australia, Paolo Guibellino dari Swiss, Guenther G Scherer dari Singapura, dan Shogo Shimadzu dari Jepang.
Dalam festival yang dimulai dari 5 hingga 7 Oktober 2015, di Bandung, dan menjadi bagian dari Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) 2015 ini, juga dilaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN).
Published in
Beritasatu.com (7 October 2015)
Sekitar 300 peneliti dunia, antara lain akademisi, praktisi Indonesia, Australia, Asia, dan Eropa bertemu dalam Festival Sains dan Teknologi (Science and Technology Festival) 2015, yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Bandung, Jawa Barat (Jabar).
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko, mengatakan, Science and Technology Festival ini merupakan kegiatan enam konferensi internasional bidang ilmu pengetahuan teknik, yang dilakukan secara pararel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi yang berbeda-beda.
Bidang-bidang konferensi tersebut meliputi Fisika, Elektronika, Kimia, Telekomunikasi, Radar, Mekatronika, dan Teknologi Tepat Guna.
"Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan seminar diselenggarakan oleh masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. Sekarang, seminar kita gabung dalam satu rangkaian kegiatan yang disebut Science and Technology Festival," katanya, Bandung, Senin (5/10).
Adapun keenam konferensi internasional yang dilaksanakan secara bersamaan tersebut adalah The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA 2015), The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry (ISAC 2015) dan The International Symposium on Frontier of Applied Physics (ISFAP 2015).
Selanjutnya, The International Conference on Appropriate Technology Development (ICATDev 2015), The 2015 International Conference on Computer, Control, Informatics & It's Applications (IC3INA 2015), dan The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics & Telecommunications (ICRAMET 2015).
Ketua Panitia Science and Technology Festival 2015, Nino Rinaldi, mengatakan, informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik terkini, terciptanya kolaborasi atau kerja sama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain diharapkan makin bertambah, dengan adanya kegiatan ini.
Festival Sains dan Teknologi yang baru pertama kali dilakukan ini, menurutnya, akan menjadi agenda rutin para peneliti, akademisi, dan praktisi bertemu untuk saling bertukar pengalaman dan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan teknik.
Khusus pada festival kali ini, selain dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara Asia, Australia, bahkan Eropa, yang sebagian besar merupakan peneliti dan akademisi, juga menghadirkan 20 pembicara tamu dari negara luar yang membagikan pengalaman dan informasi perkembangan penelitian, khususnya di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.
Para pembicara tersebut antara lain Alan Owen dari Inggris, Nico Voelcker dari Australia, Paolo Guibellino dari Swiss, Guenther G Scherer dari Singapura, dan Shogo Shimadzu dari Jepang.
Dalam festival yang berlangsung 5 - 7 Oktober 2015, di Bandung, dan menjadi bagian dari Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) 2015 ini, juga dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman antara Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN).
Published in
Koran Jakarta (7 October 2015)7
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkomitmen mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi dengan riset-riset terkait teknologi tepat guna.
Demikian di katakan kepala deputi bidang ilmu pengetahuan teknik LIPI, Laksana Tri Handoko di sela-sela acara Science and Techonology Festival di Bandung, Jawa Barat (5/10).
Menurut dia, perkembangan industri kreatif saat itu perlu diarahkan pada pengembangan ekonomi kreatifberbasis teknologi yang dinilai memiliki kemampuan bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama dan mampu menciptakan peluang lapangan ekonomi baru. "Ekonomi kreatif berbasis teknologi akan mampu menciptakan peluang lapangan ekonomi baru," kata Tri Handoko.
Selama ini, lanjut dia, pengembangan ekonomi kreatif lebih bayak pada sektor-sektor seperti kuliner, dan seni yang dinilai memiliki bayak hambatan dalam pengembangan jangka panjang. "Ekonomi kreatif berbasis teknologi memiliki life time yang lebih panjang, " tambahnya.
Sejumlah negara maju, lanjut Tri Handoko dinilai sukses mengembangkan ekonomi, kreatif berbasis teknologi. Di antaranya Amerika dan Tionghoa. Di Indonesia sendiri, potensi untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis teknologi sangat besar. Terlebih saat ini, dengan banyaknya start up yang memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan.
LIPI sendiri, mulai membangun kemitraan dengan badanekonomi kreatif. Rencananya mulai tahun depan, kerja sama tersebut mulai dilakukan. Dimana LIPI menjadi bagian dari penyedia sistem teknologi yang diperlukan dalam pengembangan kegiatan ekonomi kreatif berbasis teknologi.
Sementara itu, dalam acara science and techology festival 2015 yang berlangsung mulai Senin (5/10) hingga Rabu (7/10) diikuti Iebih dari 300 peneliti, akademisi dan praktisi dari dalam maupun dari luar negeri. Ada enam bidang yang dibahas dan menjadi fokus dalam konfrensi tersebut yakni fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, radar, mekatronika dan teknologi tepat guna.
Ketua panitia science and technology festival 2015, Nino Rinaldi mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menambah informasi terkait perkembangan ilmu pengetahuan teknik kekinian serta menciptakan kolaborasi atau kerjasama riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lainnnya. "Output kami adalah adanya kolaborasi yang bersifat global," katanya. nlk/E-3
Published in
Warta Kota (7 October 2015)
Masa depan Go-Jek mungkin akan suram. Layanan utamanya, ojek, mungkin tak akan bertahan lama. Masa depannya akan bergantung pada pesaingnya, seperti GrabBike dan Blu-Jek.
"Go-Jek kalau mengandalkan user acquisition-nya, tidak mungkin sustain. Sebab, hal itu diperoleh dengan cara buang-buang uang." kata Laksana Tri Handoko. Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), seperti dilansir Kompas, com.
Menurut Handoko, dengan tarif promo yang kini Rp 15.000 di luar jam sibuk. Go-Jek mengeluarkan dana miliaran untuk mempertahankan pemakai. Hal itu tidak sehat.
Handoko yang juga peneliti fisika teori dan pemerhati teknologi informasi mengatakan, usaha Go-Jek yang justru akan bertahan adalah Go-Food. Go-Food menjadi model bisnis baru dalam antar jemput sekaligus pemasaran makanan. Jumlahnya yang sedikit dan kecepatan antar menjadi keunggulan.
Saat ini Go-Food telah menyediakan banyak jenis makanan. Makanan itu tidak hanya yang dipasarkan di restoran mewah, tetapi juga makanan yang biasa dijual di kedai kecil atau di pinggir jalan.
"Go-Food akan menjadi ancaman buat rumah makan yang high cost. Ancaman luar biasa. Orang tidak akan ke restoran kalau tidak ada tujuan kongko-kongko-nya." kata Handoko.
Handoko mengatakan, sifat Go-Food yang membuat mampu bertahan adalah dibutuhkan oleh dua pihak, yaitu konsumen dan produsen. "Kalau ojeknya hanya satu pihak." katanya.
Hal yang bisa menyelamatkan layanan Go-Jek mungkin adalah GrabBike. "Kalau GrabBike mati cepat. Go-Jek akan survive." kata Handoko, (ang)
Published in
Suara Karya (7 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengarahkan pemanfaatan teknologi untuk menciptakan peluang ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan. Hal itu terlihat dalam perhelatan Festival Sains dan Teknologi yang akan digelar di Bandung pada 5-7 Oktober 2015.
"Melalui festival sains dan teknologi, kami ingin penciptaan ekonomi kreatif berbasis teknologi, mengingat selama ini lebih banyak berbasis kultur," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko di Jakarta, Selasa (6/10).
Ia menambahkan, pengembangan bisnis berbasis kultur tidaklah salah. Namun, usianya lebih pendek. Karena penggunaan teknologi membuat industri kreatif bisa lebih bertahan lama.
Untuk itu, kami bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), guna mendukung berkembangnya ekonomi kreatif berbasis iptek di Indonesia," ujarnya.
Indonesia, lanjut Laksamana Tri Handoko, terlambat jika ingin mengembangkan manufaktur yang mampu menghasilkan produk global. Industri kreatif baru berbasis iptek dengan diferensiasi produk yang tinggi, sehingga memiliki peluang untuk dikenal secara global.
"Mau bikin manufaktur apalagi, karena komputer, telepon genggam, telepon pintar, chip, televisi semua sudah ada. Kita akan kalah bersaing dengan manufaktur global yang sudah berkembang lama," katanya.
Menurut Laksamana Tri Handoko, satu-satunya manufaktur yang masih memiliki peluang berkembang di Indonesia adalah industri otomotif. Mengingat memproduksi block mesin belum bisa dilakukan secara mandiri.
"Kondisi itu pun akan berubah saat mobil listrik sudah berkembang dan unit usaha kecil mampu membuat motor listrik secara mandiri," ujarnya.
Industri kreatif berbasis iptek, menurut Laksamana Tri Handoko, sangat berkembang pesat di Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok karena dapat dukungan penuh dari pemerintah yang memberi kemudahan dalam berinovasi dan berkreasi.
"Sementara di Indonesia, industri kreatif yang memanfaatkan teknologi masih sedikit dikembangkan," ucapnya.
Ditambahkan, startup dengan kekhasan tersendiri bisa saja mendunia. Namun, harus dibantu untuk dikembangkan.
"LIPI mulai membina beberapa startup seperti radar untuk nelayan, teknologi pengalengan makanan yang tidak homogen juga dimanfaatkan untuk memulai bisnis food truck atau jualan pangan dengan menggunakan mobil," katanya menandaskan. (tri)
Published in
LIPI (6 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama tiga hari mulai Senin (5/10) hingga Rabu (7/10) menggelar enam konferensi internasional dalam gelaran acara bertajuk Science & Technology Festival 2015 di Hotel Aston Tropicana, Bandung, Jawa Barat.
Keenam konferensi internasional yang dilaksanakan secara bersamaan tersebut adalah The 3rd International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application (ICSEEA 2015); The 3rd International Conference of Innovative Science and Applied Chemistry (ISAC 2015); The International Symposium on Frontier of Applied Physics (ISFAP 2015); The International Conference on Appropriate Technology Development (ICATDev 2015); The 2015 International Conference on Computer, Control, Informatics & It’s Applications (IC3INA 2015); dan The 2015 International Conference on Radar, Antenna, Microwave, Electronics &Telecommunications (ICRAMET 2015).
Penyelenggaraan keenam konferensi tersebut dilakukan secara pararel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi yang berbeda-beda. “Bidang-bidangnya meliputi Fisika, Elektronika, Kimia, Telekomunikasi, Radar, Mekatronika dan Teknologi Tepat Guna,” ungkap Dr. Laksana Tri Handoko kepada media di sela-sela acara Science & Technology Festival, Senin (5/10).
Dikatakannya, pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan konferensi diselenggarakan oleh masing-masing satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik. “Dan, sekarang semuanya kita gabung dalam satu rangkaian,” sambungya.
Handoko berharap kegiatan konferensi kali ini mampu memberikan pencerahan bagi perkembangan iptek di Indonesia. Konferensi ini dihadiri lebih dari 300 peneliti dan akademisi dari berbagai negara Asia, Australia bahkan Eropa. Kegiatan ini juga menghadirkan 20 pembicara tamu dari negara luar yang akan membagikan pengalaman dan informasi perkembangan penelitian khususnya di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik.
Ketua Panitia Science & Technology Festival 2015, Dr. Eng. Nino Rinaldi menambahkan, penyelenggaraan kegiatan Science & Technology Festival sendiri selain dilaksanakan oleh LIPI juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Nino menyambung, kegiatan festival ini juga disertai penandatangan Nota Kesepahaman antara Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI dengan European Council for Nuclear Research (CERN). Science & Technology Festival 2015 ini termasuk dalam rangkaian kegiatan KIPNAS 2015, pungkasnya. (pwd/ed: isr)
Published in
Pikiran Rakyat (Dewiyatini, 6 October 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong penciptaan teknologi untuk start up company (usaha rintisan) skala kecil. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari mendorong ekonomi kreatif yang memiliki umur hidup lebih panjang.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko menyebutkan, peluang start up company di bidang ekonomi kreatif cukup besar untuk menembus pasar global. Oleh karena itu, pihaknya terus membantu para pelaku start up company untuk mengembangkan teknologinya.
"Kami melihat di ekonomi kreatif ini banak bidang yang dapat bertahan cukup panjang. Ketahanannya akan semakin berdaya bila dibantu dari sisi teknologinya. Di situlah peran kami," kata Handoko seusai pembukaan Science Technology Festival 2015 di Hotel Aston Tropicana, Senin (5/10/2015).
Setelah teknologinya diciptakan, kenasama antara LIPI dan start up company hanya di tataran lisensi pemanfaatan teknologinya. LIPI tengah membantu pembuatan radar seharga Rp 2 juta-Rp 3 juta. Radar itu ukurannya cukup kecil dan nantinya akan digunakan oleh nelayan.
"Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat memantau keberadaan nelayan ilegal dari adanya radar itu. Kondisi nelayan selama di laut akan terpantau," ujarnya.
Handoko mengatakan, untuk membantu start up company itu LIPI membuka infrastruktur risetnya untuk diakses oleh semua orang. Saat ini, kapasitas computing LIPI dapat mencapai 20 full rack, tetapi yang kini dipergunakan baru mencapai 8 full rack atau setara dengan 60 terabyte(TB).
Selain itu, untuk keterampilan riset, peneliti LIPI telah bekerja sama dengan Belanda, Taiwan, dan negara-negara Eropa. Menurut dia, LIPI sebagai lembaga sains utama harus masuk ke dalam pergaulan global. "Kalau kita tidak mengikuti akan ketinggalan. Peneliti kita pun dapat belajar banyak dan mengembangkan kemampuannya," tuturnya.
Kesepakatan kolaborasi global terbaru yang ditandatangani adalah European Council for Nuclear Research (CERN). LIPI berkontribusi sebesar Rp 100 juta dan mengirimkan 6-8 orang untuk meneliti selama 3 bulan. Hal tersebut memungkinkan peneliti di LIPI memperoleh akses teknologi terkini.
Riset yang dikerjasamakan berkaitan dengan bigdata, sensor, dan fisika. Di ketiga bidang tersebut dibutuhkan kemampuan beradaptasi dengan cepat karena ilmu di bidang tersebut berkembang dengan pesat. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk membangun infrastruktur dan mengembangkan perangkatnya.
Ia melihat di bidang informasi teknologi masih ada cacat pada proses pembuatan chip. "Aplikasi chip di industri sangatbesar tetapi akurasi dengan level besar itu belum ada," katanya.
300 peneliti
Dalam kegiatan Science Technology Festival 2015, hadir sebanyak 300 peneliti di bidang fisika, elektronika, kimia, telekomunikasi, radar, mekatronika, dan teknologi tepat guna. Ketua Science Technology Festival 2015 Nino Rinaldi, mengatakan, kegiatan itu merupakan kegiatan enam konferensi internasional di bidang ilmu pengetahuan teknik yang dilakukan secara paralel dengan ruang lingkup atau bidang kompetensi berbeda-beda.
Kegiatan itu didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika serta The Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Ke depan dapat tercipta kolaborasi riset dengan peneliti atau akademisi dari negara lain. Nino menyebutkan, festival direncanakan menjadi kegiatan tahunan.
Published in
Kompas (6 October 2015)
Pengembangan ekonomi kreatif berbasis ilmu teknik minim perhatian, terutama dibandingkan dengan yang berbasis seni. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia siap menggandeng Badan Ekonomi Kreatif untuk mendorong kian banyak usaha disokong oleh ilmu teknik.
"Prioritas dalam rencana kerja sama ialah bisnis start up berbasis teknologi informasi karena perkembangannya sangat cepat." kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko. Senin (5/10), di sela-sela Science and Technology Festival 2015 di Bandung.
Produk ekonomi kreatif berbasis teknik, ujar Handoko, lebih menjamin kepastian hasil dibanding berbasis seni. Produk teknologi berupaya mencari solusi atas permasalahan atau kebutuhan masyarakat. Inovasi teknologi jadi alat pemccahan masalah.
Sementara itu, produsen produk kesenian, seperti film, animasi, dan lagu. belum tentu mampu mengamankan pasar. Sebab, laku tidaknya produk bergantung pada selera konsumen.
Terkait bisnis pemula yahg memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), peneliti pada Universitas Gadjah Mada dan National University of Singapore, Dedy Permadi, menuturkan, Indonesia sangat potensial karena perkembangan TIK sangat pesat. Jumlah penduduk sekitar 255 juta jiwa, tetapi penggunaan ponsel mencapai 308 juta unit. Penduduk Indonesia juga tercatat sebagai pengguna Facebook terbanyak kedua dan pengguna Twitter terbanyak keempat di dunia.
Handoko mengatakan, LIPI terus mengembangkan riset dan meningkatkan layanan teknologi guna mendorong tumbuhnyi jumlah pelaku bisnis pemula berbasis teknik. LIPI mengembangkan radar mini berbasis radio untuk nelayan berkapal kecil, LIPI masih mengembangkan agar radar memiliki sonar untuk memantau ikan.
Dengan inovasi para penelitinya dalam teknologi pengalengan, LIPI juga sudah membantu pengusaha makanan mengembangkan produk makanan tradisional dalam kaleng sehingga tahan lama dan bisa didistribusikan ke tempat-tempat jauh. Produk yang dikalengkan antara lain gudeg, krecek. mangut lele. (JOG)
Published in
Sindo Trijaya (11 October 2015)
Talk Show program acara "Indonesia Bersaing" Sindo Trijaya (Frekuensi 104,6 FM) bersama peraih LYSA 2015, Dr. Ratih Pangestuti. Jadwal pk. 16:00-17:00 WIB, dipandu oleh Reski.
Published in
LIPI (5 October 2015)
Published in
Suara Pembaruan (Ari Supriyanti Rikin, 28 September 2015)
Satelit Lapan-A2 karya anak bangsa berhasil diluncurkan dari India pukul 10.00 waktu India atau pukul 11.30 WIB. Peluncuran satelit Lapan-A2 ini bersama roket PSLT C30 milik India yang muatan utamanya satelit Astrosat dan ada 6 satelit kecil lainnya dimana salah satunya adalah Lapan-A2.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengatakan pada proses peluncurannya selama 25 menit terlihat tahapan-tahapan pelepasan roket pertama, kedua, ketiga sampai keempat hingga ke orbitnya pada ketinggian 650 km.
"Secara bertahap muatan-muatan roket tersebut dilepaskan dimulai dari satelit Astrosat yakni satelit utama penelitian astronomi yang bobotnya 1,5 ton," katanya usai peluncuran yang disaksikan melalui live streaming dari kantor pusat Lapan di Jakarta, Senin (28/9).
Hadir pula dalam peluncuran tersebut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia L T Handoko dan Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yunus Subaygo.
Thomas menambahkan setelah Astrosat dilepaskan, setengah menit kemudian dilepaskan ke orbitnya satelit Lapan-A2 pada ketinggian 650,16 km. Lalu setengah menit kemudian satelit milik Kanada dan 4 satelit nano milik Amerika Serikat.
"Semuanya dinyatakan mencapai orbitnya masing-masing pada ketinggian 650 km inklinasi sekitar 6 derajat," ucapnya.
Dikatakan Thomas, Lapan-A2 berbobot 78 kilogram ini akan melintasi Indonesia 14 kali sehari setiap 90 menit. Dalam fase awal pascapeluncuran, Lapan menyiapkan dua stasiun bumi di Pusat Teknologi Satelit Ranca Bungur Bogor dan Stasiun Penjejak Satelit di Biak, Papua. Operasional satelit Lapan-A2 ini pun bisa mencapai 6 tahun.
Stasiun-stasiun ini akan menjejak satelit di orbitnya dan memastikan satelit berfungsi dengan baik semua sensor-sensornya. Termasuk pula komunikasi data apakah berfungsi dengan baik, dan posisi atau sikap satelit tersebut bisa diarahkan ke arah bumi. Diharapkan fungsi pemotretaan berjalan dengan baik.
"Proses ini diperkirakan 1 bulan. Para engineer Lapan dari dua stasiun itu akan terus memantau satelit ini berada di orbitnya, memastikan sensor dan peralatan satelit berfungsi dengan baik," ucapnya.
Sebelumnya satelit ini telah resmi dilepas Presiden Joko Widodo 3 September 2015 lalu. Kemudian satelit ini dikirim ke India hingga hari ini sukses diorbitkan.
Published in
Smart FM (17 September 2015)
Talk Show program acara "Info Bisnis" Smart FM (Frekuensi 95,9 FM). Jadwal pk. 09:00-10:00 WIB, dipandu oleh Daril.
Published in Koran Jakarta (15 September 2015)
Pelajar SMA Negeri 3 Semarang Jawa Tengah berhasil membuktikan cara laba-laba membedakan mangsa dan musuh. Hasil penelitian ini mengantarkan mereka menjadi pemenang pertama LKIR 2015 bidang pengetahuan hayati yang diselenggarakan LIPI.
Suatu ketika Achmad Ilham Nurgina dan Cenanda Raifan Ando bermain benang. Iseng-iseng, kedua pelajar SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah itu menarik beberapa benang, ada yang mudah putus dan ada pula yang tidak.
Sontak, mereka penasaran dengan apa yang memengaruhi elastisitas benang. Mereka pun mulai menelusuri beberapa sumber bacaan, ternyata elastisitas benang dipengaruhi modulus young atau yang dikenal sebagai modulus elastis, yaitu suatu parameter bagaimana suatu materi berubah bentuk atau rusak jika ditempatkan di bawah tegangan. "Tingkat dari elastisitas dipengaruhi oleh dua jumlah sisi dan ketebalan benang," jelas Achmad, kepada Koran Jakarta, di Jakarta beberapa waktu lalu.
Tidak berhenti sampai di situ, Achmad dan Cenanda melanjutkan penelitian jaring laba-laba yang mirip rangkaian benang tetapi memiliki elastisitas dan kekuatan luar biasa sebagai perangkap mangsa. Lalu, bagaimana cara laba-laba yang nyaris buta itu bisa membedakan mangsa dan musuh? Achmad penasaran untuk menjawab pertanyaan itu.
Usut punya usut, kata Achmad, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa getaran yang terjadi pada benang laba-laba itu ditransmisikan melalui benangnya. Ada penelitian lanjutan lain yang mengatakan, getaran yang dihasilkan benang laba-laba itu dipengaruhi oleh karakteristik benangnya, baik massa jenis, kepadatan, mau-pun modulus young.
"Oh, ternyata ada modulus young, dari situ kami mencoba menghubungkan bagaimana hubungan antara modulus young dengan cepat rambat rangsang, timpal Cenanda.
Sejurus kemudian, mereka mengajukan proposal penelitian bertajuk "Pengaruh Modulus Young terhadap Cepat Rambat Rangsang pada Jaring Laba-laba" untuk lomba karya ilmiah remaja (LKIR) 2015 bidang pengetahuan hayati yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Respons Laba-laba
Mereka menggunakan metode penelitian analisis deskriptif dan eksperimen. Selama proses penelitian, mereka jadi mengetahui laba-laba merupakan salah satu makhluk hidup yang memiliki alat indera khusus dalam menerima rangsangan. Laba-laba memiliki sistem peringatan dini yang sensitif dimana tubuhnya ditutupi rambut-rambut yang sangat peka terhadap getaran. Lebih lanjut, kata Cenanda, perilaku laba-laba menunjukkan bahwa mereka menerima informasi yang dikirimkan melalui jaring mereka dan getaran mangsa yang terjerat. "Jadi penelitian ini mencoba menjawab bagaimana hubungan antara kekuatan dan kecepatan dengan respons laba-laba," ujar dia.
Hasil penelitian mereka menunjukkan modulus young ternyata berbanding lurus. Ketika modulus young tinggi maka cepat rambat rangsang juga tinggi. "Dapat dikatakan, ketika suatu jaring itu memiliki kekuatan yang tinggi, maka cepat rambat rangsang laba-laba merespons dari getaran yang ada itu juga sangat cepat," imbuh Achmad. "Laba-laba itu kan buta, darisitu hewan tersebut memanfaatkan getaran yang ada di dalam jaring sebagai indikator untuk menentukan mangsa dan musuh. Dalam menentukan mangsa dun musuh, laba-laba bisa mengetahui," jelas Cenanda.
Menariknya, benang laba-laba tidak menunjukkan adanya frekuensi getar setelah diberikan frekuensi buatan lebih dan 1.000 Hz. Amplitude puncak benang terjadi ketika frekuensi buatan yang diberikan berkisar 50-200 Hz.
"Dari studi literatur diketahui bahwa semua mangsa laba-laba memproduksi frekuensi getar yang cenderung berada di bawah 1.000 Hz. Usikan luar yang berfrekuensi melebihi 1.000 Hzakan diabaikan oleh laba-laba karena getaran tidak tersalurkan oleh benangnya," urai Achmad.
Lebih lanjut, grafik modulus young memiliki keidentikan perbandingan dengan grafik cepat rambat getaran pada benang laba-laba. Hal itu berarti nilai cepat rambat getaran pada benang laba-laba sebanding dengan nilai modulus young dan setiap benangnya.
Dari hasil penelitian tersebut, proposal mereka berhasil lolos tahap penyaringan awal dari 2.041 proposal yang telah diseleksi para juri yang notabene ilmuwan LIPI. "Dari semua proposal yang diajukan, LIPI menjaring 53 karya hasil pemonitoran dan evaluasi pakar LIPI," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI sekaligus Ketua Dewan Juri LKIR, Laksana Tri Handoko.
Tak dinyana, setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi, penelitian mereka dinobatkan sebagai pemenang pertama kompetisi ilmiah 2015 kategori bidang pengetahuan hayati. Penghargaan itu semakin memacu mereka untuk meneliti lebih lanjut rahasia di balik jaring laba-laba. "Harapan kami bisa melakukan penelitian Iebih aplikatif lagi hingga pada puncaknya bisa direalisasikan ke masyarakat. ladi, hasil penelitian bukan sekadar bisa menambah wawasan serta memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan, tetapi bisa aplikatif sehingga bisa diterapkan oleh masyarakat," tutup Acmad.
awm/M-1
Published in Media Indonesia (10 September 2015)
KOMPETISI sains SD tingkat nasional, Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2015, memasuki tahap penjurian. Selasa (8/9), di Museum Iptek, TMII, Jakarta, anak-anak yang lolos sebagai finalis mempresentasikan karya sains mereka di hadapan dewan juri.
Karya itu antara lain, tongkat penyandang tuna netra pintar, mesin boks pencuci telur semi otomatis, alat pendeteksi dini asap kebakaran lahan, permainan matematika, papan laser waterpass, dan hand sanitizer dari kulit durian.
"Karya mereka kompleks, variatif, dan susah ditebak. Karya-karya itu berpotensi tinggi untuk dikembangkan di kemudian hari. Hal ini memberikan gambaran bagus tentang perkembangan ilmuwan Indonesia ke depannya," ujar fisikawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LT Handoko yang menjadi salah satu dewan juri.
Pada kesempatan sama, Ketua Panitia KJSA 2015 Arief Nugroho menyatakan tahun ini ada 811 karya yang mendaftar kompetisi, meningkat dari tahun lalu yang berjumlah 718 karya. C/H-3)
Published in
LIPI (Humas LIPI, 3 September 2015)
Apresiasi terhadap para peneliti di Indonesia yang dianggap masih kurang memang membuat sebagian ilmuwan Indonesia lulusan luar negeri memilih melabuhkan diri untuk bekerja di luar negeri. Namun beda cerita dengan peneliti muda yang baru saja meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII tahun 2015 ini.
Dia lebih memilih kembali ke Indonesia untuk mengembangkan riset di negeri kelahirannya tersebut ketimbang di negeri orang. Suharyo Sumowidagdo adalah peneliti dimaksud. Saat ini, dia merupakan sivitas pegawai negeri sipil Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang bekerja pada Pusat Penelitian Informatika.
Aktivitas utama Suharyo saat ini adalah membangun kegiatan fisika partikel eksperimen dan bidang terkait dalam ranah kolaborasi LIPI dan eksperimen A Large Ion Collider Experiment (ALICE) di Conseil Europeen pourla Recherche Nucleaire (CERN) atau laboratorium nuklir untuk Eropa. Selain itu, ia juga aktif dalam membangun kegiatan fisika terutama fisika partikel eksperimen di Indonesia.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. L T Handoko mengungkapkan, Suharyo bisa menjadi sosok dan contoh ilmuwan muda yang memilih berkarir di Indonesia. “Keputusannya untuk kembali ke Indonesia patut diapresiasi. Saya harap Suharyo bisa menjadi role model dan memotivasi banyak anak muda Indonesia lain yang saat ini ‘berkeliaran’ di luar negeri untuk kembali dan mau berjuang bersama untuk meningkatkan dinamika riset di tanah air,” tutur pria yang juga menjadi atasan Suharyo ini.
Apalagi setelah kembali ke Indonesia dan bergabung di LIPI, lanjut Handoko, Suharyo sudah langsung tancap gas dengan berbagai raihan prestasi seperti peringkat tertinggi secara nasional pada Google Cendekia untuk karya ilmiah terindeks global pada awal tahun ini. Belum lagi penganugerahan PAB yang baru saja diterima pada Jumat (21/8) lalu.
“Bukan sekedar berbagai prestasi tersebut yang dilihat, tapi kita harus melihat keberanian dan dedikasinya sekali lagi untuk kembali dan berkarya ke tanah air meski sudah lama malang melintang sebagai akademisi di luar negeri. Inilah yang perlu digarisbawahi dan dicontoh,” tekan Handoko.
Secara khusus, Handoko berharap prestasi yang diraih Suharyo bisa menjadi penambah semangat bagi segenap peneliti muda LIPI serta diaspora Indonesia yang masih berada di luar negeri untuk berkenan kembali dan membangun riset di tanah air.
Enam Tokoh
Di sisi lain, Suharyo memperoleh penghargaan terbaru PAB XIII bersama lima tokoh lain yang dianggap berprestasi di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Azyumardi Azra, Ahmad Tohari, Kaharuddin Djenod, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban.
Dalam keterangan tertulisnya, Ketua Umum Organizing Committee (OC) PAB XIII, Anindra Ardiansyah Bakrie, menegaskan meski penghargaan ini diberikan oleh Keluarga Bakrie melalui Yayasan Achmad Bakrie, namun pemilihan dan penetapan para penerima PAB dilakukan dewan juri yang bekerja independen.
"Mereka berasal dari institusi perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, asosiasi dan komunitas profesi, kalangan jurnalis, serta lembaga non pemerintah lain," katanya.
Enam tokoh penerima PAB XIII merupakan insan terpilih yang disaring dari banyak tokoh kandidat lainnya. Proses penjurian berlangsung dengan merahasiakan nama-nama dewan jurinya layaknya penghargaan Nobel.
Sedangkan, Suharyo terpilih berkat peran aktifnya dalam kerjasama eksperimen global yang menandaskan keberadaan Partikel Boson-Higgs di CERN, yang diramalkan oleh model standar Fisika partikel. Pria ini bersedia kembali ke Indonesia sebagai pionir untuk memulai dan memimpin grup eksperimen global pertama di Tanah Air.
“Ya, seneng bisa meraih penghargaan tersebut. Namun bukan pada penghargaannya, ini adalah amanah agar saya ke depan bekerja lebih giat lagi,” tutup Suharyo. (pwd/ ed: isr)
Published in
LIPI (31 August 2015)
Dengan telah dilakukannya penilaian terhadap semua finalis, maka terpilihlah deretan pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA) pun diumumkan pada Malam Penganugerahan yang dihelat pada hari Kamis (27/8) di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Malam penganugerahan ini diawali dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana, Nur Tri Aries Suestiningtyas yang juga Kepala Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI.
Selanjutnya, sambutan dari Ketua Dewan Juri, LT.Handoko. Dalam sambutannya, Handoko menyampaikan rasa kagum yang luar biasa atas karya – karya yang telah dihasilkan oleh para peneliti muda. “Karya finalis tahun ini lebih sulit untuk dipilih pemenangnya, tingkatan karyanya lebih advance dan lebih rumit,” ungkapnya. “Kalian telah mengalahkan 2000an proposal yang masuk, maka semua yang ada di sini adalah pemenang,” tambahnya.
Sementara, Sekretaris Utama LIPI, Siti Nuramaliati Prijono juga menyoroti peningkatan jumlah proposal yang masuk sebesar 30% dibanding pendaftar pada LKIR tahun lalu. Khusus pada tahun ini, Perhimpunan Biologi Indonesia yang dipimpin oleh beliau, juga memberikan special award kepada 3 karya, yakni 2 karya LKIR dan 1 karya NYIA.
Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, yang juga hadir pada malam itu, memberikan selamat dan apresiasi yang sebesar – besarnya kepada semua finalis kompetisi ilmiah LIPI. Iskandar berpesan kepada seluruh finalis agar keinginan mengembangkan diri melalui karya ilmiah tidak berhenti sampai di sini. “Kalian harus menjadi generasi penerus yang tangguh dan senantiasa menghasilkan ide – ide brilian untuk Indonesia yang lebih baik” tegasnya.
Adapun pemenang pertama Kompetisi Ilmiah tahun ini, didominasi oleh SMA Negeri 3 Semarang. Sekolah tersebut berhasil mencatatkan perwakilannya sebagai pemenang pada LKIR dan NYIA tahun ini. Berikut daftar pemenang Kompetisi Ilmiah LIPI selengkapnya :
Selanjutnya, pemenang LKIR akan diseleksi ulang menjadi 3 tim terbaik untuk mewakili Indonesia di ajang The Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) di Phoenix pada 2016 mendatang. Sedangkan Pememang NYIA akan diseleksi ulang menjadi 3 terbaik untuk mewakili Indonesia pada ajang International Exhibition for Young Inventors 2016 di India. (gst)
Published in Koran Jakarta (29 August 2015)
Inspirasi penelitian antibakteri dari alga hijau muncul ketikapelajar SMA Negeri 3 Denpasar bermain di pantai. Setelah melakukan serangkaian penelitian, ekstrak "si hijau" ternyata mampu menghambat pertumbuhan bakteri.
Cok Laksmi Paradna Paramita dan Ni Putu Intan Apsari kerap bermain di pantai sebuah pulau kecil yang terletak lima kilometer (km) di sebelah selatan Kota Denpasar, Bali. Tidak sekadar bermain, kedua pelajar SMA Negeri 3 Denpasar itu kerap mengamati kebiasaan warga Desa Serangan yang tinggal di sekitar pantai.
Mereka mendapat informasi dari warga setempat, kebanyakan orang setelah bermain di Pantai Serangan mengeluh badannya terasa gatal-gatal. Tapi mereka tidak panik lantaran punya "obat tradisional" yang ampuh mengatasi gatal-gatal.
Mereka merebus alga hijau yang keberadaannya berlimpah di sekitar pantai. Sisa air rebusan alga hijau itu kemudian diusapkan dibagian anggota tubuh yang terasa gatal-gatal. Walhasil, gatal-gatal di sekujur tubuh bisa segera sirna. "Tapi kok bisa gatalnya hilang?" Laksmi penasaran dengan khasiat air rebusan alga hijau yang secara turun-temurun telah digunakan sebagai obat gatal. Dia menduga adanya suatu kandungan dalam alga hijau.
Laksmi bersama Intan kemudian mencari informasi lebih lanjut tentang "si hijau" dari berbagai referensi. Sejauh ini, mereka mengetahui alga hijau dari kacamata ilmiah sering disebut Chlorophyceae yang tergolong ke dalam divisi Chlorophyta. Tumbuhan itu terdiri atas sel-sel kecil yang merupakan koloni berbentuk benang bercabang-cabang, mirip tumbuhan tingkat tinggi.
Di suatu perairan, alga hijau berperan aktif menyusun fitoplankton. Sel-sel alga hijau memiliki kloroplas berwarna hijau yang mengandung pigmen klorofil a dan b serta karotenoid efektif melakukan fotosintesis. Di dalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakanda, hormon, vitamin, mineral, serta senyawa bio-aktif.
Usut punya usut, Laksmi dan Intan mengatakan alga hijau yang mengandung fitoplankton vipolit itu dapat dimanfaatkan sebagai obat gatal-gatal. Mereka mengawali penelitian kandungan tersebut melalui eksperimen di Pusat Riset Pelajar SMAN 3 Denpasar (Gedung Pradnya Paramita) dan Laboratorium Biologi Universitas Udayana pada 11 Mei 2015.
Mereka melakukan penelitian secara bertahap, mulai dari pembuatan ekstrak fitoplankton vipolit di dalam alga hijau, suspensi bakteri, uji daya hambat, hingga aktivitas antibakteri. Dari penelitian tersebut mereka menduga kandungan fitoplankton vipolit di dalam alga dapat dijadikan antibiotik dari bakteri Staphylococcus aureus karena memiliki kandungan polifenol, tanin, dan flavonoid yang bersifat antibakteri. "Kami ingin mengetahui efektivitasnya lebih lanjut," kata Laksmi, kepada Koran Jakarta, di Auditorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, pada Kamis (27/8).
Hasil Positif
Sejums kemudian. Laksmi j dan Intan mengajukan proposal penelitian untuk lomba karya ilmiah remaja (LKIR) 2015 bidang ilmu pengetahuan kebumian dan maritim (IPK) untuk siswa SMP-SMA yang diselenggarakan LIPI. Bersyukur, rencana penelitian mereka berhasil masuk tahap penyaringan awal dari 2.041 proposal yang telah diseleksi para juri yang notabene ilmuwan LIPI.
"Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Dari 1.700-an menjadi 2041 proposal. "Dari semua proposal yang diajukan, LIPI menjaring 53 karya hasil monitoring dan evaluasi pakar LIPI," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI sekaligus Ketua Dewan Juri LKIR, Laksana . Tri Handoko.
Namun, mereka sempat putus asa ketika memasuki proses bimbingan penelitian sekitar tiga bulan. Pasalnya, para pembimbing mengatakan tingkat penelitian mereka sebenarnya setara dengan riset yang dilakukan mahasiswa S1 atau S2. "Penelitian kita dibilangnya tidak bakal terwujud karena setara dengan penelitian S1 atau S2. Selain itu, sulit untuk menyelesaikan penelitian dalam tempo tiga bulan," ujar Laksmi yang sempat merasa putus harapan.
Tak ingin lama merasa terpuruk, mereka berusaha memotivasi diri sendiri. "Kami ingin membuktikan kepada orang yang bilang penelitian ini tidak mungkin, kami pasti bisa meskipun waktunya terbatas. Kami ingin berusaha," tandas Laksmi.
Di bawah bimbingan peneliti LIPI, mereka melakukan penelitian di Pusat Oseanografi LIPI. Mereka diajarkan cara mengekstrak 200 mililiter fitoplankton dengan cara evaporasi dan sentrifugasi. Setelah terbentuk endapan (pellet) dan cairan (supematant), mereka melakukan serangkaian uji coba.
"Hasilnya positif dapat menghambat pertumbuhan bakteri," kata Intan. Hasil penelitian ini mengantarkan mereka masuk final kategori bidang IPK. Tak dinyana.mereka dinobatkan sebagai pemenang pertama kompetisi ilmiah 2015 katregori bidang IPK. Pemenang LKIR nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Intel International Science Engineering Science Fair (ISEF) di Amerika," kata ketua panitia penyelenggara kompetisi ilmiah 2015, Nur Tri Aries.
Untuk mempersiapkan kesempatan emas itu, Laksmi dan Intan tidak terus berleha-leha. Mereka masih ingin melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kandungan senyawa dalam alga hijau, lalu melakukan uji invivo.
"Kami belum mengetahui secara spesifik kandungan senyawa dalam alga hijau. Sementara itu, sangat sedikit referensi yang mengulas-nya," ujar Laksmi. Pada akhirnya, mereka ingin hasil penelitiannya kelak benar-benar dapat dimanfaatkan secara langsung. awm/M-1
Published in Siaran Pers LIPI (28 August 2015)
Jakarta, 28 Agustus 2015. Karya generasi muda Indonesia yang tampil dalam kompetisi Ilmiah LIPI telah dinilai oleh Tim Dewan Juri dan telah diumumkan pada puncak kegiatan Kamis (27/8) malam. Kepala LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengatakan, karya dan invensi tersebut merupakan hasil ide kreatif terbaik dari para remaja yang harus terus didukung. “Semua yang ada di kompetisi ini sudah menjadi pemenang. Kesempatan ini adalah sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan cara pemberian,” ujar Iskandar.
Director of Education and Society British Council Indonesia, Teresa Bircks mengaku bangga akan animo generasi muda Indonesia dalam dunia penelitian. “Mereka adalah generasi yang peduli untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tentu mengharumkan nama bangsa,” tegasnya. British Council menyampaikan apresiasi atas kerjasama dengan LIPI dalam pembinaan generasi muda. “Kolaborasi ini harus terus dibangun untuk memecahkan permasalahan global bersama-sama dengan cara yang ilmiah,” sambungnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR menegaskan semangat kaum muda untuk berinovasi dengan memanfaatkan iptek perlu terus dipacu ke depannya. “Sebagai bentuk apresiasi dan pemacu semangat bagi mereka, pemenang LKIR nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Intel International Science Engineering Science Fair (ISEF) di Amerika pada bulan Mei 2016, dan pemenang NYIA akan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi memamerkan invensinya di ajang International Young Inventors Award (IEYI) di Taiwan November mendatang,” ujarnya.
Berikut daftar pemenang kompetisi ilmiah 2015:
Pemenang LKIR:
- Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH): Achmad Ilham dan Cenanda (SMA N 3 Semarang) dengan judul karya ilmiah “Pengaruh Modulus Young terhadap Cepat Rambat Rangsang pada Jaring Laba-Laba”
- Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT): Aristo Kevin dan Maulanan Imam (SMA N 3 Semarang) dengan karya ilmiah “Elektrodeposisi Material Komposit Zn-PP sebagai Pelapis Karat”
- Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPK): Ni Putu Intan dan Cok Laksmi Pradna (SMA N 3 Denpasar) dengan karya ilmiah “Evaluasi Pemanfaatan Fitoplankton melosira sp, navicula sp, nitzschia sp, di Perairan Bali dan Lombok Sebagai Sumber Antibiotika”
- Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK): Nurkholifatul Maula dan Putri Rahayu Budiman (MAN Insan Cendekia Jambi) dengan karya ilmiah “Pengaruh Eksistensi Sawit Terhadap Integrasi Sosial Masyarakat Transmigrasi Desa Sumber Harapan Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo Provinsi Jambi”.
- LKIR bidang Kependudukan: Erni, (SMA N 63 Jakarta) dengan judul karya ilmiah “Motif Sosial Berwirausaha Pelajar SMA dan SMKN Jakarta Selatan sebagai Gambaran Kesiapan Indonesia Menuju Bonus Demografi”
Pemenang NYIA:
- Bayu Aji Setyawan dan Galih Yuli Dwiatmaja (SMK Negeri 1 Kedung Wuni, Purwokerto, Jawa Tengah) dengan invensi AS-SHUR: Teknologi Robot Pembersih Udara
Keterangan Lebih Lanjut:
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, MA (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
- Indriyani (Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
- Yuta Inten (Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Penulis: msa
Editor : isr
Siaran Pers ini dibuat oleh Humas LIPI
Published in Tempo (Amri Mahbub, 28 August 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengumumkan juara Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-47 (LKIR) dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-8. Kedua ajang ini diikuti oleh peserta setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. "Para juara meraihnya dengan usaha, dengan ide kreatif yang mereka ciptakan," kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain dalam sambutan sebelum pengumuman yang diadakan di Auditorium Utama LIPI, Kamis, 27 Agustus 2015 malam.
Iskandar menilai seluruh karya tampil dalam kedua kompetisi tersebut merupakan hasil implementasi ide kreatif yang panjang dari para finalis. Semua peserta, dia berpendapat, sudah menampilkan karya mereka dengan maksimal. "Semangat dan kerja keras tersebut harus terus didukung oleh guru, sekolah, negara, dan banyak pihak lainnya."
Sebanyak 53 finalis turut serta dalam kompetisi yang digelar selama empat hari ini. Mereka memperebutkan lima kategori, yakni bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan, bidang ilmu pengetahuan hayati, bidang ilmu pengetahuan teknik, bidang ilmu pengetahuan kebumian dan kemaritiman, serta bidang ilmu kependudukan.
Direktur Pendidikan dan Sosial British Council Indonesia Teresa Bircks bangga akan animo generasi muda Indonesia dalam dunia penelitian. "Mereka generasi yang peduli," ujarnya di tempat yang sama. Dia dan British Council menyatakan dukungannya agar kompetisi serupa bisa tetap berjalan tiap tahun. "Tujuannya jangka panjang, memecahkan masalah global secara ilmiah."
Ketua Dewan Juri Laksana Tri Handoko menganggap semangat berinovasi memang harus dipupuk sejak muda. "LIPI turut bertanggung jawab untuk itu," kata pria yang juga menjabat sebagai Deputi Ilmu Pengetahuanm Teknik LIPI ini.
Para juara LKIR nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Intel International Science Engineering Science Fair (ISEF) yang akan digelar di Amerika Serikat pada Mei 2016. Sedangkan pemenang NYIA akan turut serta memamerkan inovasinya di ajang International Young Inventors Awards (IEYI) di Taiwan pada NOvember mendatang. Berikut daftar pemenang LKIR dan NYIA 2015:
1. Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan:
Nurkholifatul Maula dan Putri Rahayu Budiman, MAN Insan Cendekia Jambi
“Pengaruh Eksistensi Sawit Terhadap Integrasi Sosial Masyarakat Transmigrasi Desa Sumber Harapan Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Muara Bungo, Jambi"
2. Ilmu Pengetahuan Hayati:
Achmad Ilham dan Cenanda, SMA N 3 Semarang
“Pengaruh Modulus Young Terhadap Cepat Rambat Rangsang pada Jaring Laba-laba”
3. Ilmu Pengetahuan Teknik:
Aristo Kevin dan Maulanan Imam, SMA N 3 Semarang
“Elektrodeposisi Material Komposit Zn-PP sebagai Pelapis Karat”
4. Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim:
Ni Putu Intan dan Cok Laksmi Pradna, SMA N 3 Denpasar
“Evaluasi Pemanfaatan Fitoplankton melosira sp, navicula sp, nitzschia sp, di Perairan Bali dan Lombok Sebagai Sumber Antibiotika”
5. Bidang Kependudukan:
Erni, SMA N 63 Jakarta
“Motif Sosial Berwirausaha Pelajar SMA dan SMKN Jakarta Selatan sebagai Gambaran Kesiapan Indonesia Menuju Bonus Demografi”
6. Pemenang NYIA:
Bayu Aji Setyawan dan Galih Yuli Dwiatmaja, SMK Negeri 1 Kedung Wuni, Purwokerto, Jawa Tengah
"AS-SHUR: Teknologi Robot Pembersih Udara"
Published in Suara Karya (26 August 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan kembali menggelar Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 dan National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8. Upaya itu untuk meningkatkan kualitas peneliti muda melalui kompetisi ilmiah.
Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (25/8) mengatakan, kedua ajang kompetisi yang digelar bersama British Council melalui program Newton Fund itu merupakan salah satu cara membina bibit muda berkualitas di bidang ilmu pengetahuan.
"Perkembangan pengetahuan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek," ujar Iskandar seperti dikutip Antara.
Ia mengatakan, menanamkan budaya meneliti sejak dini merupakan upaya LIPI untuk senantiasa meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.
"Kedua kompetisi ilmiah itu merupakan sarana untuk menemukan penemu muda yang berbakat, sehingga dapat dikompetisikan dalam ajang yang lebih tinggi lagi seperti International Exibition for Young Inventors (IEY1)," katanya.
Dari kegiatan itu, Iskandar Zulkarnain berharap masalah kelangkaan Sumber Daya Manusia (SDM) penelitian yang mumpuni untuk mengembangkan iptek dapat terselesaikan.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR mengatakan khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta sudah naik lebih kurang 30 persen dibanding 2014, dari 1.431 proposal menjadi 2.041 proposal.
"Kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja," ujarnya. LKIR yang digelar sejak, 1969 menjadi kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara itu, Direktur British Council Indonesia Sally Goggin mengatakan pihaknya mendukung pengembangan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda Indonesia.
Published in Media Indonesia (26 August 2015)
KEPALA Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain berpendapat Indonesia perlu meningkatkan kualitas kaum muda terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sehingga upaya-upaya penanaman budaya meneliti harus digalakkan.
"Kami mendorong mereka (anak muda) agar bisa tumbuh menjadi peneliti yang andal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa," katanya saat jumpa pers acara LKIR dan NYIA (National Young Inventors Award) di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, generasi muda merupakan aset bangsa yang harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan karena bisa ikut mendorong percepatan inovasi.
Dukungan serupa diberikan British Council Indonesia. Seperti dikemukakan Senior Relationship Manager East Asia Regional Evaluation Manager Yanti Amran yangmenyatakan penting adanya pengembangan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda.
"Kemitraan dengan LIPI adalah wujud dukungan kami. Sesuai tujuan Newton Fund, di antaranya mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia," ucapnya.
Pihaknya pun berkomitmen terus mendorong ilmuwan muda berprestasi asal Indonesia untuk berkompetisi dalam jenjang yang lebih tinggi, yakni pada skala internasional.
Pada kesempatan sama, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko mengutarakanminat berkarya para peneliti muda Indonesia kian mengalami peningkatan.
Hal itu terlihat dari naiknya jumlah proposal karya ilmiah yang diterima LIPI di dalam ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2015 yang mencapai 2.041 buah. "Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 1.431 buah atau naik sekitar 30 persen," ujarnya.
Kenaikan jumlah proposal itu dinilai sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Pasalnya, LKIR dan NYIA merupakan kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat usia 12 sampai 19 tahun.
Handoko menjelaskan, penyelenggaraan LKIR dan NYIA bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan siswa dalam menganalisis permasalahan. Selain itu, penelitian diharapkan mampu mencari solusi yang tepat melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. (Mut/H-1)
Published in Pikiran Rakyat (Siska Nirmala, 26 August 2015)
Minat penelitian di kalangan remaja meningkat drastis. Ini setidaknya terlihat dari antusiasme sivu.i SMP hingga SMA sederajat pada Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47.
Sebanyak 2.041 proposal penelitian diajukan peserta kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Jumlah ini meningkat pesat dari tahun sebelumnya yakni 1.431 proposal penelitian.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko menuturkan, peningkatan jumlah proposal tersebut merupakan indikasi positif terkait dengan minat penelitian di kalangan remaja. Proposal karya ilmiah yang diajukan peserta naik lebih dari 30 persen. Ini motivasi yang baik dan juga kesempatan bagi pelajar untuk memahami sains dan juga indikasi positif bahwa Indonesia memiliki banyak calon peneliti muda," ujarnya seusai acara pembukaan Lomba Karya ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 dan National Young Inventor Award (NYIA) Ke-8, di Gedung LIPI, Selasa (25/8/2015).
Dia menuturkan, hasil riset para peneliti muda tersebut memang belum banyak diimplementasikan lebih lanjut, karena ajang tersebut hanya menjadi tahap awal bagi siswa untuk mengenal dan menyukai bidang sains. "Kami memang tidak memaksa atau mengarahkan anak agar menghasilkan sesuatu yang langsung bisa diimplementasikan atau dipakai. Yang penting, rasa keingintahuan mereka besar terhadap permasalahan di lingkungan sekitar dan memecahkannya dengan sains," katanya.
Namun, sejauh ini terdapat dua karya ilmiah hasil peserta LKIR dan NYIA yang telah dipatenkan dan diproduksi oleh industri. Kedua hasil karya ilmiah itu adalah helm pendingin dan alat deteksi pupuk padi.
LKIR telah digelar UPI sejak 1969 silam. Ini merupakan kompetisi karya ilmiah bagi siswa SMP-SMA sederajat berusia 12-19 tahun. Tahun ini, sebanyak 53 tim pelajar se-Indonesia terpilih sebagai finalis LKIR ke-47. Dari ribuan proposal yang masuk sebelumnya terpilih hanya 60 tim jang kemudian mengikuti proses bimbingan selama empat bulan, yang kemudian melahirkan 53 finalis. Adapun lompetisi karya ilmiah tersebut berlangsung di LIPI mulai Selasa (25/8/2015) hingga Jumat (28/8/2015).
Ke-53 finalis tersebut terdiri atas 19 finalis di bidang Qmu pengetahuan hayati (IPH), 14 finalis bidang ilmu pengetahuan teknik (IPT), 15 finalis bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan (IPSK), dan 5 finalis bidang ilmu pengetahuan kebumian dan maritim (IPK).
Cinta iptek
Sementara itu, pada National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8, sebanyak 30 tim peserta terpilih sebagai finalis. Jumlah tersebut terseleksi dari total 389 karya yang masuk sebelumnya. Berbeda dengan LKIR, NYIA adalah kompetisi hasil penemuan siswa berusia 8-18 tahun. Hasil penemuan bersifat mendukung atau memudahkan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan.
Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menuturkan, kedua ajang kompetisi tersebut merupakan upaya berkelanjutan dalam pembinaan ilmiah generasi remaja. Pembibitan talenta muda berkualitas di bidang ilmu pengetahuan sangat penting untuk masa depan.
"Indonesia memerlukan sumber daya manusia iptek yang nyata. Dan itu ditumbuhkan dari generasi muda yang cinta iptek," ucapnya. Penanaman budaya meneliti sejak dini, menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.
Pada LKIR 47 ini, LIPI bekerja sama dengan British Council. Direktur British Council Indonesia Sally Goggin menjelaskan, pihaknya membantu untuk memberikan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara lain terutama Inggris. Juara LKIR Ke-47 dan juga NYIA Ke-8 nantinya akan diprogramkan untuk mengikuti ajang ilmiah di tingkat internasional. (Siska Nirmala)***
Published in Koran Jakarta (26 August 2015)
Minat remaja dalam kegiatan penelitian dan riset mengalami peningkatan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Salah satu faktor pendorongnya adalah diterapkannya kurikulum 2013 dan digelarnya berbagai ajang kompetisi di bidang ilmiah.
Ketua Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja, Laksana Tri Handoko melihat adanya peningkatan tren minat remaja terhadap kegiatan meneliti dan riset. Penerapan kurikulum 2013 dinilai menberi pengaruh signifikan bagi tumbuhnya kegiatan meneliti tersebut.
"Secara umun minat remaja meneliti mengalami pening-katan. Apakah itu terkait kurikulum 2013?, Sepertinya ada pengaruhnya," ungkap Handoko saat Pembukaan Lomba Kaiya Ilmiah Remaha (LKIR) ke-47, di Jakarta, Selasa (28/8).
Peningkatan minat itu juga terlihat dari meningkatnya jumlah proposal pendaftar LKIR. Lomba ini telah digelar sejak 1969. LKIR merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun.
Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan remaja dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Handoko, sistem pembelajaran K-13 yang sudah mulai diterapkan di ribuan sekolah memberi dampak positif terhadap peningkatan minat meneliti tersebut.
K-13, kata Handoko, menerapkan sains secara terintegrasi dan terbukti sangat efektifdalam mendorong anak untuk melihat segala sesuatu secara lebih kreatif dan ilmiah. "Anak-anak diajari untuk berpikir dengan pendekatan ilmiah," ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Taknik UPI ini.
Dalam penerapan K-13, siswa sering diberi tugas sekolah yang bersifat meneliti dan riset. Tidak jarang hasil riset itu diajukan untuk mengikuti lomba seperti LKIR.
Selain faktor kurikulum, terdapat juga faktor penawaran beasiswa yang akan diberikan kepada pemenang olimpiade, maupun lomba-lomba meneliti. "Siswa menjadi termotivasi untuk meneliti, karena bisa diikutkan lomba dan kalau menang bisa dibawa ke luar negeri, bahkan dapat beasiswa. Anak-anak kita sudah berpikir global," ungkap Handoko.
Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain mengatakan bahwa penting bagi negara untuk menggenjot jumlah peneliti muda. Untuk itu perlu disediakan ruang seluas-luasnya bagiremaja untuk mengikuti berbagai ajang dan lomba yang dapat memacu minat remaja untuk meneliti.
"Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan kompetisi ilmiah seperti LKIR dan National Young Inventor Award ini," jelas dia. Iskandar menambahkan, bahwa ajang kompetisi ilmiah sangat pentingdiselenggarakan untuk mengatasi kelabgkaan SDM yang mumpuni ubtuk berakselerasi di bidang IPTEK. "Melalui ajang kompetisi dapat ditemukan calon peneliti dan inventor muda," katanya.
Grand Desain Riset
Iskandar mengatakan pentingnya grand desain riset nasional yang lebih komperhensif dan terarah. Pemerintah memang telah menetapkan tujuh area riset yang menjadi agenda riset nasional. Namun hingga saat ini, ke tujuh area tersebut sepertinya hanya berujung pada klusterisasi semata.
"Belum dijabarkan secaramenyeluruh, arahnya kemana, siapa leading sektornya, arahan penganggarannya dan lain sebagainya," kata dia.
Ketujuh agenda riset tersebut diantara adalah riset terkait ketahanan pangan, energi, transportasi dan lain sebagainya. Dalam 25 atau 30 tahun, semua riset ini (7 area riset) kita perlukan," tambah Iskandar.
Karenanya, Iskandar melihat kebutuhan akan buku putih dari grand desain riset nasional sangat diperlukan. LIPI sendiri selama ini, telah memiliki agenda riset-riset yang dinilai masih relevan dengan agenda ketujuh area riset nasional tersebut.
Sementara itu, deputi sumberdaya Iptek, kementrian riset dan teknologi Dikti Muhamad Dimyati mengatakan pentingnya membangun kemitraan antar lembaga penelitian dan mengembangkan komunikasi dengan masyarakat Misalnya, bekerjasama dengan kampus-kampus. cit nik E-3
Published in Siaran Pers LIPI (27 August 2015)
Untuk membina minat meneliti pada remaja sejak dini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar kompetisi ilmiah tingkat nasional berupa Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-8 tahun 2015 di Gedung LIPI Pusat Jakarta. Kompetisi yang diselenggarakan dari tanggal 25 hingga 27 Agustus ini merupakan kerjasama LIPI dengan British Council melalui program Newton Fund dengan menampilkan 53 karya ilmiah budang hayati,trknik,kebumian dan maritim,serta sosial kemanusiaan hasil mentoring dan evaluasi pakar LIPI,20 LKIR bidang kependudukan dan 30 invensi pelajar se-Indonesia. Dari seluruh karya yang ditampilkan, tim dewan juri akan memilih para pemenang untuk mendapatkan apresiasi berupa piagam penghargaan, piala, serta uang tunai ratusan juta rupiah. Penganugerahan pemenang sendiri akan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2015 di Auditorium LIPI Jakarta.
Karya generasi muda Indonesia yang tampil dalam kompetisi Ilmiah LIPI tersebut dinilai oleh Tim Dewan Juri untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan apresiasi. Kepala LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengungkapkan, invensi-invensi yang mendapat penghargaan tersebut merupakan hasil ide kreatif terbaik dari para remaja yang harus terus didukung. “Semangat berinovasi dan rasa ingin tahu mereka harus terus dikembangkan. Semangat untuk menjawab persoalan di sekitar dengan cara sederhana itulah yang harus dipertahankan,” tegas Iskandar.
Menurut Iskandar, perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek. “Generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” ujarnya. Kompetisi kali ini sangat tepat untuk menumbuhkan sikap scientific minded, scientific curiosity, dan scientific approach di kalangan remaja, sambungnya.
Terkait kerja sama dengan LIPI, Direktur British Council Indonesia, Sally Goggin mengatakan bahwa riset dan kolaborasi sangat penting. “Satu negara tentu tidak akan mampu untuk menyelesaikan sendiri setiap permasalahan yang terjadi, untuk itu kami sangat fokus untuk melakukan pengembangan penelitian dan berkolaborasi,” ungkapnya. Buah pemikiran anak-anak muda pada forum ini akan berkontribusi besar di masa depan, lanjut Sally, dan Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara terpenting di dunia bagi Inggris.
Sementara itu, Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR mengungkapkan terdapat kenaikan jumlah proposal dalam penyelenggaraan LKIR tahun ini. “Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta naik sekitar 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu, dari 1.700an menjadi 2.041 proposal,” jelasnya. Ia melihat tren positif dalam perkembangan minat penelitian di kalangan remaja.
Pada penyelenggaraan LKIR tahun ini, karya para peserta dibagi ke dalam 4 kategori yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim, serta Ilmu Pengetahuan Teknik. “Dari semua proposal yang diajukan, LIPI menjaring 53 karya hasil mentoring dan evaluasi pakar LIPI,” imbuh Handoko. Sedangkan untuk NYIA, telah terseleksi 30 karya dari 389 usulan siswa-siswi dari seluruh Indonesia.
Dikatakan oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI sekaligus ketua panitia penyelenggara, Nur Tri Aries S. M.A, animo kaum muda untuk berinovasi dengan memanfaatkan iptek perlu terus dipacu ke depannya. Apalagi untuk para remaja Indonesia berkompetisi di tingkat internasional perlu lebih ditingkatkan. “Sebagai bentuk apresiasi dan pemacu semangat bagi mereka, pemenang LKIR nantinya akan dipersiapkan untuk mengikuti Intel International Science Engineering Science Fair (ISEF) di Amerika, dan pemenang NYIA akan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi memamerkan invensinya di ajang International Young Inventors Award (IEYI) di luar negeri,” pungkasnya.
Untuk gelaran tahun ini, ajang kompetisi ilmiah LKIR dan NYIA dimeriahkan pula dengan berbagai kegiatan. Di antaranya, Workshop Fastering STEM through Teacher’s Role, Workshop Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi siswa se-Jabodetabek, Workshop The Importance of Intellectual Property Right (IPR), Workshop Effective Communication for Young Scientists in an International Context, Lomba Menggambar “Science for Future”, Science Show, Story Telling, dan Stone Painting.
* * * *
Tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
LIPI merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang memiliki visi untuk menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia. LIPImemiliki 1718 peneliti, 45 pusat penelitian dan unit pelaksana teknis, dan dua kapal penelitian Baruna Jaya VII dan VIII.
Dengan mendukung mendukung prioritas penelitian nasional, LIPI memiliki fokus penelitian terhadap ilmu teknik, pangan dan kesehatan, ilmu kebumian, keanekaragaman hayati dan lingkungan serta ilmu social dan humaniora. Semua penelitian yang dilakukan oleh para peneliti LIPI telah berkontribusi cukup signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dunia akademisi, sektor industri, instansi pemerintah dan komunitas ilmiah. Disamping melakukan aktivitas penelitian, LIPI juga melakukan pengembangan produk, otoritas rekomendasi dan pertimbangan ilmiah. Lebih lanjutnya, LIPI memperkuat masyarakat Indonesia melalui kegiatan promosi iptek dan pembinaan ilmiah masyarakat.
Mengenai informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: www.lipi.go.id
Tentang British Council
British Council merupakan organisasi internasional Inggris untuk kesempatan pendidikan dan hubungan budaya. Kami menciptakan peluang internasional untuk masyarakat Inggris dan negara-negara lainnya serta membangun kepercayaan di seluruh dunia. Kami bekerja di lebih dari 100 negara dan 8.000 karyawan kami – termasuk diantaranya 2.000 orang guru – bekerja dengan ribuan profesional, pembuat kebijakan dan jutaan anak muda melalui program pengajaran Bahasa Inggris, serta program seni, pendidikan dan kemasyarakatan.
Silahkan kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut :
www.britishcouncil.or.id atau dapatkan informasi terbaru tentang kami melalui http://twitter.com/idbritish dan https://id-id.facebook.com/BritishCouncilIndonesia.
Tentang Newton Fund
Newton Fund merupakan bagian dari bantuan pembangunan resmi Inggris yang bertujuan untuk mengembangkan kemitraan sains dan inovasi yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Newton Fund menyediakan dana sebesar GBP375 juta (GBP75 juta per tahun selama lima tahun mulai dari 2014). Newton Fund mendorong kerjasama di bidang riset dan inovasi melalui kerjasama bilateral dan multilateral antara negara-negara mitra dengan Inggris. Hal ini akan mendukung keunggulan riset dan inovasi yang dimiliki Inggris serta dapat membuka peluang kolaborasi dan perdagangan antar negara. Di lima tahun pertamanya, Newton Fund berjalan di 15 negara yaitu Indonesia, China, India, Brasil, Afrika Selatan, Kolombia, Chile, Turki, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Mesir dan Kazakhstan.
Bekerja sama dengan Higher Education International Unit dan bermitra dengan penyandang dana nasional, British Council Newton Fund di Indonesia menjalankan program Newton Fund Researcher Links, Newton Fund Institutional Links, Pengembangan dan Keterlibatan Profesional, Pendidikan Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STTM) serta Pelatihan teknis dan keterampilan sejak Oktober 2014. Untuk mendukung program tersebut, Newton Fund menyediakan dana awal sebesar GBP500 ribu untuk periode 2015/2016 yang diberikan kepada British Council untuk melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas. Melihat besarnya potensi para peneliti di Indonesia, dana tersebut ditambahkan hingga total GBP900 ribu untuk periode yang sama.
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN secara khusus bagi rekan media untuk menghadiri “Pengumuman Pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke- 47 dan National Young Inventors Awards (NYIA) ke-8 Tahun 2015” yang akan diselenggarakan pada Kamis, 27 Agustus 2015 di di Auditorium Utama LIPI, Jl. Gatot Subroto 10, Jakarta pukul 19.00 WIB – selesai.
For more information, please contact:
Indriyani,
Organizing Commitee Youth Science Competition (LKIR) and National Youth International Awards (NYIA)
Grenti Paramitha,
Newton Fund Programme Manager
Fibria Heliani, Internal/External Communications Manager, British Council
Published in Siaran Pers LIPI (25 August 2015)
Jakarta, 25 Agustus 2015 – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan British Council melalui program Newton Fund membidik peningkatan kualitas para peneliti muda lewat gelaran kompetisi ilmiah bergengsi bertajuk Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 dan National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8 pada 25-28 Agustus 2015.
“Perkembangan pengetahuan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek,” kata Kepala LIPI, Prof. Iskandar Zulkarnain dalam acara pembukaan LKIR ke-47 dan NYIA ke-8 tahun 2015 di Kantor Pusat LIPI, Selasa.
Iskandar menambahkan bahwa penanaman budaya meneliti sejak dini merupakan upaya LIPI untuk senantiasa meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. “Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan kompetisi ilmiah seperti LKIR dan NYIA ini, dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi peneliti yang handal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa,” katanya.
Kedua kompetisi ilmiah tersebut, kata Iskandar, merupakan sarana untuk menemukan penemu muda yang berbakat sehingga kemudian dapat dikompetisikan dalam ajang yang lebih tinggi lagi seperti International Exibition for Young Inventors (IEYI). “Generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” tuturnya.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki kelangkaan pada kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk berakselerasi mengembangkan iptek. “Kompetisi ilmiah sangat penting diselenggarakan agar bisa menemukan calon inventor muda untuk memenuhi kelangkaan kapasitas SDM tersebut,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, DIrektur British Council Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan budaya riset ilmiah di karangan generasi muda Indonesia. “Kemitraan dengan LIPI adalah wujud nyata dukungan tersebut dan salah satu tujuan Newton Fund adalah mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara-negara lainnya, terutama dari Inggris,” kata Sally Goggin.
Sally Goggin menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya mendorong para ilmuwan muda berprestasi asal Indonesia untuk berkompetisi dalam jenjang yang lebih tinggi lagi pada skala internasional. “Hal tersebut sejalan dengan semangat British Council untuk memberikan kesempatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat internasional,” katanya.
Sementara itu, Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR mengungkapkan, pelaksanaan LKIR dan NYIA kali ini diharapkan memberikan motivasi lebih bagi generasi muda Indonesia lainnya agar tahun depan semakin banyak lagi yang mengikuti kompetisi tersebut.
“Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta sudah naik lebih kurang 30 persen ketimbang tahun lalu. Tahun lalu, jumlah proposal hanya 1.431 buah dan kini menjadi 2.041 buah,” jelasnya.
Handoko melihat, kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Dirinya pun menjelaskan, LKIR sendiri sebenarnya telah digelar sejak 1969 silam yang merupakanajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dikatakannya, pelaksanaan LKIR kali ini melombakan empat bidang penelitian, yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Dan, satu bidang terpisah lainnya adalah LKIR bidang Kependudukan yang berhasil menjaring 20 proposal. Informasi lebih lengkap tentang LKIR Ke-47 maupun NYIA Ke-8 dapat dilihat di http://kompetisi.lipi.go.id/lkir47/.
Kepala Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menambahkan, LKIR dan juga NYIA memberikan kesempatan bagi pelajar untuk memahami sains dan melihat peluang karir dibidang sains bagi masa depan mereka. “LIPI memberikan dukungan penuh kepada pelajar untuk mengembangkan proposal penelitian dan berdiskusi dengan peneliti yang ahli di bidang tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu selain menggelar LKIR dan NYIA, ajang kompetisi ilmiah LIPI tahun ini dimeriahkan pula dengan berbagai kegiatan. Di antaranya, Workshop Fastering STEM through Teacher’s Role, Workshop Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi siswa se-Jabodetabek, Workshop The Importance of Intellectual Property Right (IPR), Workshop Effective Communication for Young Scientists in an International Context, Lomba Menggambar “Science for Future”, Science Show, Story Telling, dan Stone Painting.
* * * *
Tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
LIPI merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang memiliki visi untuk menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia. LIPImemiliki 1718 peneliti, 45 pusat penelitian dan unit pelaksana teknis, dan dua kapal penelitian Baruna Jaya VII dan VIII.
Dengan mendukung mendukung prioritas penelitian nasional, LIPI memiliki fokus penelitian terhadap ilmu teknik, pangan dan kesehatan, ilmu kebumian, keanekaragaman hayati dan lingkungan serta ilmu social dan humaniora. Semua penelitian yang dilakukan oleh para peneliti LIPI telah berkontribusi cukup signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dunia akademisi, sektor industri, instansi pemerintah dan komunitas ilmiah. Disamping melakukan aktivitas penelitian, LIPI juga melakukan pengembangan produk, otoritas rekomendasi dan pertimbangan ilmiah. Lebih lanjutnya, LIPI memperkuat masyarakat Indonesia melalui kegiatan promosi iptek dan pembinaan ilmiah masyarakat.
Mengenai informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: www.lipi.go.id
Tentang British Council
British Council merupakan organisasi internasional Inggris untuk kesempatan pendidikan dan hubungan budaya. Kami menciptakan peluang internasional untuk masyarakat Inggris dan negara-negara lainnya serta membangun kepercayaan di seluruh dunia. Kami bekerja di lebih dari 100 negara dan 8.000 karyawan kami – termasuk diantaranya 2.000 orang guru – bekerja dengan ribuan profesional, pembuat kebijakan dan jutaan anak muda melalui program pengajaran Bahasa Inggris, serta program seni, pendidikan dan kemasyarakatan.
Silahkan kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut :
www.britishcouncil.or.id atau dapatkan informasi terbaru tentang kami melalui http://twitter.com/idbritish dan https://id-id.facebook.com/BritishCouncilIndonesia.
Tentang Newton Fund
Newton Fund merupakan bagian dari bantuan pembangunan resmi Inggris yang bertujuan untuk mengembangkan kemitraan sains dan inovasi yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Newton Fund menyediakan dana sebesar GBP375 juta (GBP75 juta per tahun selama lima tahun mulai dari 2014). Newton Fund mendorong kerjasama di bidang riset dan inovasi melalui kerjasama bilateral dan multilateral antara negara-negara mitra dengan Inggris. Hal ini akan mendukung keunggulan riset dan inovasi yang dimiliki Inggris serta dapat membuka peluang kolaborasi dan perdagangan antar negara. Di lima tahun pertamanya, Newton Fund berjalan di 15 negara yaitu Indonesia, China, India, Brasil, Afrika Selatan, Kolombia, Chile, Turki, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Mesir dan Kazakhstan.
Bekerja sama dengan Higher Education International Unit dan bermitra dengan penyandang dana nasional, British Council Newton Fund di Indonesia menjalankan program Newton Fund Researcher Links, Newton Fund Institutional Links, Pengembangan dan Keterlibatan Profesional, Pendidikan Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STTM) serta Pelatihan teknis dan keterampilan sejak Oktober 2014. Untuk mendukung program tersebut, Newton Fund menyediakan dana awal sebesar GBP500 ribu untuk periode 2015/2016 yang diberikan kepada British Council untuk melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas. Melihat besarnya potensi para peneliti di Indonesia, dana tersebut ditambahkan hingga total GBP900 ribu untuk periode yang sama.
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke- 47 dan National Youth International Awards (NYIA) ke-8 Tahun 2015 yang akan diselenggarakan pada Selasa-Jumat, 25-28 Agustus 2015 di Kantor Pusat LIPI Jakarta, Jl. Gatot Subroto 10, Jakarta. Secara khusus, kami mengundang rekan pers untuk hadir dalam pembukaan ajang tersebut pada Selasa, 25 Agustus 2015 pada pukul 09.00 WIB di Auditorium Utama LIPI Jakarta.
For more information, please contact:
Indriyani,
Organizing Commitee Youth Science Competition (LKIR) and National Youth International Awards (NYIA)
Grenti Paramitha,
Newton Fund Programme Manager
Fibria Heliani, Internal/External Communications Manager, British Council
Published in Viva (25 August 2015)
Indonesia diketahui minim atas peneliti mudanya. Hal tersebut berdampak akan putusnya regenerasi penelitian untuk meningkatkan daya saing bangsa dengan negara lainnya.
Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berusaha membidik generasi muda dan meningkatkan kualitasnya. Dengan menggandeng organisasi internasional, British Council, LIPI membuat program Newton Found melalui gelaran kompetisi ilmiah bergengsi bertajuk Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 dan National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8 pada 25-28 Agustus 2015.
“Perkembangan pengetahuan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek,” kata Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 25 Agustus 2015.
Iskandar melanjutkan peneliti berkualitas itu dilakukan sejak dini. Maka dari itu, penanaman budaya meneliti sedari awal merupakan upaya LIPI untuk senantiasa meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.
Menurut Iskandar, Indonesia memiliki kelangkaan pada kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk berakselerasi mengembangkan iptek. Diharapakan dengan adanya kompetisi ilmiah ini, agar bisa menemukan calon inventor muda untuk memenuhi kelangkaan kapasitas SDM tersebut.
“Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan kompetisi ilmiah seperti LKIR dan NYIA ini, dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi peneliti yang handal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa,” katanya.
Dijelaskan, kedua kompetisi ilmiah ini menjadi sarana dalam menemukan penemu muda berbakat, sehingga kemudian dapat dikompetisikan dalam ajang yang lebih tinggi lagi seperti International Exibition for Young Inventors (IEYI).
“Generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” tutur Iskandar.
Senada dengan hal tersebut, Direktur British Council Indonesia, Sally Goggin, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan budaya riset ilmiah di karangan generasi muda Indonesia.
“Kemitraan dengan LIPI adalah wujud nyata dukungan tersebut dan salah satu tujuan Newton Fund adalah mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara-negara lainnya, terutama dari Inggris,” kata Goggin.
Minat naik
Sementara itu, Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR mengungkapkan, pelaksanaan LKIR dan NYIA kali ini diharapkan memberikan motivasi lebih bagi generasi muda Indonesia lainnya agar tahun depan semakin banyak lagi yang mengikuti kompetisi tersebut.
“Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta sudah naik lebih kurang 30 persen ketimbang tahun lalu. Tahun lalu, jumlah proposal hanya 1.431 buah dan kini menjadi 2.041 buah,” kata dia.
Handoko melihat, kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Dia menjelaskan, LKIR sebenarnya telah digelar sejak 1969, telah menjadi kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun.
Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dikatakannya, pelaksanaan LKIR kali ini melombakan empat bidang penelitian, yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Dan, satu bidang terpisah lainnya adalah LKIR bidang Kependudukan.
Published in
Okezone (25 August 2015)
Masih belia, meneliti dan menghasilkan karya inovatif bermanfaat. Keren kan?
Inilah yang dilakukan peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 dan National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8 tahun ini. Kedua kompetisi tersebut menantang kemampuan peneliti muda Indonesia untuk menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan British Council melalui program Newton Fund itu digelar pada 25-28 Agustus.
Kepala LIPI Prof Iskandar Zulkarnain menjelaskan, kompetisi riset tahunan ini dimaksudkan untuk menanamkan budaya meneliti sejak dini. Dengan begitu, kualitas para peneliti muda pun akan meningkat.
"Perkembangan pengetahuan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek," kata Iskandar, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada Okezone, Selasa (25/8/2015).
Tahun ini, kata Ketua Dewan Juri LKIR Dr. Laksana Tri Handoko, ada peningkatan jumlah peserta. Tahun lalu hanya 1.431 proposal yang masuk pada LKIR. Sedangkan tahun ini, dewan juri menerima 2.041 proposal, atau naik sekira 30 persen.
"Kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja," imbuh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI tersebut.
Handoko memaparkan, LKIR kali ini melombakan empat bidang penelitian, yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Dan, satu bidang terpisah lainnya adalah LKIR bidang Kependudukan.
Tidak asal meneliti, peserta LKIR dan NYIA yang lulus seleksi mendapat bimbingan dari para peneliti LIPI. Mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan serupa di tingkat dunia seperti International Exibition for Young Inventors (IEYI).
Sementara itu, DIrektur British Council Indonesia Sally Goggin menyatakan, lembaganya turut mendukung pengembangan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda Indonesia. "Kemitraan dengan LIPI adalah wujud nyata dukungan tersebut dan salah satu tujuan Newton Fund adalah mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara-negara lainnya, terutama dari Inggris," tutur Sally.
Gelaran kompetisi ilmiah LIPI 2015 juga diisi berbagai pelatihan menarik yaitu Workshop Fastering STEM through Teacher’s Role, Workshop Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi siswa se-Jabodetabek, Workshop The Importance of Intellectual Property Right (IPR) dan Workshop Effective Communication for Young Scientists in an International Context. LIPI juga menggelar Lomba Menggambar "Science for Future", Science Show, Story Telling, dan Stone Painting. (rfa)
Published in
Okezone (25 August 2015)
Belakangan ini tren meneliti di kalangan anak muda kian marak. Salah satu penyebabnya, makin banyak kompetisi riset bagi mereka.
Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), misalnya. Sejak digelar pertama kali pada 1969 silam, kegiatan besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu makin diminati. Buktinya, proposal penelitian yang masuk ke panitia juga semakin banyak meski dari segi kualitas masih harus diuji.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko menilai, meningkatnya tren meneliti di kalangan anak muda itu bisa jadi karena penerapan Kurikulum 2013. "Sebab, kurikulum ini mengintegrasikan sains dan mengajarkan siswa untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut," kata Handoko di LIPI, Jakarta, Selasa (25/8/2015).
Penyebab lainnya, imbuh Handoko, paparan media massa yang menampilkan banyak penelitian hasil karya anak bangsa. "Dari inovasi tersebut, banyak dari peneliti muda itu pergi ke berbagai negara. Minat meneliti pun jadi bertambah," tuturnya.
Sementara itu, Kepala LIPI Prof Iskandar Zulkarnain, menekankan pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sebab, iptek menjadi dasar lahirnya inovasi yang kemudian dapat mendorong kemandirian bangsa.
"Terlebih lagi, sebentar lagi kita akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sehingga perlu terus memajukan iptek serta kualitas sumber daya manusia (SDM). Indonesia perlu generasi yang mencintai bangsanya," ujar Iskandar.
LKIR sendiri bertujuan menanamkan kecintaan akan riset sejak dini. Tidak hanya itu, kata Iskandar, para pesertanya pun akan dibimbing langsung oleh peneliti-peneliti ahli LIPI.
"Meskipun nantinya para finalis tidak semua menjadi ilmuwan, bimbingan yang didapatkan bisa membentuk pola pikir mereka dalam menjalani kehidupan di masyarakat," tambahnya. (rfa)
Published in
Sindo Trijaya (25 August 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan British Council melalui program Newton Fund membidik peningkatan kualitas para peneliti muda lewat gelaran kompetisi ilmiah bergengsi bertajuk Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 dan National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8 pada 25-28 Agustus 2015.
“Perkembangan pengetahuan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek,” kata Kepala LIPI, Prof. Iskandar Zulkarnain dalam acara pembukaan LKIR ke-47 dan NYIA ke-8 tahun 2015 di Kantor Pusat LIPI Jakarta, Selasa (25/8/2015).
Iskandar menambahkan bahwa penanaman budaya meneliti sejak dini merupakan upaya LIPI untuk senantiasa meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. “Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan kompetisi ilmiah seperti LKIR dan NYIA ini, dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi peneliti yang handal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa,” katanya.
Kedua kompetisi ilmiah tersebut, kata Iskandar, merupakan sarana untuk menemukan penemu muda yang berbakat sehingga kemudian dapat dikompetisikan dalam ajang yang lebih tinggi lagi seperti International Exibition for Young Inventors (IEYI).
“Generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” tuturnya.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki kelangkaan pada kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk berakselerasi mengembangkan iptek. “Kompetisi ilmiah sangat penting diselenggarakan agar bisa menemukan calon inventor muda untuk memenuhi kelangkaan kapasitas SDM tersebut,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, DIrektur British Council Indonesia menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan budaya riset ilmiah di karangan generasi muda Indonesia.
“Kemitraan dengan LIPI adalah wujud nyata dukungan tersebut dan salah satu tujuan Newton Fund adalah mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara-negara lainnya, terutama dari Inggris,” kata Sally Goggin.
Sally Goggin menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya mendorong para ilmuwan muda berprestasi asal Indonesia untuk berkompetisi dalam jenjang yang lebih tinggi lagi pada skala internasional.
“Hal tersebut sejalan dengan semangat British Council untuk memberikan kesempatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat internasional,” katanya.
Sementara itu, Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR mengungkapkan, pelaksanaan LKIR dan NYIA kali ini diharapkan memberikan motivasi lebih bagi generasi muda Indonesia lainnya agar tahun depan semakin banyak lagi yang mengikuti kompetisi tersebut.
“Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta sudah naik lebih kurang 30 persen ketimbang tahun lalu. Tahun lalu, jumlah proposal hanya 1.431 buah dan kini menjadi 2.041 buah,” jelasnya.
Handoko melihat, kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Dirinya pun menjelaskan, LKIR sendiri sebenarnya telah digelar sejak 1969 silam yang merupakanajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dikatakannya, pelaksanaan LKIR kali ini melombakan empat bidang penelitian, yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Dan, satu bidang terpisah lainnya adalah LKIR bidang Kependudukan. Informasi lebih lengkap tentang LKIR Ke-47 maupun NYIA Ke-8 dapat dilihat di http://kompetisi.lipi.go.id/lkir47/.
Kepala Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menambahkan, LKIR dan juga NYIA memberikan kesempatan bagi pelajar untuk memahami sains dan melihat peluang karir dibidang sains bagi masa depan mereka.
“LIPI memberikan dukungan penuh kepada pelajar untuk mengembangkan proposal penelitian dan berdiskusi dengan peneliti yang ahli di bidang tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu selain menggelar LKIR dan NYIA, ajang kompetisi ilmiah LIPI tahun ini dimeriahkan pula dengan berbagai kegiatan. Di antaranya, Workshop Fastering STEM through Teacher’s Role, Workshop Penyusunan Karya Tulis Ilmiah bagi siswa se-Jabodetabek, Workshop The Importance of Intellectual Property Right (IPR), Workshop Effective Communication for Young Scientists in an International Context, Lomba Menggambar “Science for Future”, Science Show, Story Telling, dan Stone Painting.
Published in
Tempo (20 August 2015)
Program lomba karya sains nasional bagi siswa/siswi tingkat sekolah dasar di Indonesia, Kalbe Junior Scientist Award (KJSA), memasuki penjurian 18 besar di Hotel Century, Jakarta, 12 Agustus 2015. Ajang yang melombakan bidang karya IPA Terpadu, teknologi terapan, dan matematika ini menjadi satu-satunya yang eksis di Indonesia untuk level sekolah dasar. Program KJSA yang dimotori oleh PT Kalbe Farma Tbk. berawal pada 2011 lalu dan diselenggarakan setiap tahun.
“Kalbe secara konsisten menggelar Kalbe Junior Scientist Award sebagai salah satu bentuk kontribusi Kalbe dalam membangun kecintaan akan sains di kalangan anak-anak Indonesia,” kata Herda Pradsmadji, Head of Corporate Communications and CSR PT Kalbe Farma Tbk. ”Kami juga bekerjasama dengan Kementerian Ristek dan Dikti untuk mendorong pengembangan sains dan terapannya di tingkat yang lebih tinggi lewat Ristek Kalbe Scientist Award (RKSA),” lanjut Herda.
“Pada 2015 ini terkumpul 811 karya sains oleh 724 siswa dari 237 sekolah di Indonesia. Yang menarik, KJSA 2015 ini ada peserta yang berasal dari Mesir,” tutur Arief Nugroho, Ketua Panitia KJSA 2015. “Ajang ini untuk menumbuh kembangkan kreativitas anak-anak di Indonesia,” lanjut Arief.
Untuk mendapatkan penilaian yang fair, KJSA 2015 mengandalkan juri dengan berbagai latar belakang pendidikan yang kompeten dalam bidang sains. Total ada lima juri dengan Dr. L.T. Handoko, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI sebagai ketua. Empat juri lainnya adalah Prof. Ir.Nizam M.Sc.,D.I.C., Ph.D (Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, MA Pakar Psikologi Pendidikan & Sekolah/Dekan Psikologi Universitas Indonesia), Dr. Nurul Taufiqu Rohman, B.Eng, M.Eng (Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia LIPI), dan Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si (Matematikawan).
“Nilai utama dalam penjurian adalah kreativitas,” jelas Dr. L.T. Handoko. 18 besar yang terpilih akan diundang untuk presentasi karyanya di Jakarta untuk kemudian dipilih 9 terbaik yang akan berhak mendapatkan hadiah uang pembinaan dari Kalbe.
Kedelapanbelas finalis KJSA tersebut adalah (1) Daeren Sakti Hermanu dari Semarang, (2) Saffana Rizqi Qinthara dari Pontianak, (3) Aisha Tasya Aulia & Davina Fairuzya dari Jakarta, (4) Rafi Yudha Hidayat dari Semarang, (5) Alexander Fleming Setiadi dari Bandung, (6) Sandy Agre Nicola dari Medan, (7) Nurul Khorina Ilmi & Diva Tsabita Shabrina Aziz dari Gresik, (8) Bryan Tanamas & Fairuz Zabadi Asyrofany dari Semarang, (9) Raisa Zahra & Salsabila Alyani Tazahra dari Bogor, (10) Farah Dennisa Imarini & Aurora Btari Maharani P.S. dari Mojokerto, (11) Celine Lityo & Jessica Putri Japutra dari Jakarta, (12) Sharon Harjo Utomo dari Solo, (13) Sabily Agha & Haliza Zia UI Haq dari Gresik, (14) Nabil Ibadurrahman Ervatra & Muhammad Ali Zainal Abidin dari Jakarta, (15) Edward Pandji dari Surabaya, (16) Firda Nabilah Az Zuhrah dari Bogor, (17) Dinar Wibisono & Fajar Kurniawan dari Gresik, (18) Devita Mayanda Heerlie dari Pontianak.
Karya-karya sains hasil anak-anak kreatif ini antara lain Alarm Marka dan Pembatas Rambu Lantas Otomatis, Alat Pendeteksi Dini Asap Kebakaran Lahan dan Hutan, Hand Sanitizer Alami dari Kulit Durian, Matematika Nusantara (Menjelajahi Indonesia Berbekal Matematika), Peringatan Dini Gas Habis, Tongkat Tuna Netra, Mesin Box Pencuci Telur Semi Otomatis, hingga Cara Sederhana Menentukan Jalan Berlubang yang Perlu Ditambal.
Published in
LIPI (Humas, 26 August 2015)
Penanaman budaya meneliti bagi generasi muda menjadi fokus Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bersama dengan British Council melalui program Newton Fund, LIPI melakukan pembimbingan bakat peneliti muda. Kepala LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui iptek. “Generasi muda adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk positioning Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi,” ujarnya dalam acara pembukaan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 dan National Young Inventor Award (NYIA) ke-8 tahun 2015 di Auditorium LIPI Jakarta, Selasa (25/8).
Senior Relationship Manager and East Asia Regional Evaluation, Yanti Amran mewakili Director British Council Indonesia menyampaikan apresiasinya atas antusias generasi muda terhadap dunia penelitian. “Buah pemikiran anak-anak muda pada forum ini akan berkontribusi besar di masa depan, baik di sektor riil maupun perkembangan perindustrian,” jelasnya. Yanti juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara terpenting di dunia bagi Inggris. “Kami memandang kolaborasi ini sangat tepat, terutama dalam membina bakat-bakat muda di bidang ilmu pengetahuan untuk memecahkan permasalahan global,” sambungnya.
Sementara itu, Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono mengungkapkan terdapat kenaikan jumlah proposal dalam penyelenggaraan LKIR tahun ini. “Khusus LKIR, jumlah proposal karya ilmiah yang diajukan peserta naik sekitar 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu, dari 1.700an menjadi 2.041 proposal,” jelasnya. Ia melihat tren positif dalam perkembangan minat penelitian di kalangan remaja.
Pada penyelenggaraan LKIR tahun ini, karya para peserta dibagi ke dalam 4 kategori yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati, Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim, serta Ilmu Pengetahuan Teknik. “Dari semua proposal yang diajukan, LIPI menjaring 53 karya hasil mentoring dan evaluasi pakar LIPI,” imbuh Siti. Sedangkan untuk NYIA, telah terseleksi 30 karya dari 389 usulan siswa-siswi dari seluruh Indonesia.
Terkait dengan hasil karya ilmiah dan invensi para remaja, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko yang menjadi Ketua Dewan Juri LKIR menegaskan bahwa pada dasarnya mereka tidak diarahkan untuk penelitian aplikatif langsung. “Tujuan awal dari kompetisi ilmiah ini adalah mengembangkan rasa ingin tahu dan mencari solusi scientific terhadap permasalahan sehari-hari,” ujarnya. Menurut Handoko, adapun ketertarikan dari industri nantinya yang kemudian berujung pada paten dan royalti adalah bonus.
Sebagai bentuk apresiasi dan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual para remaja tersebut, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries. S, M.A mengatakan bahwa LIPI telah bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM. “Potensi paten terhadap invensi generasi muda ini juga akan dibimbing oleh Pusat Inovasi LIPI,” pungkasnya. (msa/ed: isr)
Published in PP Iptek (19 August 2015)
Sebagai wahana belajar iptek yang menghibur, Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) selalu berpartisipasi dalam ajang-ajang bergengsi dalam mensosialisasikan pembelajaran iptek melalui alat peragaan program sains yang bermanfaat dan menghibur bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ajang Kalbe Junior Science Awards (KJSA) adalah salah satu sasaran PP-IPTEK yang diselenggarakan oleh PT. Kalbe Farma dalam memajukan pendidikan anak-anak indonesia dengan memberikan nilai edukasi sains di dalamnya. KJSA merupakan program penghargaan kepada karya sains terbaik di Indonesia untuk tingkat sekolah dasar. Bidang karya yang dilombakan adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu, Teknologi Terapan, dan Matematika.
Tahun ini KJSA diselenggarakan di PP-IPTEK TMII pada tanggal 7-10 September 2015. KJSA 2015 mengusung tema “Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”. Kriteria pemenang ditentukan berdasarkan ide dan latar belakang pembuatan karya sains, serta kreativitas pembuatan karya sains.
Pada penyelenggaraan tahun ini, KJSA melibatkan lima juri, yakni Prof. Ir. Nizam M.Sc,DIC, Ph.D, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI; Dr. L.T. Handoko, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI; Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, MA, pakar Psikologi Pendidikan & Sekolah, Dekan Psikologi UI; Dr. Nurul Taufiqu Rohman, B.Eng, M.Eng, Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia LIPI; dan Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si, matematikawan.
Selama kegiatan KJSA, penyelenggara juga mengadakan sosialisasi kegiatan, edukasi mengenai sains kepada anak-anak, pelatihan guru sains sekolah dasar, dan berbagai aktivitas lainnya. Selain itu, juga menerbitkan majalah sains anak dengan nama “AHA! Aku Tahu”, sebagai bagian dari edukasi sains kepada anak-anak tingkat sekolah dasar. Hasil karya pemenang KJSA akan diserahkan kepada PP-IPTEK TMII di bawah Kemenristek Dikti.
Hasil karya tersebut dipamerkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan sharing bagi siswa-siswi lainnya di Indonesia. Tak hanya itu, Kalbe juga mendorong pihak-pihak terkait, baik pemerintah maupun swasta untuk ikut berkontribusi bagi pengembangan anak-anak peserta KJSA dan anak-anak Indonesia lainnya.
Pada penutupan acara tanggal 10 September 2015, akan ada kegiatan Sanggar Kerja Sains dari PP-IPTEK yang diikuti 300 siswa. Nantikan acara puncaknya ya.. - See more at: http://ppiptek.ristek.go.id/newsdetail/berita-6/55/ajang-kjsa-2015-diadakan-di-pp-iptek#sthash.bBzfd1BN.dpuf
Published in
Bisnis Indonesia (Yulianisa Sulistyoningrum, 19 August 2015)
Perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) mengumumkan 18 finalis Kalbe Junior Scientist Award (KJSA), lomba sains nasional tingkat sekolah dasar 2015. Seleksi yang dilakukan dewan juri terdiri dari pakar pendidikan dan penelitian memutuskan 18 finalis dari total 811 peserta dinyatakan lulus berdasarkan kriteria ide dan kreatifitas.
"Kalbe secara konsisten menggelar Kalbe Junior Scientist Award sebagai salah satu bentuk kontribusi Kalbe dalam membangun kecintaan akan sains di kalangan anak-anak Indonesia,” kata Kepala Komunikasi Perusahaan PT Kalbe Farma Tbk Herda Pradsmadji, Jakarta, Rabu (19/8/2015).
Kalbe juga bekerja sama dengan Kementerian Ristek dan Dikti untuk mendorong pengembangan sains dan terapannya di tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkat akademisi dan peneliti lewat program Ristek Kalbe Scientist Award (RKSA).
Kreativitas siswa-siswa SD 18 finalis ini telah menghasilkan karya-karya sains yang menarik diantaranya Alarm Marka dan Pembatas Rambu Lantas Otomatis, Alat Pendeteksi Dini Asap Kebakaran Lahan dan Hutan, Hand Sanitizer Alami dari Kulit Durian, Matematika Nusantara, Peringatan Dini Gas Habis, hingga Tongkat Tuna Netra.
“Dalam iklim informasi yang terbuka sekarang, anak-anak dengan mudah mencari referensi mengenai sains, namun uniknya kompetisi ini, yang kami nilai adalah ide dan originalitas karya sains anak-anak dalam memecahkan problem yang mereka hadapi sehari-hari dengan pendekatan sains,’’ ujar Ketua Juri KJSA 2015 LT Handoko.
Published in Kalbe (13 August 2015)
PT Kalbe Farma Tbk. (Kalbe) hari ini mengumumkan 18 finalis Kalbe Junior Scientist Award (KJSA), lomba sains nasional tingkat sekolah dasar tahun 2015. Seleksi yang dilakukan dewan juri yang terdiri dari pakar pendidikan dan penelitian ini memutuskan 18 finalis dari total 811 peserta yang berasal dari 237 sekolah di 22 propinsi di Indonesia. Penilaian dilakukan berdasarkan kriteria ide dan kreatifitas karya sains dalam memecahkan problem yang dihadapi anak-anak di lingkungan mereka sendiri. Delapan belas finalis lomba sains KJSA yang telah dilaksanakan untuk kelima kalinya ini berasal dari 10 kota di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, Bogor, Gresik, Mojokerto, Medan dan Pontianak.
”Kalbe secara konsisten menggelar Kalbe Junior Scientist Award sebagai salah satu bentuk kontribusi Kalbe dalam membangun kecintaan akan sains di kalangan anak-anak Indonesia,” kata Herda Pradsmadji, Head of Corporate Communications and CSR, PT Kalbe Farma Tbk. ”Kami juga bekerjasama dengan Kementerian Ristek dan Dikti untuk mendorong pengembangan sains dan terapannya di tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat akademisi dan peneliti lewat program yang berbeda, yaitu Ristek Kalbe Scientist Award (RKSA),” kata Herda.
Kedelapanbelas finalis KJSA tersebut adalah (1) Daeren Sakti Hermanu dari Semarang, (2) Saffana Rizqi Qinthara dari Pontianak, (3) Aisha Tasya Aulia & Davina Fairuzya dari Jakarta, (4) Rafi Yudha Hidayat dari Semarang, (5) Alexander Fleming Setiadi dari Bandung, (6) Sandy Agre Nicola dari Medan, (7) Nurul Khorina Ilmi & Diva Tsabita Shabrina Aziz dari Gresik, (8) Bryan Tanamas & Fairuz Zabadi Asyrofany dari Semarang, (9) Raisa Zahra & Salsabila Alyani Tazahra dari Bogor, (10) Farah Dennisa Imarini & Aurora Btari Maharani P.S. dari Mojokerto, (11) Celine Lityo & Jessica Putri Japutra dari Jakarta, (12) Sharon Harjo Utomo dari Solo, (13) Sabily Agha & Haliza Zia UI Haq dari Gresik, (14) Nabil Ibadurrahman Ervatra & Muhammad Ali Zainal Abidin dari Jakarta, (15) Edward Pandji dari Surabaya, (16) Firda Nabilah Az Zuhrah dari Bogor, (17) Dinar Wibisono & Fajar Kurniawan dari Gresik, (18) Devita Mayanda Heerlie dari Pontianak.
Kreatifitas siswa-siswa SD 18 finalis ini telah menghasilkan karya-karya sains yang menarik, antara lain: Alarm Marka dan Pembatas Rambu Lantas Otomatis, Alat Pendeteksi Dini Asap Kebakaran Lahan dan Hutan, Hand Sanitizer Alami dari Kulit Durian), Matematika Nusantara (Menjelajahi Indonesia Berbekal Matematika), Peringatan Dini Gas Habis, Tongkat Tuna Netra, Mesin Box Pencuci Telur Semi Otomatis, Cara Sederhana Menentukan Jalan Berlubang yang Perlu Ditambal, dan lain-lain.
“Animo peserta lomba sains tahun ini tetap tinggi. Dibanding KJSA tahun lalu, jumlah peserta meningkat dari 718 peserta menjadi 811 peserta di tahun 2015,“ ujar Arief Nugroho selaku Ketua Panitia Kalbe Junior Scientist Award 2015. “Kami berharap hasil karya peserta KJSA ini menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia yang lain untuk mampu berpikir kreatif dan mampu menerapkan sains dalam memecahkan persoalan mereka sehari-hari,” kata Arief.
Kalbe Junior Scientist Awards merupakan kompetisi sains untuk siswa sekolah dasar di Indonesia khususnya kelas 4-6 yang digelar setiap tahun sejak 2011 dan tahun ini memasuki tahun ke-5. Kategori karya sains yang dilombakan berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam, teknologi terapan sederhana atau matematika.
“Dalam iklim informasi yang terbuka sekarang, anak-anak dengan mudah mencari referensi mengenai sains, namun uniknya pada kompetisi ini, yang kami nilai adalah ide dan orisinalitas karya sains anak-anak dalam memecahkan problem yang mereka hadapi sehari-hari dengan pendekatan sains,“ ujar LT Handoko, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, sebagai Ketua Juri KJSA 2015. “Peran guru dan pendamping menjadi fasilitator saja dalam pembuatan karya sains anak-anak ini,” lanjut Handoko.
Anggota dewan juri dalam kompetisi sains ini adalah dari Prof. Ir.Nizam MSc.,D.I.C., PhD (Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, MA (Pakar Psikologi Pendidikan & Sekolah, Dekan Psikologi Universitas Indonesia), Dr. Nurul Taufiqu Rohman, B.Eng, M.Eng (Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia, LIPI) dan Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si (Matematikawan, Pendiri Klinik Pendidikan MIPA).
Delapan belas finalis ini nantinya akan melakukan presentasi karya sainsnya di depan dewan juri pada bulan September 2015 yang akan datang. Selain itu mereka akan diberi kesempatan berdiskusi dengan tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia.
Published in
LIPI (31 July 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) didukung oleh British Council Indonesia melalui Newton Fund terus mendukung pengembangan generasi muda Indonesia untuk kemajuan bangsa. Salah satunya dengan membina para ilmuwan muda Indonesia melalui kegiatan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-47 Tahun 2015 yang akan digelar pada Agustus mendatang.
“Penyelenggaraan LKIR setiap tahunnya selalu menyajikan hal menarik, bahkan ide yang diajukan oleh para remaja/ilmuwan muda ini belum terpikirkan oleh peneliti sendiri. Kemampuan mereka harus diasah dan dibina lagi,” ujar Sekretaris Utama LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono di sela-sela konferensi pers LKIR membudayakan “Penelitian Remaja untuk Masa Depan Riset Indonesia” yang digelar di Media Center LIPI Jakarta, Kamis (30/7).
Lili, sapaan akrab Siti Nuramaliati Prijono, melihat banyak ide-ide segar muncul dalam proposal riset para peserta LKIR tahun ini. “Sayangnya, untuk penelitian kelautan tahun ini masih sangat sedikit, padahal Indonesia merupakan negara maritim” tutur Lili. Hal ini mungkin dikarenakan maritim merupakan kategori yang baru ada tahun ini, lanjut Lili.
Adapun hasil penelitian para peneliti muda nantinya akan dibagi ke dalam beberapa kategori, seperti bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK), dan Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM).
Sementara itu, Ketua Dewan Juri LKIR, Dr. Laksana Tri Handoko menambahkan bahwa ide yang diajukan para peneliti muda semakin inovatif ketimbang tahun sebelumnya. “Dari tahun ke tahun terlihat semakin advance, karena selalu membawa hal-hal baru dan berbeda,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI ini, yang juga merupakan alumni LKIR tahun 1985.
Terkait kerja sama dengan LIPI, Director of Education and Society British Council Indonesia, Teresa Bircks mengatakan bahwa riset dan kolaborasi sangat penting. “Satu negara tentu tidak akan mampu untuk menyelesaikan sendiri setiap permasalahan yang terjadi, untuk itu kami sangat fokus untuk melakukan pengembangan penelitian,” ungkapnya.
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menyampaikan apresiasinya kepada British Council. “Ke depannya, British Council juga akan membantu peneliti Indonesia tidak hanya dalam bidang penelitian, tetapi juga bagaimana mempublikasi tulisan ilmiah dalam jurnal internasional,” tutupnya. (msa/ed: pwd)
Published in
P2 Informatika LIPI (Didi Rosiyadi, 6 August 2015)
Dalam lawatannya ke Taiwan, Dr. L.T. Handoko mengunjungi National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), di Kota Taipei. Dr. L.T. Handoko didampingi oleh para staf peneliti LIPI yang sedang menimba ilmu di Taiwan yaitu Briliant Adhi Prabowo (Peneliti P2I), Widhya Budiawan dan Erry Dwi Kurniawan (Para peneliti P2ET).
Di NTUST atau yang lebih dikenal di Taiwan dengan nama Taiwan Tech ini, Dr. L.T. Handoko berkunjung ke Department of Computer Science and Information Engineering, Department of Electronic and Computer Engineering, Department of Electrical Engineering dan Center for Internet of Things Innovation (CITI).
Pada Department of Computer Science and Information Engineering, Dr. L.T. Handoko disambut oleh Dr. Tai-Lin Chin, Associate Professor dan Dr. Didi Rosiyadi, postdoctoral researcher (Peneliti P2I). Chairman of CSIE Department yaitu Dr. Shi-Jinn Horng yang pernah menjadi Keynote speaker pada IC3INA 2014 tidak dapat hadir dikarenakan sedang ada kunjungan kerja ke Jepang. Dr. Tai-Lin Chin, menjelaskan sekilas tentang CSIE Department meliputi, tenaga akademisi, mahasiswa, laboratorium, kegiatan dan fasilitas penelitian, kerjasama dan Research Center. Yang cukup menarik diteruskan adanya Tour ke sebagian laboratorium. Ada beberapa hasil penelitian mahasiswa yang didemontrasikan, diantaranya adalah MapXplore application yang mendapatkan juara 1 pada Intelligent Electronics System Design Contest 2014 yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan Taiwan, yang sangat mengesankan bahwa yang menjadi penggerak dari penelitian ini adalah Mahasiswa S3 dari Indonesia, sangat membanggakan juga. Selain itu ada penelitain yang berkaitan dengan Computer Game Animation and Graphics, Image, Video Processing and Multimedia, and Information Security and Parallel Processing. Pada Departement EE & ECE, Dr. Ray-Guang Cheng, Professor pada departement ini dan Para Prosessor lainnya menyambut kami dan mereka memberikan penjelasan tentang Department EE & ECE. Yang dijelaskan semua kegiatan penelitian, fasilitas termasuk laboratorium. Laboratorium yang ada diantaranya adalah signal processing&communications, Microwave Electronics, Low Power System, dan lain-lain.
Kunjungan terakhir di NTUST adalah ke CITI. Citi adalah pusat penelitian lintas disiplin yang bertujuan untuk mengembangkan key enabling technology dalam memfasilitasi insfrastruktur internet of things dan untuk mewujudkan aplikasi cerdas dan innovatif untuk hidup yang berkelanjutan., Teknologi utama yang sedang dikembangkan adalah critical components of RFID, middleware, sensors, cloud computing, networking, communication, wireless technologies, sedangkan yang masih dalam tahap investigasi dan selanjutnya dapat dikembangkan adalah sejumlah skenario aplikasi dalam smart building, energy efficient building, healthcare, eldercare, intelligent living, and logistics and supply chain management. Kami juga diberikan penjelasan tentang kegiatan penelitian serta keliling untuk melihat sarana dan prasarana yang ada dalam pusat penelitian ini. CITI dipimpin oleh Dr. Syuo-Yan Chou, Professor pada departemnt of information management yang tahun lalu pernag melakukan kunjungan kerja ke kantor IPT LIPI Jakarta dan melakukan pertemuan informal dengan Dr. LT Handoko dan staff. Dr. Syuo-Yan Chou merupakan salah satu keynote speaker pada acara IC3INA 2015 ini.
Sebelum meninggalkan kampus NTUST, Dr. L.T Handoko berkenan untuk berbincang informal di Kantin Kampus dengan civitas LIPI yaitu Didi Rosiyadi dan Briliant Adhi Prabowo (Peneliti P2I), Widhya Budiawan dan Erry Dwi Kurniawan (Para peneliti P2ET) serta Irwan Purnama (UPT BPI). Dalam bincang santai ini, Dr. L.T. Handoko memberikan inspirasi dan wejangan untuk terus belajar dan berkarya walaupun sedang di negeri orang.
Setelah kunjungan Dr. L.T.Handoko ke NTUST ini maka kerjasama penelitian, penugasan civitas LIPI untuk melanjutkan studi, permohonan pakar suatu bidang penelitian dan kerjasama yang sifatnya jangka panjang dapat terbuka lebar untuk dilakukan secepatnya. OLehkarena ini Civitas LIPI dapat memanfaatkan kesempatan berharga ini.
Published in
Kompas (31 July 2015)
Sebanyak 60 proposal terpilih untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama British Council-Newton Fund.
Ketua Dewan Juri LKIR LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa 60 proposal terbimbing ini tersaring dari 2.041 proposal yang mendaftar LKIR pada tahun ini, baik individu maupun tim pelajar.
"Jadi, proposal karya ilmiah terbimbing itu benar-benar merupakan yang terpilih," katanya di Jakarta, Kamis (30/7/2015).
Antusiasme ini melonjak sekitar 30 persen dibanding 2014 di mana jumlah proposal yang masuk ke panitia berjumlah 1.431 buah. Ia melihat ini sebagai hal positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja.
Menurut dia, dari tahun ke tahun proposal karya ilmiah yang diajukan peserta remaja yang berusia antara 12 hingga 19 tahun ini semakin "advance". Anak-anak semakin memiliki kesempatan mudah memperoleh informasi, sehingga ide pun semakin banyak diperoleh.
"Mentor-mentor pun bahkan ada yang mengatakan ide-ide remaja ini bisa menjadi bahan penelitian pascasarjana. Advance yang dimaksud belum tentu sulit, tapi yang mereka ajukan kami lihat dari kebaruannya," ujar dia.
Ia mengatakan yang terseleksi memiliki tingkat orisinalitas tinggi, simpel, kreatif, dan inovatif.
Sekretaris Utama LIPI Siti Nuramaliati Prijono mengatakan beberapa ide yang dituangkan dalam proposal untuk bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) cukup bagus. "Bahkan peneliti LIPI belum pernah mengajukan ide semacam itu".
Namun hal yang disayangkan, menurut dia, minimnya proposal karya ilmiah kemaritiman yang diajukan di ajang LKIR ke-47 ini. "Hanya satu yang berbau laut. Ini jadi tantangan bagi LIPI juga untuk melakukan pembinaan di pesisir, bahwa banyak sumber daya yang luar biasa belum dikembangkan di sana, dan masyarakat harus tahu".
Sementara itu Director Education and Society British Council Indonesia Teresa Birks mengatakan, remaja sudah mulai melihat permasalahan di sekitarnya dan mereka mencari solusinya. "Hal yang terlihat mereka antusias melakukannya, dan itu positif".
Banyak masalah di dunia ini, seperti perubahan iklim, resistensi antibiotik, kebutuhan energi baru terbarukan, dan semua berkepentingan untuk mencari solusinya. Teresa mengatakan LKIR yang rutin diadakan LIPI ini menjadi salah satu upaya memunculkan peneliti-peneliti muda yang mampu ikut mencari solusi dari permasalahan dunia tersebut.
"Penelitian interdisiplinari perlu dilakukan. Banyak peneliti harus dimunculkan," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI Nur Tri Aries S mengatakan sejak 2004, LIPI selalu mengirimkan remaja pemenang LKIR ke ajang perlombaan sains internasional salah satunya ke Amerika Serikat.
Kali ini, pemenang LKIR ke-47 akan memperoleh kesempatan mengikuti Sains Summer Camp yang dilakukan di Inggris.
Published in
Republika (31 July 2015)
Sebanyak 60 proposal terpilih untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama British Council-Newton Fund. Ketua Dewan Juri LKIR LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan 60 proposal terbimbing ini tersaring dari sekitar 2.041 proposal yang mendaftar LKIR pada tahun ini, baik individu maupun tim pelajar.
"Jadi, proposal karya ilmiah terbimbing itu benar-benar merupakan yang terpilih," katanya, Kamis (30/7).
Antusiasme jumlah peserta yang mendaftarkan proposal risetnya tahun ini melonjak sekitar 30 persen dibanding 2014 di mana jumlah proposal yang masuk ke panitia hanya sejumlah 1.431 buah. Ia melihat kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Menurut dia, dari tahun ke tahun proposal karya ilmiah yang diajukan peserta remaja yang berusia antara 12 hingga 19 tahun ini semakin advance. Anak-anak semakin memiliki kesempatan mudah memperoleh informasi, sehingga ide pun semakin banyak diperoleh.
"Mentor-mentor pun bahkan ada yang mengatakan ide-ide remaja ini bisa menjadi bahan penelitian pascasarjana. Advance yang dimaksud belum tentu sulit, tapi yang mereka ajukan kami lihat dari kebaruannya," ujar dia.
Sekretaris Utama LIPI Siti Nuramaliati Prijono mengatakan beberapa ide yang dituangkan dalam proposal untuk bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) cukup bagus. "Bahkan peneliti LIPI belum pernah mengajukan ide semacam itu".
Namun hal yang disayangkan, menurut dia, minimnya proposal karya ilmiah kemaritiman yang diajukan di ajang LKIR ke-47 ini. "Hanya satu yang berbau laut. Ini jadi tantangan bagi LIPI juga untuk melakukan pembinaan di pesisir, bahwa banyak sumber daya yang luar biasa belum dikembangkan di sana, dan masyarakat harus tahu".
Director Education and Society British Council Indonesia Teresa Birks mengatakan sebagai bentuk kerja sama Indonesia Ingris yang salah satunya mendukung mengembangkan penelitian di Indonesia maka British Council mencoba mendukung kegiatan LKIR ke-47. Dalam kegiatan ini, ia mengatakan remaja sudah mulai diajarkan untuk melihat permasalahan di sekitarnya dan mereka mencari solusinya.
Banyak masalah di dunia ini, seperti perubahan iklim, resistensi antibiotik, kebutuhan energi baru terbarukan, dan semua berkepentingan untuk mencari solusinya. Teresa mengatakan LKIR yang rutin diadakan LIPI ini menjadi salah satu upaya memunculkan peneliti-peneliti muda yang mampu ikut mencari solusi dari permasalahan dunia tersebut.
Published in
Sinar Harapan (31 July 2015)
Sebanyak 60 proposal terpilih untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama British Council-Newton Fund. Puluhan proposal terbimbing baik dari individu maupun tim pelajar tersebut tersaring dari sekitar 2.041 proposal yang masuk ke LIPI tahun ini.
"Jadi, proposal karya ilmiah terbimbing itu benar-benar merupakan yang terpilih," kata Ketua Dewan Juri LKIR LIPI, Laksana Tri Handoko, di Jakarta, Kamis (30/7).
Di tengah ide-ide penelitian remaja yang dinilai “advance”, dewan juri menyayangkan minimnya proposal karya ilmiah kemaritiman yang diajukan di ajang LKIR ke-47 ini. "Hanya satu yang berbau laut. Ini jadi tantangan bagi LIPI juga untuk melakukan pembinaan di pesisir. Banyak sumber daya yang luar biasa belum dikembangkan di sana dan masyarakat harus tahu,” ujar Sekretaris Utama LIPI, Siti Nuramaliati Prijono.
“Advance”
Laksana mengungkapkan, jumlah peserta yang mendaftarkan proposal risetnya tahun ini melonjak sekitar 30 persen. Tahun sebelumnya, hanya ada 1.431 proposal yang masuk ke meja panitia. Peningkatan jumlah proposal ini menunjukkan minat penelitian di kalangan remaja memang naik.
Bukan cuma itu. Dari tahun ke tahun, proposal karya ilmiah yang diajukan peserta berusia 12-19 tahun ini semakin "advance".
Proposal yang terseleksi memiliki tingkat orisinalitas tinggi, simpel, kreatif, dan inovatif. "Mentor-mentor pun ada yang mengatakan ide-ide remaja ini bisa menjadi bahan penelitian pascasarjana. ‘Advance’ yang dimaksud belum tentu sulit, tapi yang mereka ajukan kami lihat dari kebaruannya," ujar Laksana.
“Bahkan, peneliti LIPI belum pernah mengajukan ide semacam itu,” Siti menambahkan.
Masalah Dunia
Director Education and Society British Council Indonesia, Teresa Birks mengatakan, keterlibatan pihaknya merupakan salah satu bentuk kerja sama Indonesia-Inggris. Dalam kegiatan ini, para remaja sudah mulai diajarkan untuk melihat permasalahan di sekitar dan mencari solusinya. "Hal yang terlihat mereka antusias melakukannya dan itu positif,” ucapnya.
Banyak masalah di dunia ini, seperti perubahan iklim, resistensi antibiotik, kebutuhan energi baru terbarukan, dan semua berkepentingan untuk mencari solusinya. Menurut Teresa, LKIR yang rutin diadakan LIPI ini menjadi salah satu upaya memunculkan peneliti-peneliti muda yang mampu ikut mencari solusi dari permasalahan dunia tersebut.
"Penelitian interdisiplinari perlu dilakukan. Banyak peneliti harus dimunculkan," ujar Teresa.
Kepala Biro Kerja Sama Hukum dan Humas LIPI Nur Tri Aries S mengatakan, sejak 2004, LIPI selalu mengirimkan remaja pemenang LKIR ke ajang perlombaan sains internasional, salah satunya ke Amerika Serikat. Pemenang LKIR ke-47 kali ini memperoleh kesempatan mengikuti Sains Summer Camp yang dilakukan di Inggris.
Published in Beritasatu (Ari Supriyanti Rikin, 30 July 2015)
Generasi muda diharapkan mengemari riset dan penelitian agar bisa kreatif, inovatif dalam memecahkan masalah untuk kemajuan bangsa. Untuk itulah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus konsisten menggelar Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). Bahkan Tahun 2015 merupakan kegiatan LKIR ke-47.
Tahun ini, pada LKRI ke-47 LIPI menggandeng British Council melalui Newton Fund Programme membina para pelajar atau ilmuwan muda Indonesia. Ketua Dewan Juri LKIR Laksana Tri Handoko mengatakan terdapat 60 proposal terbimbing telah tersaring dari sekitar 2.041 proposal yang mendaftar di LKIR tahun ini, baik individu maupun pelajar.
"Antusiasme jumlah peserta yang mendaftarkan proposal risetnya tahun ini melonjak sekitar 30 persen dibanding tahun lalu dimana jumlah proposal yang masuk ke panitia sejumlah 1.431 buah," katanya di Jakarta, Kamis (30/7).
Menurutnya sejak pertama kali digelar 1969, dari tahun ke tahun proposal yang masuk terus advance atau level kebaruannya terus meningkat. LKIR merupakan kompetisi yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan peserta dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta LKIR bisa dari siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun.
Sekretaris Utama LIPI Siti Nuramaliati Prijono mengungkapkan LKRI tahun 2015 melombakan empat bidang penelitian yakni ilmu pengetahuan hayati, ilmu pengetahuan teknik, ilmu pengetahuan kebumian dan maritim yang merupakan kategori baru serta ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan.
"Untuk bidang hayati ada 25 proposal dan maritim ada lima satu di antaranya tentang laut. Hal ini merupakan tantangan LIPI untuk membina anak-anak dan masyarakat di wilayah pesisir agar aware dengan sumber daya di sekelilingnya agar memahami isi laut untuk kesejahteraan bangsa," ujarnya.
Educatiob and Society Director British Council in Indonesia Teresa Birks memandang pemerintah Inggris berkomitmen mengembangkan penelitian dengan penyediaan dana untuk riset kepada 15 negara, Indonesia salah satunya.
Dana yang disiapkan untuk penelitian Indonesia sebesar 2 juta poundsterling. Dari jumlah itu British Council mengelola 900.000 poundsterling.
"Program kolaborasi ini untuk mendukung institusi penelitian Indonesia, universitas dan mendukung kapasitas penelitian Indonesia, publikasi dan sitasi internasional," katanya.
Published in
Republika (30 July 2015)
ebanyak 60 proposal riset terbimbing lolos dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tahun ini. Jumlah tersebut tersaring dari sekitar 2.041 proposal yang mendaftar, baik individu maupun tim pelajar, ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pihak penyelenggara.
"Jadi, proposal karya ilmiah terbimbing itu benar-benar merupakan yang terpilih," ujar Ketua Dewan Juri LKIR 2015 Laksana Tri Handoko, Kamis (30/7), dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika.
Menurut dia, antusiasme para remaja untuk mengikuti LKIR meningkat pada tahun ini. Hal itu tampak dari melonjaknya jumlah peserta sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu, ketika jumlah proposal yang masuk hanya 1.431 buah.
Handoko melihat, kenaikan jumlah proposal pendaftar LKIR merupakan kabar gembira bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Kompetisi ini, lanjut dia, sudah digelar sejak tahun 1969 dan pesertanya merupakan pelajar SMP dan SMA atau sederajat dengan rentang usia 12-19 tahun.
Ada empat bidang yang dilombakan, yakni Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM), dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK).
Ke-60 proposal riset terbimbing yang lolos selanjutnya masuk ke tahap review kemajuan proposal. Pada tahap ini, proses pembimbingan proposal akan dikaji sebagai bahan pertimbangan Dewan Juri. Sejumlah pakar keilmuwan akan melakukan review tersebut.
Senada dengan Handoko, Kepala LIPI Prof Iskandar Zulkarnain mengapresiasi rangkaian kegiatan LKIR ke-47 tahun 2015 yang berlangsung lancar dan memasuki tahap review para pakar.
"Kegiatan review ini merupakan salah satu bagian dari penyelenggaraan LKIR secara keseluruhan. Sedangkan, LKIR sendiri adalah salah satu kompetisi ilmiah LIPI yang berperan menumbuhkan budaya meneliti bagi para generasi muda," jelas Prof Iskandar Zulkarnain, Kamis (30/7).
Pada LKIR tahun ini, LIPI bekerja sama dengan British Council dan Newton Fund. Bersama kedua lembaga nirlaba tersebut, LIPI berkomitmen mengembangkan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda Tanah Air.
Published in
Detik (30 July 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan kegiatan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-47. Untuk merangsang minat para remaja, LIPI menggandeng British Council melalui The Newton Fund untuk membina ilmuan muda dalam mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan penelitian baru di Indonesia.
British Council adalah organisasi internasional asal Inggris yang menawarkan kesempatan pendidikan dan hubungan budaya.
"Anak-anak punya ide-ide yang bagus bahkan tidak terpikirkan oleh peneliti LIPI sendiri, itu yang menarik. Untuk itu LIPI bekerja sama dengan British Council khususnya Newton Fund nantinya akan membimbing mereka untuk mengasah lebih dalam karya ilmiah mereka," kata Ketua Dewan Juri LKIR LIPI Dr Laksana Tri Handoko, dalam jumpa pers di kantor LIPI Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (30/7/2015).
Menurut Handoko, kegiatan LKIR sudah ke-47 kali dilaksanakan. Dari tahun ke tahun peminatnya semakin meningkat.
Sementara peminat LKIR tahun ini lebih banyak dan aplikatif. Para peserta biasanya mengambil ide-ide atau gagasan penelitian yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
"Proposal yang masuk untuk LKIR banyak dan tapi yang sudah lolos seleksi ada 60 proposal. Ide-idenya banyak yang menarik, tinggal diasah lagi," jelasnya.
Dalam LKIR tahun ini, LIPI melombakan empat bidang penelitian yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPMK) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Pesertanya berasal dari SMP dan SMA dari seluruh Indonesia.
Kepala Humas LIPI Nur Tri menyebut sulitnya menumbuhkan minat remaja untuk penelitian di Indonesia. Remaja masih lebih tertarik bila ada kesempatan untuk bisa tampil di ajang internasional.
"Kita ingin memancing minat remaja untuk bisa ikut dalam sains. Apa selama ini sains kurang seksi ya jadi hanya dipandang sebelah mata? Untuk itu tahun ini kita bekerja sama dengan The Newton Fund agar mereka yang ikut LKIR bisa ikut tampil di ajang internasional," tambahnya.
Puncak LKIR yang diadakan LIPI yaitu Indonesian Sains Expo pada Kongres Ilmu Nasional Oktober mendatang. Para peserta yang lolos LKIR dan alumninya dapat mempublikasikan karya-karya penelitiannya.
"Selain itu juga ada LIPI Sains Young Award dan Art Sains dari Jepang. Bulan Oktober nanti menjadi promosi sains di Indonesia, yang selama ini masih dilirik sebelah mata dan mampu menumbuhkan minat remaja terhadap sains," ujar Tri.
Sementara perwakilan dari British Council Teresa Birks mengatakan, kerjasama dengan LIPI ini untuk mengembangkan peneliti muda yang mampu bersaing di masa depan.
"Newton Fund sendiri masih baru dibentuk 2 tahun yang lalu. Tujuan kerjasama dengan berbagai negara yakni untuk mengembangkan inovasi sains di masa depan," ujar Teresa yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Published in Siaran Pers LIPI (30 July 2015)
Jakarta, 30 Juli 2015. Kegiatan review kemajuan proposal terbimbing para siswa terpilih dalam LKIR kali ini bertujuan untuk mengkaji proses pembimbingan proposal terbimbing sebagai bahan pertimbangan dalam proses keberlanjutan pembimbingan dan penentuan finalis oleh Dewan Juri. Setidaknya ada 60 proposal terbimbing LKIR yang akan dibahas dan dievaluasi oleh para pakar terkait.
Dr. Laksana Tri Handoko, Ketua Dewan Juri LKIR LIPI mengungkapkan bahwa 60 proposal terbimbing ini tersaring dari sekitar 2.041 proposal yang mendaftar LKIR pada tahun ini, baik individu maupun tim pelajar. “Jadi, proposal karya ilmiah terbimbing itu benar-benar merupakan yang terpilih,” tukasnya. Di sisi lain, sambungnya, antusiasme jumlah peserta yang mendaftarkan proposal risetnya tahun ini melonjak sekitar 30 persen dibanding tahun lalu dimana jumlah proposal yang masuk ke panitia hanya sejumlah 1.431 buah.
Handoko melihat, kenaikan jumlah proposal pendaftar lomba ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan minat penelitian di kalangan remaja. Dirinya pun menjelaskan, LKIR sendiri sebenarnya telah digelar sejak 1969 silam yang merupakan ajang kompetisi ilmiah bagi siswa SMP dan SMA atau sederajat berusia 12-19 tahun. Kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dikatakannya, pelaksanaan LKIR kali ini melombakan empat bidang penelitian, yaitu Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian dan Maritim (IPKM) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Informasi lebih lengkap tentang LKIR Ke-47 dapat dilihat di http://kompetisi.lipi.go.id/lkir47/.
Sementara itu, Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain menyambut baik rangkaian kegiatan LKIR tahun ini yang berjalan lancar dan telah memasuki kegiatan review kemajuan proposal terbimbing. “Kegiatan review ini merupakan salah satu bagian dari penyelenggaraan LKIR secara keseluruhan. Sedangkan, LKIR sendiri adalah salah satu kompetisi ilmiah LIPI yang berperan menumbuhkan budaya meneliti bagi para generasi muda,” jelasnya. Review proposal ini perlu dilakukan agar karya ilmiah para pelajar yang terbimbing dalam LKIR bisa dilihat secara detil untuk dikembangkan lebih baik lagi dalam tahap selanjutnya, sambungnya.
Menurut Iskandar, langkah membangkitkan budaya meneliti harus dimulai dari pembinaan riset sedari dini dengan afiliasi melalui institusi penelitian seperti LIPI dan juga institusi pendidikan formal lainnya. Hal ini tentu bermuara pada tujuan akhir agar Indonesia menjadi negara maju di kancah dunia, tandasnya.
Country Director British Council Indonesia, Sally Goggin mengatakan bahwa pihaknya mendukung upaya dalam pengembangan budaya riset ilmiah di kalangan generasi muda Indonesia. “Kemitraan dengan LIPI adalah wujud nyata dukungan tersebut dan salah satu tujuan Newton Fund adalah mengupayakan jejaring ilmuwan muda Indonesia dengan negara-negara lainnya, terutama dari Inggris,” tuturnya.
Pihaknya, lanjut Sally, berusaha pula mendorong para ilmuwan muda berprestasi untuk berkompetisi dalam jenjang yang lebih tinggi lagi di aras internasional. “Mereka adalah generasi unggul yang ke depan menjadi penerus dan pemimpin bangsa, maka kita membantu membina mereka agar tumbuh dalam suasana kehidupan iptek yang baik,” katanya.
Nur Tri Aries S, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI menambahkan, LIPI sebagai lembaga penelitian yang juga memperhatikan perkembangan riset di kalangan remaja, berupaya membina karya inovasi para pelajar Indonesia melalui berbagai kompetisi ilmiah. “LKIR merupakan salah satu kompetisi untuk mencari bakat-bakat muda ilmuwan yang di masa depan bisa dikembangkan menjadi pemimpin yang menggunakan metodologi ilmiah bahkan peneliti yang handal dan mampu menjadi motor pembangunan bangsa,” tutupnya.
Tentang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
LIPI merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang memiliki visi untuk menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia. LIPI memiliki 1718 peneliti, 45 pusat penelitian dan unit pelaksana teknis, dan dua kapal penelitian Baruna Jaya VII dan VIII.
Dengan mendukung mendukung prioritas penelitian nasional, LIPI memiliki fokus penelitian terhadap ilmu teknik, pangan dan kesehatan, ilmu kebumian, keanekaragaman hayati dan lingkungan serta ilmu social dan humaniora. Semua penelitian yang dilakukan oleh para peneliti LIPI telah berkontribusi cukup signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dunia akademisi, sektor industri, instansi pemerintah dan komunitas ilmiah. Disamping melakukan aktivitas penelitian, LIPI juga melakukan pengembangan produk, otoritas rekomendasi dan pertimbangan ilmiah. Lebih lanjutnya, LIPI memperkuat masyarakat Indonesia melalui kegiatan promosi iptek dan pembinaan ilmiah masyarakat.
Mengenai informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: www.lipi.go.id
Tentang British Council
British Council merupakan organisasi internasional Inggris untuk kesempatan pendidikan dan hubungan budaya. Kami menciptakan peluang internasional untuk masyarakat Inggris dan negara-negara lainnya serta membangun kepercayaan di seluruh dunia. Kami bekerja di lebih dari 100 negara dan 8.000 karyawan kami – termasuk diantaranya 2.000 orang guru – bekerja dengan ribuan profesional, pembuat kebijakan dan jutaan anak muda melalui program pengajaran Bahasa Inggris, serta program seni, pendidikan dan kemasyarakatan.
Silahkan kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut :
www.britishcouncil.or.id atau dapatkan informasi terbaru tentang kami melalui http://twitter.com/idbritish dan https://id-id.facebook.com/BritishCouncilIndonesia.
Tentang Newton Fund
Newton Fund merupakan bagian dari bantuan pembangunan resmi Inggris yang bertujuan untuk mengembangkan kemitraan sains dan inovasi yang dapat meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Newton Fund menyediakan dana sebesar GBP375 juta (GBP75 juta per tahun selama lima tahun mulai dari 2014). Newton Fund mendorong kerjasama di bidang riset dan inovasi melalui kerjasama bilateral dan multilateral antara negara-negara mitra dengan Inggris. Hal ini akan mendukung keunggulan riset dan inovasi yang dimiliki Inggris serta dapat membuka peluang kolaborasi dan perdagangan antar negara.
Di lima tahun pertamanya, Newton Fund berjalan di 15 negara yaitu Indonesia, China, India, Brasil, Afrika Selatan, Kolombia, Chile, Turki, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Mesir dan Kazakhstan.
Bekerja sama dengan Higher Education International Unit dan bermitra dengan penyandang dana nasional, British Council Newton Fund di Indonesia menjalankan program Newton Fund Researcher Links, Newton Fund Institutional Links, Pengembangan dan Keterlibatan Profesional, Pendidikan Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika (STTM) serta Pelatihan teknis dan keterampilan sejak Oktober 2014. Untuk mendukung program tersebut, Newton Fund menyediakan dana awal sebesar GBP500 ribu untuk periode 2015/2016 yang diberikan kepada British Council untuk melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas. Melihat besarnya potensi para peneliti di Indonesia, dana tersebut ditambahkan hingga total GBP900 ribu untuk periode yang sama.
Published in Media Indonesia (Alfi Widoretno, 27 June 2015)
SEIRING dengan kemajuan teknologi informasi dan komputasi beberapa tahun terakhir memungkinkan kita memanfaatkan big data bagi peningkatan efisiensi dan pemenuhan kebutuhan informasi yang cepat, tetapi membutuhkan akses data yang besar.
"Saat ini, kita sedang berusaha merespon fenomena big data yang sudah menjadi bagian kehidupan kita, misalnya transaksi bisnis, transaksi keuangan, sarana telekomunikasi, video streaming, update iklim dan bencana, serta berbagai kumpulan informasi yang terkirim melalui jaringan internet," jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko saat ditemui pada acara seminar di Auditorium LIPI Jakarta, Rabu (10/6).
Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI Bogie Soedjatmiko menambahkan guna menghadapi tantangan itu, LIPI telah memiliki fasilitas high power computing (HPC), di Cibinong Science Center dan Kampus LIPI Bandung. HPC merupakan kumpulan dari server yang jadi satu kesatuan guna mengolah data dengan cepat.
"Misalnya terjadi gempa yang berpotensi tsunami, data tersebut bisa diolah hanya dalam waktu kurang dari 20 detik sudah bisa muncul pada running text Metro TV," ujar Bogie ketika menjelaskan manfaat dari HPC.
HPC LIPI bekerja sama dengan vendor Fujitsu, dengan menggunakan prosesor Intel Xeon E5-2609 Family, yang memiliki spesifikasi IOM cache. 2.40 GHz. 6.40 GT/s Intel QPI. Teknologi tersebut dilengkapi dengan storage yang mencapai total 40 TB. Server HPC terdiri dari 2 Master, 80 computing note, dan 16 computing note dengan GPGPU.
"HPC sudah beroperasi tahun lalu, sekarang masih proses migrasi data dari Singapura, diusahakan selesai akhir 2015," tambah Bogie.
Kinerja HPC juga sudah dimanfaatkan LIPI sebanyak 20 persen. Sementara itu, sisanya bisa dimanfaatkan untuk publik yang segmentasinya untuk para peneliti dan akademisi, baik dari dalam maupun luar negeri. Prosedur peminjamannya bisa diakses melalui laman resmi www.lipi.go.id.
Published in
LIPI (12 June 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian (Puslit) Informatika saat ini tengah mengembangkan fasilitas High Performance Computing (HPC) atau kerap disebut teknologi komputer dengan kapasitas kinerja tinggi dan penyimpanan yang besar.
Menurut System Mantainer LIPI Taufiq Wirahman, pengembangan teknologi komputer tersebut menyediakan kapasitas memori sebesar 265 gigabyte. Lalu, daya tampung atau kapasitas penyimpanan data mencapai 80 terabyte (TB).
“Kegunaan teknologi HPC untuk big data ini beragam, di antaranya untuk perekaman transaksi bisnis, catatan keuangan, telekomunikasi, video surveillance, iklim, kebencanaan, serta informasi lain yang ingin disampaikan lewat website,” jelas peneliti Puslit Informatika LIPI ini kepada media di sela-sela acara Workshop “Big Data dan Komputasi Kinerja Tinggi 2015”, Rabu (10/6) lalu.
Taufiq melanjutkan, fasilitas HPC LIPI ini terbuka untuk umum. Pihaknya membuka akses untuk kepentingan riset mahasiswa program magister dan doktor di bidang komputer dan fisika secara umum. Namun sampai saat ini, pengguna paling banyak masih dari internal LIPI.
Kepala Puslit Informatika LIPI Dr. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono menuturkan, fasilitas HPC LIPI sendiri dikembangkan untuk banyak kepentingan. “Intinya, penelitian yang butuh big data bisa menggunakan teknologi HPC ini,” tambahnya.
Dia menjelaskan, fasilitas HPC memang dibuat sejalan dengan dengan meningkatnya jumlah dan kompleksitas data, maka meningkat pula kebutuhan terhadap teknologi big data yang semakin efisien untuk menyimpan, memelihara, mengamankan, mengolah, menganalisa, dan menciptakan solusi-solusi cerdas.
Sementara terkait kegiatan workshop big data, Bogie menambahkan bahwa workshop tersebut bertujuan memberikan pengayaan tentang product knowledge yang berkaitan dengan big data, serta pengalaman-pengalaman best/bad practices yang berkaitan dengan pemanfaatan big data, baik dari sektor pemerintahan maupun swasta. Acara ini sendiri dibuka oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko. (pwd/ed: isr)
Published in
Republika (10 June 2015)
LIPI melalui Pusat Penelitian Informatika bekerja sama dengan SuSE Linux Indonesia dan VMware Indonesia mengembangkan dan memanfaatkan fasilitas High Power Computing (HPC) untuk berbagai kepentingan penelitian yang memerlukan teknologi big data.
Fasilitas tersebut, menurut Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono di Jakarta, Rabu (10/6), dibuat sejalan dengan meningkatnya jumlah dan kompleksitas data sehingga meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi big data yang semakin efisien untuk menyimpan, memelihara, mengamankan, mengolah, menganalisa, dan menciptakan solusi-solusi cerdas.
"Kemajuan teknologi informasi dan komputasi selama beberapa tahun terakhir telah memungkinkan kita memiliki kemampuan untuk memanfaatkan big data bagi peningkatan efisiensi proses bisnis," kata Bogie.
Perkembangan ini, lanjutnya, perlu diketahui oleh para pemangku kepentingan, baik industri, akademik, maupun pemerintahan, agar tetap kompetitif dalam memenuhi tuntutan masyarakat untuk memproses informasi dan memberikan layanan secara cepat.
Secara sederhana, Big Data mengacu pada kumpulan data yang sangat besar dan kompleks, yang biasanya memiliki karakteristik 3V yaitu volume yang sangat besar, variety (jenis) yang sangat beragam, dan velocity (kecepatan) tinggi yang dibutuhkan untuk memproses data tersebut.
Saat ini, kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko, Big Data sudah ada di mana-mana dan sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti transaksi bisnis, keuangan, telekomunkasi, video surveillance, iklim, kebencanaan, serta berbagai kumpulan informasi yang terkirim melalui web, dan sejenisnya.
Berbagai macam data ilmiah juga sudah mencapai skala big data dengan volume, variety, dan velocity yang terus meningkat dengan pesat.
Handoko mengatakan Big Data juga mengacu pada proses, yaitu mengolah data yang jumlahnya sangat besar (ratusan miliar events setiap hari) secara real time maupun batch, menganalisa ragam data yang sifatnya sangat kompleks dan tidak terstruktur menjadi informasi yang berharga untuk berbagai keperluan, seperti membuat keputusan (decision making), trend analysis, forecasting, business intelligence, dan sebagainya.
Semuanya dilakukan dalam tempo yang sangat cepat, pada waktu dan sasaran yang tepat. Proses tersebut tidak mungkin dilakukan menggunakan software maupun hardware konvensional.
"Big data tidak hanya membutuhkan perangkat yang khusus, tetapi juga memerlukan sumber daya manusia dengan spesifikasi keterampilan yang khusus pula," ujar dia.
Published in Siaran Pers LIPI (10 June 2015)
Jakarta, 10 Juni 2015. Secara sederhana, Big Data mengacu pada kumpulan data yang sangat besar dan kompleks, yang biasanya memiliki karakteristik 3V, yaitu volume yang sangat besar, variety (jenis) yang sangat beragam, dan velocity (kecepatan) tinggi yang dibutuhkan untuk memproses data tersebut. “Saat ini Big Data sudah ada dimana-mana dan sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti transaksi bisnis, keuangan, telekomunkasi, video surveillance, iklim, kebencanaan, serta berbagai kumpulan informasi yang terkirim melalui web, dan sejenisnya. Berbagai macam data ilmiah juga sudah mencapai skala big data dengan volume, variety, dan velocity yang terus meningkat dengan pesat,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko.
Handoko melanjutkan, Big Data juga mengacu kepada proses, yaitu mengolah data yang jumlahnya sangat besar (ratusan milyar events setiap hari) secara real time maupun batch; menganalisa ragam data yang sifatnya sangat kompleks dan tidak terstruktur menjadi informasi yang berharga untuk berbagai keperluan, seperti membuat keputusan (decision making), trend analysis, forecasting, business intelligence, dan sebagainya. Semuanya dilakukan dalam tempo yang sangat cepat, pada waktu dan sasaran yang tepat. Proses tersebut tidak mungkin dilakukan menggunakan software maupun hardware konvensional. “Big data tidak hanya membutuhkan perangkat yang khusus, tetapi juga memerlukan sumber daya manusia dengan spesifikasi ketrampilan yang khusus pula,” imbuhnya.
Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Informatika LIPI, Dr. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono menambahkan, LIPI saat ini telah memiliki fasilitas High Power Computing (HPC) yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan penelitian yang memerlukan teknologi big data. Fasilitas itu dibuat sejalan dengan meningkatnya jumlah dan kompleksitas data, maka meningkat pula kebutuhan terhadap teknologi big data yang semakin efisien untuk menyimpan, memelihara, mengamankan, mengolah, menganalisa, dan menciptakan solusi-solusi cerdas.
“Kemajuan teknologi informasi dan komputasi selama beberapa tahun terakhir telah memungkinkan kita memiliki kemampuan untuk memanfaatkan big data bagi peningkatan efisiensi proses bisnis,” kata Bogie. Perkembangan ini perlu diketahui oleh para pemangku kepentingan, baik industri, akademik, maupun pemerintahan, agar tetap kompetitif dalam memenuhi tuntutan masyarakat untuk memproses informasi dan memberikan layanan secara cepat, sambungnya.
Sementara itu terkait workshop big data, Bogie menuturkan bahwa workshop tersebut bertujuan memberikan pengayaan tentang product knowledge yang berkaitan dengan big data, serta pengalaman-pengalaman best/bad practices yang berkaitan dengan pemanfaatan big data, baik dari sektor pemerintahan maupun swasta. Acara ini diperuntukkan bagi mereka yang tertarik dengan penelitian terkait dengan big data, komputasi awan, komputasi kinerja tinggi/cluster/grid computing baik dari kalangan peneliti, akademisi, mahasiswa, dunia bisnis terkait, pengambil kebijakan serta masyarakat umum.
Workshop akan diisi oleh pengenalan umum beragam teknologi terkait komputasi kinerja tinggi, virtualisasi, komputasi awan, grid dan virtualisasi baik dari sisi sistem operasi, perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Dilanjutkan dengan sesi user experience oleh para pemakai terknologi terkait. Diharapkan dengan adanya dua sesi (pengenalan dan pemakaian), peserta bisa mendapatkan gambaran kemampuan dan potensi dari teknologi terkait.
Keterangan Lebih Lanjut:
- Dr. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono (Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI, hp. 0817 614 315)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, MA (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI, hp. 0811 973 569)
Note/Undangan:
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri Workshop Big Data dan Komputasi Kinerja Tinggi 2015 yang diselenggarakan pada Rabu, 10 Juni 2015 di Auditorium LIPI, Jl. Gatot Subroto 10 Jakarta pada pukul 08.30 WIB.
Published in
UPH (UPH Media Relations, 9 Juni 2015)
(ki-ka) Dr. Laksana Handoko, Dr. Henri Uranus, Dr. Bambang Widiyatmoko dan Prof. Dr. Manlian Ronald, S. T., M.T. |
Fakultas Sains dan Teknologi (FaST) UPH menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam bidang penelitian, pengembangan dan pendidikan bidang ilmu pengetahuan teknik. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Prof. Dr. Manlian Ronald A. Simanjuntak, S. T., M.T., Dekan FaST UPH, dan Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, pada Senin, 8 Juni 2015, bertempat di Media Center - Gedung Sasana Widya Sarwono Lt. 1 LIPI Jakarta.
Dr. Laksana Tri Handoko menyambut baik kerja sama ini dan ia berharap kerja sama ini akan betul-betul direalisasikan segera dan tidak hanya menjadi dokumentasi saja. LIPI sangat mendorong kolaborasi antara kampus dengan lembaga Litbang (penelitian dan pengembangan) LIPI. “Dengan MoU ini saya mengundang teman-teman di kampus untuk datang ke pusat-pusat penelitian yang ada di LIPI, tidak hanya dengan pusat penelitian fisika, tetapi juga dengan pusat penelitian laiinya yang ada di bebeapa tempat. Kami ada pusat penelitian kimia, elektronika dan telekomunikasi, informatika, mekatronik dan energi listrik yang ada di Bandung, pusat penelitian teknologi tepat guna di Subang dan masih ada lagi beberapa lainnya. Minimal kami ada 9 bidang yang dapat dimanfaatkan di bawah payung MoU ini,” papar Dr. Handoko.
Selain kerjasama di tingkat fakultas, secara spesifik UPH menjalin kerjasama di tingkat jurusan Elektro dengan Pusat Penelitian Fisika, LIPI (P2FISIKA-LIPI). Bidang kajian meliputi penelitian dan pendidikan di bidang Fisika, Laser, Aplikasi Laser, Optoelektronika, dan Material Sains. Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Dr. Henri P. Uranus, Ketua Jurusan Teknik Elektro UPH dan Dr. Bambang Widiyatmoko, Pimpinan P2FISIKA LIPI.
Pada kesempatan tersebut Prof. Manlian juga berharap lewat kerja sama ini, UPH dapat memaksimalkan setiap potensi dengan memanfaatkan sumber daya seperti prasarana dan tenaga ahli yang ada di LIPI untuk memajukan riset dan pengetahuan di UPH. lebih lanjut diharapkan dari dosen UPH dan peneliti LIPI dapat berkolaborasi untuk menghasilkan penelitian-penelitian yang dapat disumbangsihkan bagi masyarakat.
![]() Dr. Handoko (kiri) dan Prof. Manlian (kanan) menandatangani MoU perjanjian kerja sama
|
![]() Penandatangan MoA oleh Dr. Henri P. Uranus (kiri) dan Dr. Bambang Widiyatmoko (kanan)
|
Ruang lingkup kerjasama meliputi :
Kesepakatan kerjasama ini berlaku dalam waktu lima tahun. Diharapkan melalui kerjasama ini kedua belah pihak dapat memanfaatkan sumber-sumber kemampuan dan potensi yang dimiliki secara optimal, guna saling mengisi, melengkapi dan memperkuat satu sama lain dalam mewujudkan tujuan bersama sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing, melalui penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan teknik.
Turut hadir menyaksikan penandatanganan MoU ini beberapa perwakilan dari Jurusan FaST diantaranya, Andri Panjaitan, ST., MT., Direktur Administrasi Fakultas dan Kemahasiswaan FaST sekaligus merupakan anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bidang Pendidikan, Dr. Henri P. Uranus, Ketua Jurusan Teknik Elektro UPH, Agustina Ika Susanti, Dosen Bioteknologi, Ir. Johannes T. Alexander Gerung, M.Agr., Dosen Teknik Sipil, M. Gracio A.R, Dosen Elektro UPH, dan Julinda Pangaribuan S.Si., MT., Kepala Laboratorium Fisika.(rh)
Published in Suara Pembaruan (9 June 2015)
Published in
LIPI (8 June 2015)
"Pencanangan kembali RUU Peneliti dan Penelitian Ilmu Pengetahuan" merupakan judul presentasi yang diangkat oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), LT Handoko, sekaligus membuka Sosialisasi dan Diskusi Terfokus pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Peneliti dan Penelitian Ilmu Pengetahuan (PPIP) yang diselenggarakan oleh Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI, Rabu (3/60) lalu.
Handoko ingin menyoroti bagaimana mati surinya pembahasan RUU PPIP paska tidak masuknya RUU tesebut dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional). “Hendaknya, tidak masuknya RUU PPIP dalam list Prolegnas tidak menghentikan langkah kita untuk menjadikan RUU PPIP ini menjadi sebuah undang-undang”, demikian Handoko menyampaikan dalam sambutannya. "sehingga dalam diskusi ini perlu mencari solusi strategis agar RUU ini masuk dalam prioritas Prolegnas", tambahnya.
RUU PPIP diharapkan menjadi solusi permasalahan negara, khususnya dalam aspek ilmu pengetahuan. Menurut Handoko, hal tersebut dapat dilihat dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia yang masih jauh jika dibandingkan negara-negara maju serta perlindungan terhadap kekayaan sumber daya alam Indonesia yang masih belum memadai. Karena itu, jika ditelik lebih dalam, RUU PPIP ini tidak hanya berisi tentang Peneliti semata, tapi juga tentang kerja sama dalam rangka penelitian, dan pengalihan material
Dalam mencari solusi bagaimana RUU ini dapat masuk dalam Prolegnas, juga turut diundang Tongam Renkson Silaban, dari Badan Perencana Hukum Nasional - Kemenkumham, dan Inosensius Samsul dari Setjen DPR RI, serta Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo), dimoderatori oleh Prof. Dr. Enny Sudharmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI. Tongam menjelaskan tiga alasan utama sebuah RUU untuk dapat dimasukkan ke dalam Prolegnas, yakni, Rencana Pemerintah Jangka Menengah, Visi Misi Pemerintah, dan hal-hal krusial/urgent. "Sehingga hal-hal tersebut perlu dimunculkan dalam Naskah Akademik dari RUU PPIP", ucap Tongam. Terkait jalur pengusulan sendiri tongam mempersilahkan menggunakan jalur Pemerintah atau melalui jalur DPR, namun yang penting untuk diingat adalah subjeknya pengusulnya, LIPI ataukah Himpenindo.
Selain itu, menurut Tongam, salah satu RUU yang masuk dalam prolegnas saat ini adalah revisi Undang-undang nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan, yang diinisiasi oleh Kemenristek DIkti, perlu untuk diperhatikan. "Komposisi revisi RUU tersebut secara garis besar juga mengatur materi muatan dari RUU PPIP. Sehingga, tentunya hal ini dapat berpotensi menimbulkan tumpang-tindih pengaturan," tuturnya. Maka dari itu Tongam mengusulkan LIPI untuk dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan Kemenristek Dikti untuk menghindari ketimpangtindihan tersebut.
Anggota Setjen DPR Inosensius sendiri menerima dengan tangan terbuka apabila LIPI maupun Himpenindo ingin melakukan hearing atau dengar pendapat dengan DPR, dengan didahului dengan surat resmi tentunya. "DPR merupakan rumah aspirasi, baik LIPI maupun Himpenindo sebagai perwakilan Peneliti tentu saja dapat menyampaikan aspirasinya kepada DPR", tungkas Inosensius.
Sebagai penutup, Enny, sebagai Deputi sekaligus pimpinan diskusi menginginkan segala kritik terhadap RUU PPIP harus diterima dan ditampung sebagai perbaikan terhadap naskah, jangan sampai kritikan tersebut mematikan semangat kita, sementara saran-saran yang disampaikan tentunya akan segera ditindaklanjuti oleh tim perumus dan tim BKHH.(adh)
Published in
LIPI (23 May 2015)
Hasil perikanan laut yang melimpah di Banda Aceh sejauh ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Selama ini hasil ikan dari laut Banda Aceh hanya diolah menjadi abon ikan dengan sistem pengeringan secara manual dengan panas matahari. Jika tidak ada panas matahari maka banyak hasil pengolahan ikan yang busuk,” ungkap Sabri Badarudin, Ketua Komisi B DPRD Kota Banda Aceh saat melakukan kunjungan dinas ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Kamis (21/5) lalu.
Menurutnya, Banda Aceh juga memiliki potensi industri gerabah namun selama ini baru diperuntukkan untuk keperluan memasak dan kurang dikembangkan dari nilai seninya. “Kami berharap LIPI dapat memberikan pemahaman perlunya sentuhan teknologi pada produk – produk lokal untuk memberikan nilai tambah yang dapat berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” harapnya.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko menjelaskan sejak tahun 1998 LIPI telah memiliki program Iptek untuk Daerah (IPTEKDA LIPI) yang berkomitmen memberikan pelatihan tekhnologi pada usaha – usaha mikro didaerah untuk dapat berkembang. “Salah satu program LIPI yang bertujuan membantu para pengusaha kecil dilakukan oleh UPT Balai Pengolahan Proses Teknologi Kimia LIPI di Gunung Kidul, Yogyakarta. “Di sana kami mengembangkan teknologi pengalengan untuk makanan tradisonal,” jelasnya.
Handoko juga mengungkapkan Pusat Penelitian Fisika LIPI juga telah banyak melakukan pembinaan untuk industri gerabah. “Di antaranya di Kotagede, Yogyakarta, Wonosobo, Gresik dan Tasikmalaya,” terangnya. (arm,dee/ed: fza)
Published in
Elshinta (20 May 2015)
Tiga tim pelajar atau ilmuwan muda Indonesia meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015. Ketiga tim ilmuwan muda itu masing-masing adalah dua tim memperoleh penghargaan grand awards dalam kategori Matematika dan Ilmu Material, sedangkan satu tim meraih penghargaan special awards dalam kategori Kimia.
Tim ilmuwan muda pertama yang memperoleh penghargaan dalam kategori grand awards adalah Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan dari SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah lewat karya ilmiah berjudul “Packed VolcASH: An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent” atau penyaring logam berat dari abu vulkanik. Tim ini merupakan pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014.
Sedangkan, tim kedua yang memperoleh grand awards yakni I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana yang berasal dari SMA Negeri Bali Mandara Singaraja, Bali dengan karya ilmiah “The Motifs Development of Gringsing Sarong”. Tim ilmuwan muda ini merupakan pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2014.
Tim ketiga yang memperoleh penghargaan special awards adalah Shinta Dewi dan Hansen Hartono dari SMA Katolik Gembala Baik di Kalimantan Barat dengan karya ilmiah berjudul “Bagasse-based Activated Carbon as Effective Adsorbent for Heavy Metal Contamination from Industrial Activities (Case Study: Gold Mining Area in Mandor River, West Kalimantan)”. Tim tersebut adalah pemenang dari OPSI Kemendikbud 2014.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengucapkan selamat dan merasa bangga atas raihan prestasi para ilmuwan muda Indonesia tersebut, saat menerima Delegasi Tim Pelajar Indonesia yang pulang dari Ajang Intel ISEF 2015 Amerika Serikat, Senin (18/5), di Gedung Kemendikbud Jakarta. Menurut Anies, prestasi penghargaan internasional kali ini merupakan penghargaan terbanyak yang diterima tim Indonesia dibandingkan kompetisi ilmiah internasional tahun-tahun sebelumnya. Dirinya berharap capaian prestasi yang membanggakan negeri ini mampu ditularkan kepada generasi muda lainnya. “Saya berharap kalian (para pelajar, red) bisa berbagi pengalaman dengan pelajar lainnya agar menjadi inspirasi bagi teman-teman dan lingkungan sekitarnya,” tukasnya.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko menambahkan, capaian prestasi para ilmuwan muda tersebut memang patut diapresiasi, namun perlu pula dipikirkan keberlanjutannya ke depan. “Kita harus pula memberikan bimbingan kepada bibit muda ini agar kelangsungan pendidikan dan karirnya ke depan bisa menjadi lebih baik lagi,” ungkapnya.
Deva Rachman, Coorporate Affairs Director Intel Corporation menyambung, “Intel meyakini bahwa anak muda adalah kunci dari inovasi masa depan dan dalam rangka menghadapi tantangan global di masa depan, kami membutuhkan pelajar dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam bidang sains, teknologi dan matematika.” Oleh karena itu, pihaknya berharap para pemenang bisa memberikan inspirasi kepada anak muda lainnya untuk mengejar minat mereka di bidang-bidang ini dan menuangkan segala keingintahuan, kreativitas dan kecerdasan mereka untuk kebaikan banyak orang.
Published in LIPI (19 May 2015)
DELEGASI pelajar Indonesia meraih dua grand awards pada ajang bergengsi dunia bertajuk Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015 yang digelar di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), pada 10-15 Mei lalu.
Published in
LIPI (19 Mei 2015)
Tiga tim pelajar atau ilmuwan muda Indonesia meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015. Ketiga tim ilmuwan muda itu masing-masing adalah dua tim memperoleh penghargaan grand awards dalam kategori Matematika dan Ilmu Material, sedangkan satu tim meraih penghargaan special awards dalam kategori Kimia.
Published in
Indo Pos (19 May 2015)
Apresiasi tinggi patut diberikan kepada para ilmuwan muda Indonesia yang telah meraih dua grand awards dalam ajang bergengsi dunia bertajuk Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015 yang digelar di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Mereka adalah Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat karya ilmiah berjudul “An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent” atau penyaring logam berat dari abu vulkanik meraih grand awards di bidang Material Sciences. Kemudian, ada pula I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana (SMA Negeri Bali Mandara Singaraja, Bali) dengan karya ilmiah “The Motifs Development of Gringsing Sarong” memperoleh grand awards di kategori Mathematics. Raihan keempat remaja dengan dua karya ilmiah tersebut mendapatkan apresiasi masing-masing sebesar US$ 1.000 untuk setiap karya ilmiah dan juga medali bagi setiap orangnya.
Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan merupakan dua ilmuwan muda yang tergabung dalam satu tim sebagai pemenang dari Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014.
Sementara itu, I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana yang juga tergabung dalam satu tim merupakan pemenang dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun yang sama. Bersama dengan delapan ilmuwan muda lain sebagai pemenang dari LKIR dan OPSI, keempat pelajar tersebut berkompetisi di AS pada 10 hingga 15 Mei 2015.
Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain pun menyambut kabar raihan prestasi para ilmuwan muda itu dengan gembira. Sebelumnya saat pelepasan, ia pun memberikan pesan khusus bagi para ilmuwan muda yang berlaga tersebut. Dirinya menekankan bahwa modal dasar dalam menghadapi kompetisi global adalah rasa percaya diri, persiapan yang matang, dan fokus pada karya ilmiahnya.
"Kalian sudah menjadi pemenang. Kesempatan untuk berlaga di Intel ISEF adalah sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan cara pemberian. Siapkan diri, berikan yang terbaik, dan bergaulah dengan teman-teman dari negara lain. Jangan pulang menjadi the loser dan tetaplah jadi the winner dengan mendapatkan jejaring di pergaulan international," ungkap Iskandar.
Senada, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko menyampaikan apresiasi atas dukungan Intel dalam pembinaan para peneliti atau ilmuwan muda Indonesia hingga mampu berprestasi dalam kompetisi global.
Published in
Kompas (Yunanto Wiji Utomo, 18 May 2015)
Dua tim siswa Indonesia berhasil menggondol penghargaan bergengsi dalam bidang sains dan rekayasa, Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2015, yang diadakan di Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat, 10-15 Mei.
Kedua tim menyisihkan sekitar 1.700 siswa peserta dari kompetisi yang diselenggarakan oleh Society for Science and the Public bersama Intel Corporation itu. Mereka meraih peringkat ke-4, masing-masing dalam bidang ilmu material dan matematika.
I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary Palguna dari SMA Bali Mandara meraih penghargaan berkat karya ilmiah menarik dalam bidang matematika yang berjudul "The Motifs Development of Grinsing Sarong".
"Kebanyakan peserta di bidang matematika karyanya matematika murni. Kalau kami, matematika untuk melestarikan kebudayaan," kata Sudiarsana, Senin (18/5/2015), seusai beraudiensi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Jakarta.
Sudiarsana dan Palguna menganalisis motif kain grinsing khas Bali. Pola kain grinsing diubah menjadi sebuah fungsi matematika. Mereka kemudian menurunkannya sehingga memperoleh fungsi baru yang bisa dikonversi menjadi pola baru.
"Kain grinsing ini polanya monoton, itu-itu saja. Pembuatnya sekarang juga semakin sedikit, tinggal 15 orang. Kalau tidak dilestarikan dan tidak ada inovasi, maka kain itu akan punah," ungkap Sudiarsana.
Yunanto Wiji Utomo I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary Palguna dari SMA Bali Mandara, peraih penghargaan Intel ISEF 2015 dalam bidang matematika.
Sementara itu, Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan dari SMAN 1 Surakarta meraih penghargaan berkat inovasi metode dalam mengolah limbah logam berat dengan memanfaatkan abu vulkanik dari Gunung Kelud.
"Kami tidak langsung mendapatkan abu vulkanik dari Gunung Kelud, tetapi dari depan rumah. Abu sampai rumah kami saat Kelud meletus tahun 2014," kata Luca yang membawa karya berjudul "Packed VolcAsh, an Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent".
Dalam kompetisi Intel ISEF, Luca dan Galih mengaplikasikan metode temuannya menjadi sebuah alat sederhana yang berfungsi mengikat logam berat, seperti spons. Cukup mengalirkan air limbah ke alat itu, maka logam berat akan menempel bak magnet, tak ikut mengalir ke lingkungan.
Ke depan, Luca dan Galih berencana untuk mematenkan metodologi pengolahan logam berat itu. Mereka juga akan mengoptimalkan peran abu vulkanik dan menyaring logam berat serta terus mengembangkan alatnya.
Anies Baswedan dalam audiensi menyatakan bahwa dirinya sangat bangga ketika siswa Indonesia bisa memenangi penghargaan bergengsi itu. Dia mengatakan, dua tim siswa itu telah membawa harum nama bangsa.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Achmad Jazidie menuturkan, "Grand Awards ini membuktikan bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Ke depan, pemerintah ingin mendorong remaja untuk berprestasi dalam ajang internasional."
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nur Tri Aries S, yang ikut mendampingi tim ke Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa kedua tim siswa menjadi harapan bagi dunia ilmu pengetahuan masa depan.
"Ada banyak masalah yang dihadapi dunia saat ini. Salah satunya, kurangnya orang yang bergerak dalam STEM (science, engineering, technology, and math). Karenanya, lomba ini jadi penting," katanya.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko, berharap kedua tim siswa terus berinovasi serta berdiskusi dan berjejaring dengan remaja dan ilmuwan. "Tidak sampai di sini saja," ujarnya.
Luca dan Galih merupakan peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI yang diadakan pada tahun 2014 lalu. Sementara itu, Sudiarsana dan Palguna merupakan pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014.
Kedua tim siswa punya cita-cita yang berbeda. Galih, misalnya, ingin mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kesehatan. Sudiarsana ingin menerapkan keahlian matematika-nya dengan menjadi analis keuangan. Sementara itu, Galih bercita-cita menjadi gubernur Bali.
Published in
Antara (18 May 2015)
Tak pernah terpikirkan oleh Luca Cada Lora (Luca), abu vulkanik sisa-sisa letusan Gunung Kelud (1731 mdpl) akan membawanya ke Pittsburgh Pennsylvania, Amerika Serikat.
Bersama dengan sahabatnya Galih Ramadhan, siswa dari SMA Negeri 1 Surakarta berjaya di ajang "Intel International Science and Engineering Fair" (Intel ISEF) 2015. Mereka berhasil menggondol "grand awards" di bidang sains material melalui karya ilmiahnya yang berjudul "An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent" atau penyaring logam berat dari abu vulkanik.
Luca dan Galih menggunakan abu vulkanik sebagai bahan untuk menyaring logam berat pada limbah batik.
"Abu vulkanik mengandung Silika Oksida (SiO2) yang mempunyai sifat mengikat logam berat yang ada pada limbah," ujar Luca, usai pertemuan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Jakarta, Senin.
Abu vulkanik mengandung setidaknya 55,45 persen SiO2. Luca dan Galih merancang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana yang diberi nama "Pack for Ash".
IPAL sederhana tersebut mempunyai dimensi panjang 1,5 meter dan tinggi 40 centimeter. Alat tersebut dapat digunakan untuk pengolahan 86 liter limbah.
"Tapi alat tersebut bisa digunakan berulang-ulang. Setelah dipakai, kemudian dibersihkan abu vulkaniknya, dan bisa digunakan untuk pengolahan limbah lagi," jelas Luca yang sudah diterima di Fakultas Teknologi Industri ITB itu.
Alat tersebut juga dilengkapi indikator untuk mengetahui seberapa berat limbah tersebut.
Disinggung mengenai inspirasi alat tersebut, Luca mengaku terinspirasi ketika melihat selokan.
"Saya heran ketika melihat selokan yang banyak abu vulkanik, kok airnya bersih? Dari situ saya penasaran dan menelitinya," kenang Luca.
Galih Ramadhan menambahkan dirinya dan Luca dibimbing oleh dosen Universitas Negeri Solo (UNS), Pranoto.
Kemudian dilanjutkan dengan penelitian lanjut di Kampus Geoteknologi LIPI di Bandung selama sebulan.
"Air limbah yang dihasilkan melalui alat kami ini sesuai dengan baku mutu air limbah yang ditetapkan oleh pemerintah," ungkap Galih yang sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu.
Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan merupakan pemenang dari Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2014.
Tak Menyangka
"Tidak pernah terpikirkan untuk meraih penghargaan. Jalan-jalan ke luar negeri saja sudah senang," kata I Dewa Ary Palguna lugu.
I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana dari SMA Negeri Mandara Singaraja, Bali, juga berhasil meraih "grand awards" untuk kategori matematika dengan "The Motifs Development of Gringsing Sarong".
"Penelitian kami menggabungkan antara matematika dan budaya," jelas Ary.
Ary dan Sudiarsana menggunakan perhitungan matematika untuk membangun motif pada kain gringsing.
Kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional yang dibuat menggunakan teknik teknik ikat ganda dan memerlukan waktu dua hingga lima tahun untuk membuatnya. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali.
Ary memberi contoh motif transpersium pada kain gringsing. Dari motif itu dengan menggunakan rumus matematika bisa menghasilkan 10 motif lainnya.
"Modifikasi motif itu tidak menghilangkan filosofi dari kain itu sendiri," cetus anak dari guru SMP itu.
Ary dan Sudiarsana berhasil membuat para juri berdecak kagum karena menggabungkan sains dan budaya merupakan hal yang baru di Amerika Serikat.
Ary dan Sudiarsana merupakan pemenang dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada 2014.
Para peraih "grand awards" mendapatkan apresiasi masing-masing sebesar 1.000 dolar Amerika Serikat untuk setiap karya ilmiah dan juga medali bagi setiap orangnya.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Dr Iskandar Zulkarnai, menyambut kabar raihan prestasi para ilmuwan muda itu dengan gembira.
Sebelumnya saat pelepasan, ia pun memberikan pesan khusus bagi para ilmuwan muda yang berlaga tersebut. Dirinya menekankan bahwa modal dasar dalam menghadapi kompetisi global adalah rasa percaya diri, persiapan yang matang, dan fokus pada karya ilmiahnya.
"Kalian sudah menjadi pemenang. Kesempatan untuk berlaga di Intel ISEF adalah sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan cara pemberian. Siapkan diri, berikan yang terbaik, dan bergaulah dengan teman-teman dari negara lain. Jangan pulang menjadi 'the loser' dan tetaplah jadi 'the winner' dengan mendapatkan jejaring di pergaulan international," papar Iskandar.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI Dr Laksana Tri Handoko, menyampaikandukungan atas dukungan Intel dalam pembinaan para peneliti atau ilmuwan muda Indonesia hingga mampu berprestasi dalam kompetisi global.
"Para ilmuwan remaja ini diharapkan ke depan lebih banyak lagi berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti sampai di sini saja," pesan Handoko yang juga turut serta sebagai delegasi Indonesia yang berangkat ke AS.
Intel ISEF adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan, baik tingkat lokal maupun global.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerja sama dengan LIPI melalui kompetisi LKIR.
"Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia lah yang akan mengembangkan teknologi tersebut," imbuh Manajer Intel Indonesia, Harris Iskandar.(*)
Published in
Gatra (18 May 2015)
Para ilmuwan muda Indonesia meraih dua grand awards dalam ajang bergengsi dunia bertajuk Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015 yang digelar di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu.
Mereka adalah Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan, yang merupakan siswa SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah. Karya mereka berjudul "An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent" atau penyaring logam berat dari abu vulkanik meraih grand awards di bidang Material Sciences.
Kemudian ada pula I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana yang merupakan siswa SMA Negeri Bali Mandara Singaraja, Bali. Karya mereka yang berjudul "The Motifs Development of Gringsing Sarong" memperoleh grand awards di kategori Mathematics.
Raihan keempat remaja dengan dua karya ilmiah tersebut mendapat apresiasi masing-masing sebesar US$ 1.000 untuk setiap karya ilmiah dan juga medali bagi setiap orangnya.
Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan merupakan dua ilmuwan muda yang tergabung dalam satu tim sebagai pemenang dari Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014. Sementara itu, I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana yang juga tergabung dalam satu tim merupakan pemenang dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun yang sama.
Bersama dengan delapan ilmuwan muda lain sebagai pemenang dari LKIR dan OPSI, keempat pelajar tersebut berkompetisi di AS pada 10 hingga 15 Mei 2015.
Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain menyambut kabar raihan prestasi para ilmuwan muda itu dengan gembira. Ia pun memberikan pesan khusus bagi para ilmuwan muda yang berlaga tersebut. Dirinya menekankan bahwa modal dasar dalam menghadapi kompetisi global adalah rasa percaya diri, persiapan yang matang, dan fokus pada karya ilmiahnya.
"Kalian sudah menjadi pemenang. Kesempatan untuk berlaga di Intel ISEF adalah sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan cara pemberian. Siapkan diri, berikan yang terbaik, dan bergaulah dengan teman-teman dari negara lain. Jangan pulang menjadi the loser dan tetaplah jadi the winner dengan mendapatkan jejaring di pergaulan international," ungkap Iskandar di Jakarta, Senin (18/5).
Senada, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Laksana Tri Handoko menyampaikan apresiasi atas dukungan Intel dalam pembinaan para peneliti atau ilmuwan muda Indonesia hingga mampu berprestasi dalam kompetisi global.
“Para ilmuwan remaja ini diharapkan ke depan lebih banyak lagi berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti sampai di sini saja,” pesan Handoko.
Published in
Siaran Pers LIPI (18 May 2015)
Jakarta, 18 Mei 2015. Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan merupakan dua ilmuwan muda yang tergabung dalam satu tim sebagai pemenang dari Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014. Sementara itu, I Dewa Ary Palguna dan I Kadek Sudiarsana yang juga tergabung dalam satu tim merupakan pemenang dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun yang sama. Bersama dengan delapan ilmuwan muda lain sebagai pemenang dari LKIR dan OPSI, keempat pelajar tersebut berkompetisi di AS pada 10 hingga 15 Mei 2015.
Kepala LIPI, Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain pun menyambut kabar raihan prestasi para ilmuwan muda itu dengan gembira. Sebelumnya saat pelepasan, ia pun memberikan pesan khusus bagi para ilmuwan muda yang berlaga tersebut. Dirinya menekankan bahwa modal dasar dalam menghadapi kompetisi global adalah rasa percaya diri, persiapan yang matang, dan fokus pada karya ilmiahnya.
"Kalian sudah menjadi pemenang. Kesempatan untuk berlaga di Intel ISEF adalah sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja keras, bukan dengan cara pemberian. Siapkan diri, berikan yang terbaik, dan bergaulah dengan teman-teman dari negara lain. Jangan pulang menjadi the loser dan tetaplah jadi the winner dengan mendapatkan jejaring di pergaulan international," ungkap Iskandar.
Senada, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko menyampaikan apresiasi atas dukungan Intel dalam pembinaan para peneliti atau ilmuwan muda Indonesia hingga mampu berprestasi dalam kompetisi global. “Para ilmuwan remaja ini diharapkan ke depan lebih banyak lagi berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti sampai di sini saja,” pesan Handoko yang juga turut serta sebagai delegasi Indonesia yang berangkat ke AS.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Prof. Dr. Achmad Jazidie turut pula mengungkapkan rasa bangga atas prestasi para pelajar Indonesia dalam ajang Intel ISEF kali ini. "Mereka sebenarnya sudah menjadi pemenang dengan mengikuti ajang Intel ISEF. Grand Awards ini merupakan bukti bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Ke depannya pemerintah Indonesia akan lebih mendorong remaja Indonesia untuk terus berprestasi di ajang internasional," ujar Jazidie dengan terharu.
Rasa haru bercampur bangga pun juga dirasakan oleh Nur Tri Aries S, Kepala Biro Kerja sama, Hukum dan Humas LIPI yang turut pula menjadi delegasi Indonesia. Nur mengatakan, “Mereka adalah anak-anak yang luar biasa. Raihan grand awards ini lebih membuktikan lagi bahwa mereka mampu berkompetisi di dunia internasional, bahkan dengan negara-negara yang teknologinya lebih maju. Indonesia juara".
Sebagai informasi, ajang Intel ISEF sendiri pada kesempatan ini tidak hanya memberikan penghargaan grand awards saja, melainkan juga menganugerahkan special awards dari 72 organisasi dan perusahaan swasta di Amerika, penghargaan best of the best project, dan penghargaan terhadap peneliti muda terbaik di bidangnya. Keikutsertaan Indonesia dalam ajang Intel ISEF saat ini sudah memasuki tahun kelima. Hal tersebut membuktikan komitmen Indonesia terhadap peningkatan Science Technology Engineering and Mathematics (STEM).
Keterangan Lebih Lanjut:
Note/Undangan:
Published in
Koran Tempo (Amri Mahbub, 12 May 2015)
Ampas tebu yang tersisa dari proses pembuatan gula teryata dapat menetralisasi logam berai dalam air Hasil karya dua siswa dari Kalimantan Barat itu sanggup mengurangi kandungan logam berat dalam air gambut hingga di atas 90 persen.
Karya ilmiah tersebut juga mengantarkan Hansen Hartono dan Shinta Dewi, siswa SMA Katolik Gembala Baik di Pontianak, ibel penghargaan Honorable Mention dalam kategori kimia dalam acara Intel International Science and Engineering Fair 2015 di Pittsburgh, Amerika Serikat. "Penetralisasl logam berat dalam air ini berbasis ampas tebu yang diolah menjadi karbon aktif," kata Hansen. kepada Tempo, di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta Selatan.
Senin pekan ini Hansen dan Shinta memanfaatkan ampas tebu untuk menyaring logam berat, seperti besi(F) dan merkuri (Hg) dari dalam air gambut di Makan Juang Mandau, Pontianak. Kalimantan Barat. Menurut Hansen, air itu banyak digunakan oleh penduduk untuk kegiatan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, bahkan untuk minum dan memasak.
Mengubah ampas tebu menjadi bahan aktif yang mengikat logam berat tak membutuhkan proses panjang. Ampas tebu cukup direndam dengan soda api atau sodium hidroksida (NaOH) sebanyak 4 molar selama 10 jam.
Setelah berubah menjadi karbon aktif, ampas tebu tersebut dapat menyerap merkuri dan besi. "Persentasi pengurangannya sangat tinggi," kata Shinta.
Ampas tebu dapat mengurangi kandungan merkuri dalam air gambut hingga 97 persen dan besi hingga 96 persen. Air hasil penyaringan aman jika langsung dibuang ke tanah atau penampungan air lainnya.
Shinta mengatakan, kandungan merkuri dalam air gambut di Pontianak mencapai 0,0095 parts per million (ppm). Angka itu terbilang tinggi karena ambang batas aman menurut World Health Organization (WHO) hanya 0,001 ppm.
Tingginya kandungan merkuri dalam air gambut di Pontianak itu jelas berbahaya .Jika melebihi ambang batas, tubuh manusia akan mengalami penurunan kinerja otot. Kadar besi yang tinggi juga dapat menyebabkan pembengkakan pada hati dan mencegah penyerapan obat dalam tubuh. WHO menetapkan ambang batas yang dapat diterima tubuh hanya 0,3 ppm, padahal kandungan besi dalam air gambut diketahui mencapai 2,722 ppm.
Shinta berharap penelitiannya dapat membantu industri di Pontianak dalam mengolah limbah mereka sebelum dibuang ke lingkungan, khususnya industri pengguna kedua logam berat tersebut.
Riset tentang bahan penetralisasi logam berat pada air limbah juga dilakukan Luca Cuda Lora dan Galih Ramadhan, siswa SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah. Konsep mereka dinamai Packed VolcASH. "Artinya pemisahan zat logam berat memakai abu vulkanis," kata Luca. Balian dasar saringan tersebut adalah abu vulkanis Gunung Kelud, Jawa Timur.
Luca menjelaskan, senyawa kimia silika oksida (SiO2) yang terkandung dalam abu vulkanis dapat mengikat logam berat bei bahaya Beberapa logamyang dapat di yakni besi perak (Ag), mangan (Mn), timbel (Pb), dan tembaga (Cu), "Tapi kami belum mencobanya terhadap merkuri," kata Galih.
Dalam acara Intel di Pittsburgh, Luca dan Galih meraih juara keempat dalam kategori ilmu material.
Tim Indonesia lain yang memperoleh peringkat keempat adalah I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary Palguna dari SMA Bali Mandara. Penghargaan di bidang matematika itu diraih berkat karya ilmiah tentang pengembangan motif kain gringsing.
Selain tiga tersebut, Indonesia mengirimkan tiga tim lagi dalam kejuaraan yang sama, yakni Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman shinta Prasista Sari dari SMA Negeri 3 Denpasar, Bali, dengan studi tuntang kekerasan terhadap masyarakat pendatang di Bali.Tim lainnya, Regia Puspitasari dan Audie Awali dari SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur, menciptakan bahan yang ramah lingkungan.
Semua tim beradu dengan 1.380 peserta lain dari 70 negara. Mereka memperebutkan empat tingkat juara yang terbagi alas 17 kategori selama 10-16 Mei 2015.
Meski tak semua tim Indonesia mendapat nomor dalam kategori yang diikuti, hal itu tak lantas membuat mereka kecewa. Sebaliknya, mereka mendapat banyak pujian. Respons positif pertama datang dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Dia meminta semua anggota tim menulis pengalaman mereka selama lomba.
"Biar semua anak bangsa terinspirasi," ujar Anies saat menyambut mereka di kantornya. Tak hanya itu. Anies juga berpesan agar mereka tetap menjaga hubungan pertemanan tim. Menurut dia, hubungan tersebut akan berguna pada masa depan.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko, selaku kepala delegasi tim Indonesia, mengatakan semua tim sudah bekerja dengan baik selama setahun terakhir "Mereka sampai rela bergadang dalam dua bulan sebelum lomba demi menyempurnakan karyanya," kata Handoko.
Published in
Okezone.com (7 May 2015)
Enam peneliti remaja Indonesia akan unjuk gigi dalam kompetisi karya ilmiah di Amerika. Mereka merupakan pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2014 besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Published in
Berita Bekasi (7 May 2015)
Jakarta, Para pelajar Bekasi patut mencontoh tiga putra putri terbaik Indonesia yang dikirim ke Amerika untuk merebut hadiah 4 juta dollar dari Intel Insef dalam kompetisi dunia pengetahuan dan tekhnologi.
Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya ilmiah “A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese Villages”; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah “Ramie Fiber as a Novel Green Electric Double Layer Capacitor Material”; serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat “An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent”.
Keenam pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari 4 juta dolar Amerika ini. “Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat di ajang ini, dan kompetisi ini bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko.
Sebelum berlaga, mereka mendapat pembinaan intensif selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian, penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam bahasa Inggris.
LIPI menyampaikan apresiasinya atas dukungan Intel ISEF dalam pembinaan para peneliti remaja. “Para pelajar diharapkan lebih banyak berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti hanya sampai di sini,” imbuh Handoko yang turut sebagai delegasi Indonesia.
Intel ISEF sendiri adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan baik tingkat lokal maupun global.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerjasama dengan LIPI melalui kompetisi LKIR. “Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia-lah yang akan mengembangkan teknologi tersebut,” tutur Harris Iskandar, Ph.D, Country Manager Intel Indonesia.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries. S, M.A menyampaikan bahwa pemenang LKIR ini diharapkan ke depannya bisa menambah jumlah peneliti Indonesia yang memberi dampak positif bagi kemajuan bangsa. “Kami berharap ajang ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap dunia penelitian,” ujar Nur.
Sebagai informasi, keenam finalis akan diberangkatkan bersama enam pelajar lainnya pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mewakili Indonesia. Kedua belas peneliti remaja ini dilepas oleh LIPI bersama dengan Intel Indonesia dan Kemendikbud pada Rabu, 6 Mei 2015 di Kantor Pusat Intel Indonesia, Jakarta dan akan bertolak ke Amerika pada Sabtu, 9 Mei mendatang.
Published in
Sains Indonesia (Slamet Widayadi, 8 May 2015)
Enam pelajar pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja(LKIR) 2014 pada Sabtu (9/5) akan bertolak ke Amerika Serikat (AS) untuk berlaga dalam Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015. Kompetisi ini diselenggarakan di Pittsburgh, Amerika Serikat pada 10-15 Mei 2015.
Pelajar tersebut adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar), Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang) serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta). Mereka akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara.
Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Laksana Tri Handoko mengatakan, ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang keempat di ajang Intel ISEF. Kompetisi ini bisa dijadikansarana untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebelum berlaga, tambah dia, mereka mendapat pembinaan intensif selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian, penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam bahasa Inggris.
LIPI menyampaikan apresiasinya atas dukungan Intel ISEF dalam pembinaan para peneliti remaja. “Para pelajar diharapkan lebih banyak berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti hanya sampai di sini,” imbuh Handoko yang turut sebagai delegasi Indonesia.
Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries S MA menyampaikan, pemenang LKIR ini diharapkan ke depannya bisa menambah jumlah peneliti Indonesia yang memberi dampak positif bagi kemajuan bangsa. “Kami berharap ajang ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap dunia penelitian,” ujar Nur.
Menurut siaran pers dari LIPI, Intel ISEF adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat SMA yang diselenggarakan Intel setiaptahun. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan, baik tingkat lokal maupun global.
Published in
Indovasi (7 May 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kirim enam pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2014 untuk mengikuti kompetisi ilmiah Intel Internasional Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015 di Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 10-15 Mei. Keenam pelajar tersebut akan berkompetisi dengan 1.700 pelajar dari 75 negara.
Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat dalam ajang ini, dan kompetisi ini bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, kata Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko, dikutip dari Antara News.
Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya ilmiah A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese Villages; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah Ramie Fiber as a Novel Green Electric Double Layer Capacitor Material; serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent.
Sebelum berlaga, mereka mendapat pembinaan intensif selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian, penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam bahasa inggris, ujar Handoko.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerja sama dengan LIPI melalui kompetisi LKIR.
Sementara itu, Country Manager Intel Indonesia, Harris Iskandar mengatakan Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia lah yang akan mengembangkan teknologi tersebut.
Published in
Geo Times (7 May 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengirim enam pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja 2014 ke Pittsburgh, Amerika Serikat, 10-15 Mei mendatang. Mereka akan mengikuti kompetisi ilmiah Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015.
“Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat dalam ajang ini,” kata Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko di Jakarta, Kamis.
Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya ilmiah A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese Villages; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah Ramie Fiber as a Novel Green Electric Double Layer Capacitor Material; serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent.
Keenam pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari empat juta dolar AS.
Intel ISEF sendiri adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan baik tingkat lokal maupun global.
Published in
Republika (7 May 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan mengirim enam pemenang Lomba
Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2014 ke Pittsburgh, Amerika Serikat, pada
10-15 Mei untuk mengikuti kompetisi ilmiah Intel International Science
and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015.
"Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat dalam ajang
ini, dan kompetisi ini bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan
wawasan serta pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi," kata Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko di Jakarta, Kamis
(7/5).
Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni
Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya
ilmiah A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese
Villages; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang,
Jawa Timur) dengan karya ilmiah Ramie Fiber as a Novel Green Electric
Double Layer Capacitor Material; serta Luca Cada Lora dan Galih
Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat An Inorganic
Nature of Heavy Metals Absorbent.
Keenam pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75
negara dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari empat
juta dolar AS.
Sebelum berlaga, menurut Handoko, mereka mendapat pembinaan intensif
selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring
kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian,
penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam
bahasa inggris.
LIPI menyampaikan apresiasinya atas dukungan Intel ISEF dalam
pembinaan para peneliti remaja. "Para pelajar diharapkan lebih banyak
berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti hanya
sampai di situ," ujar Handoko yang juga ikut sebagai delegasi Indonesia.
Intel ISEF sendiri adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk
pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh
Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja
untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan baik
tingkat lokal maupun global.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya
di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerja sama dengan LIPI
melalui kompetisi LKIR.
"Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak
ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia lah yang akan
mengembangkan teknologi tersebut," kata Country Manager Intel
Indonesia Harris Iskandar.
Sebagai informasi, keenam finalis akan diberangkatkan bersama enam
pelajar lainnya pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI)
2015 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) untuk mewakili Indonesia.
Sebanyak 12 peneliti remaja ini dilepas oleh LIPI bersama dengan Intel
Indonesia dan Kemendikbud pada Rabu (6/5), di Kantor Pusat Intel
Indonesia, Jakarta dan akan bertolak ke Amerika pada Sabtu (9/5).
Published in
Harian Nasional (7 May 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengirim enam pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2014 ke Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 10-15 Mei untuk mengikuti kompetisi ilmiah Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015.
"Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat dalam ajang ini, dan kompetisi ini bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko di Jakarta, Kamis.
Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya ilmiah A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese Villages; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah Ramie Fiber as a Novel Green Electric Double Layer Capacitor Material; serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent.
Keenam pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari empat juta dolar AS.
Sebelum berlaga, menurut Handoko, mereka mendapat pembinaan intensif selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian, penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam bahasa inggris.
LIPI menyampaikan apresiasinya atas dukungan Intel ISEF dalam pembinaan para peneliti remaja. "Para pelajar diharapkan lebih banyak berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti hanya sampai di situ," ujar Handoko yang juga ikut sebagai delegasi Indonesia.
Intel ISEF sendiri adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan baik tingkat lokal maupun global.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerja sama dengan LIPI melalui kompetisi LKIR.
"Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia lah yang akan mengembangkan teknologi tersebut," kata Country Manager Intel Indonesia Harris Iskandar.
Sebagai informasi, keenam finalis akan diberangkatkan bersama enam pelajar lainnya pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mewakili Indonesia.
Sebanyak 12 peneliti remaja ini dilepas oleh LIPI bersama dengan Intel Indonesia dan Kemendikbud pada Rabu (6/5), di Kantor Pusat Intel Indonesia, Jakarta dan akan bertolak ke Amerika pada Sabtu (9/5).
Published in
LIPI (7 May 2015)
“Indonesia telah berpartisipasi pada acara ini sejak tahun 2010 dan
ini merupakan kali keempat bagi finalis LKIR binaan LIPI untuk
berpartisipasi," ujar Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu
Pengetahuan Teknik LIPI yang juga pemenang LKIR tahun 1985, saat
melepas delegasi Indonesia pada Rabu (6/5) lalu di Jakarta.
Mereka yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni
Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya
ilmiah “A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in
Balinese Villages”; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri
10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah “Ramie Fiber as a Novel
Green Electric Double Layer Capacitor Material”; serta Luca Cada
Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat
“An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent”.
Keenam finalis ini akan berangkat bersama enam pelajar lainnya
pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 yang
diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
untuk mewakili Indonesia. Sebelumnya, mereka telah dibina secara
intensif oleh peneliti-peneliti LIPI.
Intel ISEF merupakan ajang kompetisi tahunan paling bergengsi di
dunia. Kegiatan ini telah dilakukan sejak 66 tahun yang lalu. Seluruh
pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara
dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari 4 juta dolar
Amerika.
Country Manager Intel Indonesia Harris Iskandar, Ph.D,
memotivasi para peneliti muda untuk lebih mementingkan proses
dibandingkan hasil yang mereka raih nantinya. “Kita harus bangga
berangkat dari penelitian yang sederhana, karena ide yang dimiliki
sangat original dan berharga,” tuturnya.
Sementara itu, Kasubdit Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Asep Sukmana menyampaikan apresiasinya kepada 12 peneliti
muda yang akan bertolak pada Sabtu (9/5) mendatang. “Ini merupakan
modal penting intelektual tak ternilai. Tentu saja seluruh peserta
harus terus berlatih dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin,”
ungkapnya. (msa/ed:fza)
Published in
Siaran Pers LIPI (6 May 2015)
Jakarta, 6 Mei 2015. Pelajar yang akan bertolak ke Amerika adalah Ni Nyoman Asmarani dan Ni Nyoman Shinta Prasista Sari (SMA Negeri 3 Denpasar, Bali) dengan karya ilmiah “A Paradise in Crisis: The Eroding Cultural Values in Balinese Villages”; Regia Puspitasari dan Audie Awali (SMA Negeri 10 Malang, Jawa Timur) dengan karya ilmiah “Ramie Fiber as a Novel Green Electric Double Layer Capacitor Material”; serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan (SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah) lewat “An Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent”.
Keenam pelajar ini akan berkompetisi bersama 1.700 pelajar dari 75 negara dalam ajang yang memperebutkan total hadiah lebih dari 4 juta dolar Amerika ini. “Ini merupakan keikutsertaan pemenang LKIR yang ke empat di ajang ini, dan kompetisi ini bisa dijadikan sarana untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Dr. Laksana Tri Handoko.
Sebelum berlaga, mereka mendapat pembinaan intensif selama enam bulan oleh peneliti-peneliti LIPI. Mulai dari mentoring kegiatan penelitian, pelaporan dan penulisan hasil penelitian, penyiapan media presentasi, sampai teknik presentasi ilmiah dalam bahasa Inggris.
LIPI menyampaikan apresiasinya atas dukungan Intel ISEF dalam pembinaan para peneliti remaja. “Para pelajar diharapkan lebih banyak berdiskusi dan membangun jaringan, karena hal ini tidak berhenti hanya sampai di sini,” imbuh Handoko yang turut sebagai delegasi Indonesia.
Intel ISEF sendiri adalah kompetisi ilmiah terbesar di dunia untuk pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Intel setiap tahunnya. Intel ISEF mendorong jutaan ilmuwan remaja untuk memberikan solusi bagi berbagai masalah dan tantangan baik tingkat lokal maupun global.
Untuk seleksi finalis, Intel ISEF bekerja sama dengan para afiliasinya di berbagai negara. Di Indonesia, Intel ISEF bekerjasama dengan LIPI melalui kompetisi LKIR. “Menjadi peneliti tidak harus rumit. Secanggih apapun teknologi, tidak ada manfaatnya jika tidak ada manusia, karena manusia-lah yang akan mengembangkan teknologi tersebut,” tutur Harris Iskandar, Ph.D, Country Manager Intel Indonesia.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI, Nur Tri Aries. S, M.A menyampaikan bahwa pemenang LKIR ini diharapkan ke depannya bisa menambah jumlah peneliti Indonesia yang memberi dampak positif bagi kemajuan bangsa. “Kami berharap ajang ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap dunia penelitian,” ujar Nur.
Sebagai informasi, keenam finalis akan diberangkatkan bersama enam pelajar lainnya pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mewakili Indonesia. Kedua belas peneliti remaja ini dilepas oleh LIPI bersama dengan Intel Indonesia dan Kemendikbud pada Rabu, 6 Mei 2015 di Kantor Pusat Intel Indonesia, Jakarta dan akan bertolak ke Amerika pada Sabtu, 9 Mei mendatang.
Keterangan Lebih Lanjut:
Published in
Fisika UI (24 April 2015)
Untuk memperoleh gelar Doktor Program Studi Ilmu Bahan-Bahan kepada Tjong Po Djun, FMIPA UI menyelenggarakan sidang terbuka Promosi Doktor pada hari ini, Jumat 24 April 2015. Acara dilaksanakan di Gedung C FMIPA UI dengan judul disertasi “Viskositas Materi Quark Gluon Plasma”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk membangun rumusan viskositas atau distribusi viskositas yang terdapat pada quark-gluon plasma, dan berlatar belakang pada materi plasma yang semakin memiliki peranan penting di dalam dunia industri. Beberapa penggunaan paling umum dari materi plasma diantaranya adalah sebagai material etching pada proses produksi semikonduktor, sebagai impurity doping pada proses modifikasi material, dan sebagai bahan pengurai limbah kimia yang sangat efektif dan murah.
Sidang ini diketuai oleh Dekan FMIPA UI yaitu Dr. rer. Nat. Abdul Haris, Bertindak sebagi promotor yakni Prof. Dr. Terry Mart dan ko-promotor Dr. Laksana Tri Handoko. Selain itu turut hadir anggota tim penguji diantaranya, Dr. Bambang Soegijono, Dr. rer. nat. Agus Salam, Dr. Albertus Sulaiman, dan Dr. Handhika S. Ramadhan.
Hasil disertasi dipresentasikan dengan sangat baik sehingga mendapatkan yudisium Cum Laude. Dengan demikian Dr. Tjong Po Djun menjadi Doktor ke 121 di FMIPA UI dan menjadi Doktor ke 57 di Program Studi Ilmu Bahan-Bahan FMIPA UI. (Annisa)
Published in
Tempo Inforial (15 April 2015)
KJSA atau Kalbe Junior Scientist Award adalah lomba karya sains untuk siswa tingkat Sekolah Dasar di Indonesia. Program ini telah berlangsung sejak 2011 dan tahun ini memasuki tahun ke-5.
Tema karya sains yang dilombakan tidak dibatasi. Setiap siswa bebas berkreasi memilih tema. Contohnya tema materi pembelajaran, lingkungan hidup,tempat tinggal, masyarakat, energi,mahluk hidup, dan lainnya. Terpenting, karya berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Alam dan terapannya atau matematika.
Beberapa persyaratan peserta lomba adalah siswa masih kelas 4,5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) atau berusia 10-12 tahun saat mendaftar. Memiliki karya atau hasil percobaan sains yang merupakan ide sendiri. siswa mengirimkan karya dalam bentuk laporan. Di dalamnya berisi ide soal karya sains, mengapa memilih ide itu, apa yang hendak dibahas dan pengembangan ide atau solusi yang hendak dipaparkan. Jangan lupa menyebutkan siapa guru pembimbing dalam membuat laporan ini (hanya boleh 1 guru pembimbing). Kemudian kirimkan foto hasil karya dan foto peserta bersama karyanya tadi melalui e-mail ke kjsa@tempo.co.id . Pendaftaran ditunggu paling lambat 15 Juni 2015.
Proses seleksi dilakukan pada beberapa tahap. Pertama, semua karya yang didaftarkan akan dinilai langsung oleh dewan juri, yang akan memilih 18 finalis berdasarkan skor tertinggi. Selanjutnya 18 finalis akan diundang ke Jakarta pada 31 Agustus s/d 4 September 2015 untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan dewan juri. Dari penilaian presentasi itu, akan dipilih 9 pemenang karya terbaik. Semua biaya akomodasi dan transportasi ke-18 finalis serta masing-masing guru pembimbingnya ditanggung panitia.
Dewan Juri terdiri dari Prof. Ir. Nizam, M.Sc., D.I.C., Ph.D (Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), Dr. L.T. Handoko (Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik, LIPI), Dr. Nurul Taufiqu Rohman, B.Eng, M.Eng (Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia, LIPI), Dr. Tjut Rifameutia Umar Ali, M.A. (Pakar Psikologi Pendidikan dan Sekolah, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia) , dan Ir. Ridwan Hasan Saputra, M.Si (Matematikawan, Founder Klinik Pendidikan MIPA)
Sembilan pemenang karya terbaik akan mendapatkan tabungan pendidikan masing-masing senilai Rp. 10 juta. Sekolah pemenang akan mendapatkan bantuan masing-masing senilai Rp. 10 juta. Sembilan finalis lainnya masing-masing mendapatkan 1 unit laptop. Satu karya pemenang favorit pilihan dewan juri akan mendapatkan tambahan tabungan pendidikan senilai Rp. 5 juta. Seluruh finalis bertemu dengan tokoh-tokoh pendidikan.
Ayo, segera daftarkan hasil karyamu, sebelum 15 Juni 2015, ke Sekretariat: PT Tempo Media Group Gedung Tempo Jl. Palmerah Barat No.8 Jakarta Selatan 12210. Hotline: (021) 70-885-234 , (021) 70-304-234, Email: kjsa@tempo.co.id , Fax: 021-7206995. Info lebih lanjut, klik www.kalbescienceawards.com
Published in
LIPI (2 April 2015)
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Laksana Tri Handoko menekankan tiga hal penting untuk menjual produk unggulan LIPI. "Publikasi internasional, paten, dan kemitraan merupakan tiga hal yang harus dilakukan untuk menjual produk-produk unggulan LIPI," ujar Handoko pada Rapat Koordinasi Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI di Jakarta pada Rabu (25/3) lalu.
Kepala LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain yang hadir memberikan pengarahan menjelaskan definisi unggulan pada produk unggulan LIPI adalah produk yang berbasis pada kegiatan unggulan LIPI. "Kegiatan unggulan LIPI adalah kegiatan berbasis teknologi nasional maupun internasional, selain itu juga harus berbasis penelitian," jelas Iskandar.
Dirinya melanjutkan, ada lima sektor unggulan yang menjadi bagian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). "Pangan, energi dan tenaga kelistrikan, kemaritiman, pariwisata, serta industri," terang Iskandar. Sektor ini tidak hanya berbentuk output tapi juga dapat berbentuk outcome yang dapat membantu sektor-sektor lainnya, tambahnya.
Kegiatan ini sendiri diadakan sebagai bentuk penyesuaian dari efisiensi dan rasionalisasi kegiatan di luar kegiatan utama penelitian. “Fokus utama dari rapat koordinasi adalah penetapan dan penandatanganan kinerja antara para kepala satuan kerja di Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI terkait untuk melaksanakan butir-butir Rencana Strategis dan Indikator Kinerja Utama LIPI yang telah ditetapkan," pungkas Handoko. (dnh/ed: fza)
Published in
P2I LIPI (Dewi Saraswati, 29 March 2015)
Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI mengadakaan orientasi CPNS, yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 17 Pebruari 2015 di Gedung 10 lantai 3 Komplek LIPI Bandung. Acara orientasi ini dihadiri 50 orang CPNS di bawah kedeputian IPT.
Dalam pembukaan acara orientasi Deputi Bidang IPT - LIPI, Dr. LT. Handoko mengucapakan selamat datang dan selamat bergabung sebagai warga LIPI kepada peserta orientasi CPNS. Deputi juga memperkenalkan unit kerja yang ada di kedeputian IPT dan menjelaskan tujuan orientasi ini.
Selanjutnya ada pemaparan tentang Kepegawaian yang disampaikan oleh Ka.Sub Bagian Kepegawaian Puslit Informatika, An An Sarah Hertiana S.Sos. Pada sesi ini dijelaskan apa saja hak dan kewajiban seorang CPNS sehingga sesi ini menjadi menarik untuk para peserta. Pada kesempatan ini juga dipaparkan kegiatan penelitian di kedeputian IPT - LIPI yang disampaikan oleh Dr. Agus Sukarto dari Puslit Fisika. Dilanjutkan pemaparan tentang kolaborasi global dan riset lintas disiplin yang disampaikan oleh Dr. Suharyo dari Puslit Informatika - LIPI.
Pada acara ini juga di paparkan kegiatan setiap unit kerja di bawah kedeputian IPT - LIPI, yang disampaikan oleh masing-masing ketua Tim Monev unit kerja yang bersangkutan. Akhir acara ditutup dengan sesi tanya jawab.
Published in
LIPI (Humas, 9 March 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) menyepakati untuk melakukan kerja sama pemanfaatan hasil riset menuju produksi massal.
Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Dr. Laksana Tri Handoko dengan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kemenhub RI Dr. Elly Adriani Sinaga di Kantor Kementerian Perhubungan RI, Jakarta, Senin (9/3).
Hadir dalam penandatanganan tersebut adalah Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan. Dirinya pun menyambut baik adanya kerja sama antara Kemenhub dengan LIPI sebagai lembaga riset.
“Kementerian Perhubungan menjadikan hasil lembaga riset seperti LIPI sebagai alat menentukan kebijakan selaku regulator transportasi,” jelas Jonan.
Pihaknya menegaskan hasil-hasil riset khususnya LIPI harus sudah melalui tahapan tes produk karena terkait keselamatan pengguna. “Implementasi tidak boleh digunakan sebagai kelinci percobaan,” tukasnya.
Ruang lingkup kerja sama ini sendiri meliputi pemanfaatan hasil penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta produksi dalam negeri. Selain itu, juga mencakup aspek sertifikasi dari hal tersebut. Kerja sama tersebut berlaku untuk jangka waktu tiga tahun setelah penandatanganan. (fz)
Published in
LIPI (23 February 2015)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan kunjungan media ke Harian KOMPAS pada Jumat (13/2) lalu. Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain dan diikuti oleh para jajaran pimpinan di bawahnya.
Tampak hadir mengikuti kunjungan adalah Sekretaris Utama LIPI Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Dr. Laksana Tri Handoko, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Prof. Dr. Bambang Subiyanto, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Prof. Dr. Aswatini, serta Plt. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr. Zainal Arifin. Selain itu, kunjungan diikuti pula oleh Kepala Biro Kerja sama, Hukum dan Humas LIPI Nur Tri Aries, MA.
Kunjungan ke KOMPAS sendiri diterima oleh Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi beserta jajaran pimpinan redaksi lainnya. Dalam kesempatan tersebut, Trias menyambut baik kehadiran Kepala LIPI beserta jajarannya.
"Kerja sama itu penting. Banyak penelitian LIPI yang belum terungkap dan terpublikasi. Apalagi bila hasil penelitian itu bermanfaat bagi masyarakat, kami siap bantu menyebarluaskannya asal LIPI siap dikontak dan siap diliput," ungkap Trias.
Kepala LIPI pun menyambut positif pernyataan Trias tersebut, apalagi KOMPAS sebagai surat kabar terbesar di Indonesia. "Hubungan dengan KOMPAS perlu di-maintenance dan bahkan lebih diperkuat lagi," tukas Iskandar.
Ia pun memaparkan tujuan kunjungan ke KOMPAS kali ini ada beberapa hal. Di antaranya, kerja sama antara LIPI dan KOMPAS yang selama ini sudah berjalan baik bisa lebih ditingkatkan lagi, bahkan komunikasinya bisa lebih bisa diintenskan lagi. "Kemudian, kami mengharapkan KOMPAS bisa menyebarkan dan memanfaatkan hasil penelitian LIPI, serta menjadi media partner kegiatan unggulan LIPI," tuturnya.
Tak hanya itu, Iskandar mengharapkan pula ada diskusi rutin antara LIPI dengan KOMPAS. Diskusi ini nantinya akan saling memberikan masukan terkait perkembangan iptek di Indonesia dan khususnya LIPI. (pw)
- Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuah Teknik LIPI)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, MA (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)
Siaran Pers ini sekaligus UNDANGAN bagi rekan media untuk menghadiri Konferensi Pers dengan Para Pemenang Ajang Intel ISEF 2015 pada Senin, 18 Mei 2015 di Aula Graha 1, Gedung A Lt.2, Kemendikbud, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta pada pukul 10.00 WIB.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengirimkan enam pemenang
Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tahun 2014 untuk mengikuti kompetisi
ilmiah bergengsi Intel International Science and Engineering
Fair (Intel ISEF) 2015 yang akan diadakan Pittsburgh, Amerika
Serikat pada 10-15 Mei 2015 mendatang.
- Dr. Laksana Tri Handoko (Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, MA (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)